
"Zoya" panggil Azlan.
"Jangan mendekat!! " teriak Zoya pada Azlan yang tetap mendekatinya.
"Ada apa Zoya, kenapa loe marah sama gue? " Azlan tidak mengerti dengan perubahan sikap Zoya. Mata Azlan terbelalak ketika Zoya menunjukkan foto yang masih tersimpan di ponselnya.
"Gue terlalu bodoh percaya sama cowo kaya loe!!!! dasar bajingan!!! " teriak Zoya mendorong tubuh Azlan agar ia bisa pergi dari sana.
Zoya berlari cepat keluar dari perkarangan sekolah, persetan dengan tatapan murid murid lain yang menatap aneh padanya.
Sesekali Zoya menyapukan punggung tangannya untuk menghapus air mata yang mengaburkan pandangan.
"Zoya!!! " teriak Azlan mengejar Zoya yang terlalu cepat berlari.
"Stop!! pak!!! stop!! "teriak Zoya menghentikan taxi.
Zoya langsung masuk ke dalam taxi ketika sebuah taxi berhenti di depannya. Air matanya terus mengalir deras tanpa bisa di hentikan. Hatinya hancur, sakit, sangat sakit.
"Kemana neng? " tanya supir menatap Zoya dari spion.
"Jalan ajah dulu pak, nanti saya kasih tahu alamat nya" jawab Zoya yang di balas anggukan oleh pak supir taxi.
"Zoya!! tunggu!!! " Azlan berlari mengejar taxi yang mulai melaju, tangannya menggedor kaca taxi berharap Zoya mendengarkan nya laku menghentikan taxi itu. Namun harapan yang sia sia, Zoya malah menyuruh supir taxi untuk melajukan mobilnya.
"Zoya!! sayang, gue bisa jelasin. Zoya!!! "
"Zoya!!! " teriak Azlan terhenti, ia tak bisa mengimbangi taxi yang semakin melaju. Nafas Azlan terengah, pikirannya kalut.
"Maafin gue!! gue bisa jelasin! " teriak Azlan keras meski Zoya tak mungkin mendengarnya.
"Azlan! " panggil Mila dan nisa berlari mendekati Azlan, mereka kaget ketika melihat Zoya berlari sembari menangis, lalu di susul Azlan yang berteriak memanggil Zoya.
"Gue harus menyusul Zoya" lirih Azlan sembari mengatur nafasnya.
"Yah Zoya kenapa? apa yang terjadi? " tanya Mila khawatir.
"Nanti gue jelasin! " ucap Azlan berlari menuju parkiran meninggalkan Mila dan Nisa dengan 1000 pertanyaan.
"Ada apa sih? " gumam Nisa, mereka kembali masuk ke sekolah, banyak yang sedang berbisik bisik membicarakan Zoya.
"Heh!! gak usah ngegosip loe!! " tegur Nisa membuat segerombolan siswi yang membicarakan Zoya terdiam.
Zoya kembali ke rumah nya, gadis itu keluar dari taxi setelah membayar tagihannya.
__ADS_1
Zoya berjalan cepat masuk ke dalam rumah, kesepian kembali merasuk ke dalam hatinya. Zoya kembali terisak dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
"Non... Non Zoya!!!! " panggil bi Iyun kaget melihat nona mudanya pulang.
"Bi iyuuunnn"
Zoya berlari memeluk asisten rumah tangga yang selama ini sudah bersama nya.
"Non Zoya kenapa? heiii jangan menangis Non" Zoya terus menumpahkan air matanya di bahu bi Iyun.
Setelah beberapa menit Zoya menangis, akhirnya tangis Zoya pun mereda. Di lap nya air mata yang membasahi pipi.
"Non Zoya kenapa? cerita sama bibi, siapa tahu bibi bisa bantu" ucap bi Iyun lembut.
"Zoya laper bi, " cicit Zoya.
Bi Iyun tersenyum, lalu menuntun nona mudanya ke ruang makan. Bi Iyun yang baru saja kembali dari kampung membawa makanan yang Zoya sukai.
Bi Iyun membuka bungkusan yang berisi rendang.
"Nah non, bibi bawa ini untuk nona Zoya"
"Wahhh bi, ini super lezat" decak Zoya berbinar, gadis itu langsung mengambil piring menunggu bi Iyun menyendokan nasi dan rendang daging sapi.
"Non... " lirih bi Iyun.
"Nanti bi, aku akan cerita. Biarkan aku makan dulu" jawab Zoya cepat sebelum bi Iyun mengeluarkan pertanyaannya. Bi Iyun mengangguk mengerti, Zoya butuh waktu untuk menenangkan diri.
