Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Aku tidak mencari nya


__ADS_3

Sleessssssssss...... Brrrmm....


Nisa terkesiap, mobil Dea melaju masuk ke dalam perkarangan rumah.


Brakk~ terdengar hempasan pintu mobil kuat.


"Astaga, Dea. Kamu kenapa? " Dea bersidekap dada di depan bunda nya.


"Dea lagi kesal bunda"


"Kesal sama siapa sayang? " Nisa membawa putrinya masuk, duduk di ruang tengah.


"Sekarang, coba cerita"


Dea menghela nafas, agar tidak terlalu terbawa emosi ketika bercerita pada bundanya.


"Kemarin ada yang membuat mobil Dea tergores, pelakunya itu nyebelin banget bunda, Dea kesal!! "


"Lah kejadian kemarin kenapa sekarang marah nya? "


"Aduhh bunda, ternyata pria itu mahasiswa pindahan di kampus Dea" ucap Dea lagi, nafasnya mulai sesak.


"Pria? "


Dea dan Nisa menatap si empunya suara, seketika tatapan kedua wanita itu berubah dingin.


"Sayang, Dea lagi kesal. Jangan menambah kekesalan putri kita dong" tegur Nisa. Ali terkekeh mendengar nya.


"Maaf sayang, tapi.. apa pria itu tampan? " Ali duduk di samping Dea, sehingga kini gadis itu berada di antara kedua orang tua nya.


"Aku gak peduli ayah, mau tampan mau jelek. Dia tetap lah musuh Dea sekarang" tegas Dea.


"Wow... ayah jadi penasaran dengan pria itu" gumam Ali membuat Dea semakin kesal.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi gih. Kita mau ke rumah aunty Zoya. "


"Ngapain bunda? apa ada acara di sana? " Mata Dea berbinar, ia sudah sangat lama tidak ke sana. Biasanya berkumpul di rumah Zoya ketika ada acara atau sesuatu yang terjadi. Barulah Dea kesana, bukan berarti mereka jarang bertemu, tetapi mereka sering bertemu di cafe.


"Yaudah, Dea mandi dulu yah"


"Cieeee, ada yang pengen jumpa seseorang ni ye.. " goda Ali.


"Apaan sih Ayah" Dea meluncur cepat menuju kamarnya, lebih lama berada di dekat ayah nya, maka ia akan semakin kesal.


"Memangnya Dea ingin berjumpa dengan siapa? " Nisa malah jadi penasaran. Ali mengecup pelan bibir Nisa, lalu memeluknya.


"Ihh sayang, pertanyaan ku gak di jawab"


"Siapa lagi yang akan di jumpai Dea di rumah Zoya, kalau bukan Tian"


"Tian? " beo Nisa, bagaimana mungkin Dea ingin bertemu dengan Bastian, sementara mereka selama ini selalu bertengkar. Nisa menggeleng cepat.


"Tidak mungkin sayang, mereka adalah musuh abadi"

__ADS_1


"Astaga sayang, mereka sudah tidak berjumpa bertahun tahun. Apa menurut mu mereka akan sama? " Ali menaik turunkan alisnya.


"Benar juga,.. " gumam Nisa, hatinya masih meragukan itu. Ia yakin jika Dea dan Bastian pasti akan sama seperti dulu.


"Mari bertaruh, mereka akan sama atau akan Damai" tantang Nisa.


"Boleh, mari kita lihat nanti" Nisa dan Ali tersenyum misterius, suami istri itu memang tidak pernah berubah. Sama sama lola dan kacau.


*


*


"Bastian!!!! ayo sayang turun!! "


Zoya terus berteriak, dan mengomel. Bastian dan Azlan masih saja tidur. Hari sudah semakin sore, sebentar lagi teman temannya akan datang.


"Sayang!! " Zoya menggoyang goyangkan tubuh Azlan, membangunkan suaminya yang baru saja tertidur 10 menit yang lalu.


"Aduh sayang, aku baru tertidur 10 menit. Tadi malam juga aku begadang sayang"


"Gak sayang, kita gak punya waktu lagi" Zoya menarik tangan Azlan, mau tidak mau Azlan harus terbangun dan segera mandi. Pupus sudah harapan tidur nyenyak nya.


Sekarang giliran Bastian, Zoya membuka pintu kamar Bastian lebar lebar.


"Hei.. kebo, pulang kuliah malah ngebo" omel Zoya, ibu satu anak itu menarik seluruh selimut Bastian, lalu melemparnya jauh jauh.


