Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Menyesal


__ADS_3

"Makasih yah De, kamu udah mau nemuin mama aku" ucap Boby menatap Dea yang duduk diam di samping nya. Dea tak menjawab, ia masih kepikiran dengan Bastian. Entah mengapa Dea merasa menyesal meninggalkan Bastian.


"Dea.... " panggil Boby pelan sembari memegang bahu Dea, membuat gadis itu tersentak dari lamunannya. Dea menatap keluar kaca mobil. Mereka sudah tiba di rumah besar Boby.


"Kita udah sampai? " tanya Dea.


"Iya Dea, sejak tadi kamu diam aja. Apa kamu masih ke kepikiran sama mahasiswa pindahan itu? " tanya Boby dengan nada kecewa.


"Gak kok, yuk turun. Aku udah gak sabar berjumpa dengan mama kamu" ucap Dea mengalihkan pembicaraan, keluar dari mobil Boby lebih dulu.


Boby menghela nafas berat, perasaannya mulai takut. Pria itu sangat takut jika Dea tidak memiliki rasa yang sama dengan nya.


'Kamu milik aku de. ' gumam Boby pelan, lalu menyusul dea yang sudah berdiri di depan mobilnya.


"Yuk masuk" Boby menggandeng jangan Dea ke dalam. Dea terlihat sedikit kaget, Boby tidak seperti biasanya.


"Ma!!! Boby pulang!! " teriak Boby ketika mereka tiba di tengah tengah rumah Boby, tebak dea mereka sedang berada di ruang tamu.


Dari atas sana, Seorang wanita paru bayar menuruni anak tangga. Wajahnya tampak segar, seperti nya wanita itu baru selesai mandi.


"Aduhhh Boby... kamu kok teriak teriak sih" Mata Saraini menatap seorang gadis yang sedang di gandeng putranya. Saraini meneliti dari ujung rambut hingga ujung kaki Dea, gadis itu sedikit risih dengan tatapan mama Boby.


"Ma, jangan seperti itu Dia tidak nyaman nanti" tegur Boby, saraini tersenyum lembut sembari terkekeh pelan.


"Maaf yah sayang, tante membuat mu tidak nyaman"


Dea tersenyum kikuk, dea meraih tangan Saraini, lalu mencium punggung tangannya.


"Dea Tante" ucap Dea memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Wahhh kamu sopan banget yah, salam kenal yah saya. Tante mamanya Boby" balas Saraini lembut. Mereka duduk di sofa, berbincang bincang ringan seputar kampus, karir, segala hal yang membuat Dea sedikit enjoy.


Meskipun sudah mengobrol atau segala macam, tetap aja Dea kepikiran dengan Bastian, apalagi tentang Bastian yang mengatakan akan kembali ke London.


"Nak Dea, pacaranya Boby? " tanya Saraini.


"uhuk uhuk" dea yang sedang meminum teh hangat buatan Saraini mendadak tersedak, untung tidak muncrat.


"Ng-"


"Iya ma" jawab Boby memotong ucapan Dea, Boby menggenggam tangan Dea, memaksa tetap menggenggam ketika Dea mencoba menepis nya.


"Wahh... bagus deh. Tante jadi lega Boby bisa memilih Wanita yang baik seperti kamu" ujar Saraini merasa lega, ia sudah sakit sakitan. Boby merupakan kekhawatiran yang paling besar bagi Saraini jika ia tidak ada esok.


"Hemm tante... " lirih Dea tidak enak hati, ia sangat ingin mengatakan jika dia dan Boby tidak pacaran.


"Kenapa sayang? " tanya Saraini menatap Dea dengan senyuman yang selalu mengembang, membuat gadis itu tidak tega melakukannya.


Dea melirik pada Boby, tatapannya penuh tanah dengan semua ini. Boby hanya tersenyum lebar membalas tatapan Dea.


Setelah sekitar 2 jaman di rumah Boby, akhir Boby mengantar Dea pulang. Di dalam mobil Dea masih seperti awal mereka pergi, dea lebih memilih untuk tetap diam, ia masih kesal dengan Boby.


"Dea.... apa kamu marah? " lirih Boby, namun gak ada sahutan dari Dea.


Cittttttt.......


Dea kaget, Boby menghentikan mobilnya mendadak, tubuh mereka terhuyung ke depan. Untung mereka memakai sabuk pengaman. Jika tidak, mungkin dea sudah terpental ke depan.


"Boby kamu apa apaan sih!! aku belum mau mati tahu" gerutu Dea panik.

__ADS_1


"Harusnya aku yang marah De. Sejak tadi kamu mengabaikan aku. Aku bingung sama kamu de" ucap Boby dengan nada datar.


"Kamu kenapa mengatakan kalau kita itu pacaran, padahal kan tidak" balas Dea. Ia sudah tidak tahan lagi, Dea harus mengklarifikasi semua ini dengan Boby.


"Kenapa Dea?? kamu tidak punya kekasih, apa salahnya kamu menjadi pacar aku. gak ada yang marah jika kamu bersama ku" ucap Boby membuat Dea tercekat, Boby terlihat semakin posesif.


"Bob, ini sudah di luar jalur pembicaraan kita waktu itu" tegas Dea.


"Aku mencintaimu Dea, apa salah aku mencoba mendapatkan kamu? " Boby meraih tangan Dea.


"Kita sudah lama bersama, aku yakin kamu pasti merasakan perasaan aku padamu"


Dea hanya dia saja, jauh di dalam lubuk hatinya ia menyesali telah menerima permintaan Boby.


"Aku akan antar kamu pulang" ucap Boby mengecup punggung tangan Dea, lalu kembali fokus ke jalan.


Dea, ada apa dengan dirinya. Dea tidak bisa berbuat apa apa, Boby terlalu berharap padanya. Di tambah lagi mama Boby yang sakit sakitan meminta Dea untuk menjaga Boby.


"Apa yang harus aku lakukan??... dasar bodoh! " maki Dea dalam hati untuk dirinya sendiri.


Mobil Boby tiba di depan rumah besar Dea. Tanpa berpamitan, Dea langsung turun dan masuk ke rumah nya tanpa menoleh.


"Maafin aku de... " lirih Boby menatap punggung Dea yang sudah berlari masuk ke dalam rumah. Setelah memastikan Dea masuk, Boby langsung menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Dea.


Ceklek..


Dea masuk ke dalam kamarnya, dahinya mengernyit. 'Kenapa lampu di kamar ku mati? ' pikir Dea.


Tap.

__ADS_1


Dea menghidupkan lampu kamarnya, seketika mata Dea membulat melihat pemandangan di dalam kamarnya.


...----------------...


__ADS_2