Sementara di luar sana Azlan kalang kabut mencari istri nya, pria itu melajukan mobil nya menuju apartemen. Ia berpikir jika Zoya pulang ke apartemen.
Sesampainya di apartemen Azlan langsung masuk ke kamar Zoya, memeriksa setiap barang Zoya yang masih rapi dan tidak berpindah dari tempatnya seperti semalam.
"Kemana dia pergi? " pikir Azlan, pria itu terlihat sangat kacau sekarang. Ia tidak mau kehilangannya Zoya dan calon bayi nya.
"Bun... mungkin Zoya pulang menemui bunda" ujar Azlan kembali berlari keluar, lalu menancap gas mobilnya menuju ke rumah Meika.
30 menit, akhirnya Azlan tiba di rumah besar milik keluarga Albysyam. Meika yang sedang menyiram bunga kaget melihat penampilan Azlan yang kacau keluar dari mobilnya.
"Eh Azlan, kamu kenapa? kok berantakan seperti ini? " komentar Meika menatap putranya dari atas hingga bawah.
"Bunda, Lihat Zoya pulang ke sini gak?? kasih tahu Azlan bun" desak Azlan menatap bundanya penuh harap.
"Maksud kamu apa? Zoya gak ada kesini sayang" jawab bunda Meika membuat ketakutan Azlan semakin mendalam.
__ADS_1
"Emang Zoya kemana? " sahut Raya, gadis itu keluar dari rumah ketika mendengar kegaduhan suara Azlan dan bundanya.
"Aku gak tahu, Zoya tiba-tiba pergi" lirih Azlan ambruk ke tanah.
"Loh Azlan, sayang ayo masuk dulu, kita bicara baik baik yah sayang" bujuk Meika memboyong Azlan masuk ke dalam rumah, di bantu juga oleh Raya yang terlihat kasian dengan adiknya.
Meika membawakan Azlan segelas air putih agar menjadi lebih tenang. Lalu mereka duduk di ruang keluarga untuk memperjelas apa permasalahan Azlan sebenarnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi? " tanya Meika, Raya hanya menatap adiknya tanpa bersuara.
"Azlan gak tahu bun, Azlan dapat pesan danmebyuruh Azlan ke atap sekolah. Tiba di sana Azlan sudah melihat Zoya menangis dan menatap Azlan dengan tatapan benci" jelas Azlan dengan nada ketakutan.
"Apa yang terjadi? " pikir Raya mencoba untuk mencerna permasalahan adiknya.
Azlan terdiam sejenak, kepalanya menunduk menatap jari jari kakinya yang terus bergerak.
Raya dan Meika saling pandang ketika mendengar hembusan nafas berat Azlan. Mereka sangat kasian melihat kerapuhan Azlan, tapi mereka juga tidak tahu harus melakukan apa, permasalahan yang Azlan hadapi tidak terpapar jelas.
"Bun" panggil Azlan tiba-tiba.
Meika menatap putranya bingung,
"Bunda tahu rumah baru mama Febi? " tanya Azlan menatap bundanya lekat.
"Alamat baru Febi? " ulang Meika tampak berpikir sebentar. Lalu wanita paru baya itu mengangguk pelan.
"Bagus, Zoya pasti pulang kesana" tebak Azlan kembali bersiap untuk pergi.
"Dimana bun? cepet Azlan pengen jemput Zoya ke sana" desak Azlan tidak sabari.
"Jalan ali mayor, blok 3 gang merpati" jawab Meika.
Azlan bergegas pergi meninggalkan rumah menuju ke alamat yang bunda nya berikan..
"Azlan gue ikut sama loe!! " teriak Raya, namun tidak di dengar oleh Azlan. Pria itu terus melaju tanpa menghiraukan apapun. yang ia tahu hanya bertemu bersama sang istri dan menjelaskan semuanya pada Zoya.
Kecepatan mobil Azlan di atas rata-rata, sehingga pria itu sampai tanpa hitungan jam.
Azlan menatap rumah besar yang menjulang mewah, sama seperti rumah Zoya sebelumnya. Rumah ini tetap terlihat sepi dan tak berpenghuni.
"Terkunci" gumam Azlan melihat pagar rumah Zoya tergembok.
"Zoya!!!! gue yakin loe di dalam!!! beri gue kesempatan untuk menjelaskan semuanya!!!! " teriak Azlan. Pria itu yakin jika istrinya ada di dalam rumah itu.
__ADS_1