"Momy.... Tian masih ngantuk momy"


"Gak sayang, kamu harus bangun"


Zoya berkacak pinggang, ayah dan anak ini sama sama pemalas Bagaimana mereka akan menjadi sukses jika tidur seperti ini. Yah meski itu pemikiran konyol, nyatanya mereka sudah sangat sukses.


"Dalam hitungan ke tiga, kamu tidak bangun, jantung salahkan momy mencabut semua fasilitas mu!!! " ancam Zoya, meskipun semua itu adalah harta putranya sendiri.


"Aduhhh, iya iya momy. ini Bastian udah bangun" Zoya pun tersenyum, Bastian sudah mulai berjalan menuju kamar mandi.


Zoya membereskan tempat tidur putranya, lalu turun ke bawah.


Azlan sudah stay di ruang tamu, menunggu kedatangan para anak buah.


"Sayang!!!! mari sini, mereka sudah datang" teriak Zoya.


"Zoya!!!! " mila dan Nisa berhamburan memeluk Zoya, Ali dan Agai menggeleng. Mereka bersikap Seola olah sudah terpisah jauh, padahal setiap hari bertemu.


"Lebay banget sih" gerutu Ali.


"Yeee sirik aja"


"Eh Calista mana? " Zoya menatap mereka semua, hanya calista yang tidak ada di sini.


"Katanya tadi agak terlambat"


"Oh yaudah mari masuk" ajak Zoya. Mereka pun masuk, ali dan Agai berlari dan bersorak ketika bertemu Azlan, mencoba meniru para istri mereka.

__ADS_1


"Azlan!! "


Bug!!!


plak!!


Brak!!


"Awh!!! sakit sayang" seru Azlan, Ali, Agai serempak. Mereka mendapat hadiah kasih sayang dari istri masing-masing karena sudah mengejek nya.


Para anak anak mereka hanya menatap bosan tingkah orang tuanya. Dea memutar bola matanya jengah.


"Kita yang masih kecil gak pernah tu kaya gitu" cibir Dani, putra bungsu Mila.


"Tau ih, mama papa aunty, uncle kaya anak ingusan" sahut Lalisa.


"Ihh anak kecil, kalian tahu apa? " balas Nisa.


Dea mengedarkan pandangannya, suasana rumah Zoya masih saja sama. Tidak ada yang berubah. Mata Dea bergerilya mencari sesuatu yang sebenarnya ia sangkal.


"Kamu cari Tian? dia ada tuh di kamar"


Dea terkesiap, langsung salah tingkah.


"Nggak kok aunty, aku gak cari dia"


"Udahlah, jangan malu malu. Aunty tahu kok" kekeh Mila. Nisa hanya mengulum senyum melihat salah tingkah Putrinya.


"Mari kak, aku ajak ke kamarnya kak Tian" Lalisa menarik tangan Dea, namun di tepis oleh Dea.


"Gak, aku gak mau. Siapa juga yang cari dia" Dea bangkit dari duduk nya, lalu pergi ke taman belakang rumah Zoya. Tempat ini selalu menjadi tempat Pavorit Dea.


Bastian turun, rumah nya sudah sangat ramai.


"Nah ini dia yang kita tunggu" sahut Mila.


Bastian tersenyum, menyalami semua yang ada di sana. Lalu duduk di samping Dani.


"Hei jagoan, apa kabar mu? "


"Seperti yang kamu lihat" balas Danil cuek, ia sedikit kesal pada Bastian.


"Kamu masih marah yah? " Danil tak menjawab, ia masih sangat kesal karena Bastian tidak menemuinya ketika pulang dari London.


"Dia masih marah, kamu tak kunjung menemui nya" jelas Mila. Bastian mengangguk paham, lalu menarik tangan bocah berumur 10 tahun itu.


"Mari kita jalan jalan" Dani langsung tersenyum, lalu bangkit dari duduknya.


"Tidak mau ajak Lalisa! " tegas Danil, lalisa baru saja hendak buka mulut dan ingin ikut.


"Yahh.... " Desah lalisa kesal.


Akhirnya mereka menghabiskan malam itu bersama, makin rame lagi ketika calista datang membawa pasukannya. Calista mempunyai 4 anak, Roni, Angle, Panji, Rica. Terbilang susun paku, Calista memberi jarak setiap anak 3 tahun.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2