Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Zoya masuk rumah sakit


__ADS_3

Azlan terbaring tidak sadarkan diri, setelah membentak Zoya yang tak kunjung bangkit dari kesedihannya Azlan menghabiskan waktunya minum minum di bar, pria itu tidak bisa memikirkan apapun lagi, ia sungguh merasa kacau.


Ketika suatu malam Azlan mabuk di bar, tanpa ia sadari seseorang memanfaatkan situasi ini.


Siska memapah Azlan keluar dari bar, lalu membawa Azlan pulang ke apartemen nya.


"Maafin gue Lan, tapi gue sangat mencintai loe" gumam Siska.


Mobil Azlan melaju membelah jalan, Entah apa yang Siska pikirkan hingga gadis itu melakukan hal ini.


tiba di apartemen Azlan yang entah dari mana Siska mengetahuinya, menggunakan jari jari Azlan untuk membuka kuncinya.


"Engggg" lenguh Azlan menggeliat ketika Siska membaringkan pria itu di atas ranjang.


Cukup lama gadis itu menatap Azlan, sudah lama ia memimpikan melihat wajah tampan Azlan dari dekat seperti saat ini.


Siska mulai membuka bajunya sendiri, lalu membuka baju Azlan dan hampir seluruhnya. Dengan sengaja gadis itu mengambil foto dirinya yang seperti di peluk oleh Azlan.


"I love you Azlan" Gumam Siska tersenyum. Lalu ikut memejamkan matanya sembari memeluk Azlan.


Ketika pagi menjelang, Siska bangun dulu. Gadis itu menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang nya. Terisak seolah olah Azlan melakukan sesuatu yang membuat gadis itu hancur.


"Siska! " lirih Azlan kaget, pria itu terlonjak kaget ketika mendapati dirinya tidak memakai apa apa.


"Gak, ini gak mungkin" Azlan mencoba mengingat apa yang telah ia lakukan tadi malam.


"Azlan... "


Tubuh Azlan semakin menegang mendengar suara yang sudah 3 hari tak ia dengar. Gadis cantik yang semakin kurus Itu berdiri di ambang pintu menatap Azlan nanar.


"Zoya" lirih Siska berakting.


"Sayang, gue bisa jelasin ini sama loe, ini gak seperti yang loe lihat" ucap Azlan berusaha meyakinkan Zoya. Namun apa yang akan Zoya percayai? pemandangan di matanya membuatnya kembali terhantam kerapuhan.


"Tega loe sama gue, gue benci sama loe" ucap Zoya dingin, gadis itu menahan menghapus air matanya kasar, ia tidak mau menangis karena lelaki brengsek seperti Azlan.


"Zoya!!! Zoya!!! " teriak Azlan lantang, pria itu memunguti baju bajunya yang berserakan di lantai, lalu memakainya cepat.


"Loe mau kemana? " cegat Siska yang langsung di tepis oleh Azlan, pria itu menatap Siska tajam.


"Pergi loe dari sini!!! " bentak Azlan, lalu berlari menyusul Zoya.

__ADS_1


Siska menatap ke pergian Azlan dengan senyum licik di bibirnya, dengan begini Azlan akan menjadi miliknya.


"Zoya tidak akan mengganggu kita lagi" Gumam Siska.


Zoya terus berjalan cepat, gadis itu sudah muak dengan Azlan. Muak dengan ucapan ucapan Azlan.


"Brengsek!! brengsek!!!!! " maki Zoya sembari berlari kecil agar langkahnya lebih cepat.


Tanpa Zoya sadari lantai yang ia lewati baru saja di pel. Lantai masih basah dan licin.


"Aa kkh!! " pekik Zoya, seketika tubuhnya melayang dan terhempas ke sudut dinding, perut Zoya mendarat terlebih dahulu.


"Akhh, perut gue" rintih Zoya kesakitan, jauh di ujung sana Zoya melihat Azlan berlari mendekat padanya dan Zoya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya terjadi karena kegelapan mulai menguasai Zoya.


"Zoya!!!! Zoya!! bangun!! " panggil Azlan. ia sangat kaget ketika melihat Zoya terpeleset hingga terjatuh.


"Hei kakinya berdarah" ujar orang orang yang berada di lobi apartemen, mereka menatap kasian pada wanita yang tengah hamil itu.


Azlan langsung mengangkat tubuh Zoya dan melarikan istrinya ke rumah sakit.


"Zoya sadarlah sayang, berilah" ucap Azlan sembari menggenggam tangan Zoya sembari mengikuti suster yang tengah mendorong brankar zoya.


Terdengar di sebrang sana terdengar meika mengangkat panggilan dari Azlan.


"Halo nak, apa kamu sudah bertemu dengan zoya? menantu bunda udah masuk sekolah" ucwp Meika senang. Azlan terdiam, ia mulai meragu memberitahu bundanya bahwa Zoya tengah di tangani oleh dokter.


"Bunda, Zoya, Zoya... "


"Zoya kenapa sayang? " tanya Meika panik, Azlan tak kunjung menyelesaikan kalimat nya.


"Zoya masuk rumah sakita bunda, sekarang Azlan berada di rumah sakit Annisa, bunda kesini sekarang yah"


Tak terdengar sahutan apa apa lagi, yang Azlan dengar hanya suara benda jatuh. Lalu terdengar langkah kaki bergerak cepat.


Azlan memutuskan panggilannya, ia yakin bunda menjatuhkan ponselnya karena panik.


Cekelk~ pintu ruangan di mana Zoya di tangani terbuka, menampakkan seorang dokter kekuar dari sana.


Azlan langsung menghampiri dokter dengan raut wajah panik, ia takut Zoya kenapa kenapa.


"Bagaimana kondisi istri saya dok? " tanya Azlan.

__ADS_1


"Maaf tuan, istri anda mengalami pendarahan, kandungan nya harus segera di operasi Jika tidak akan membahayakan nyawamu ist tanda" jelas Dokter.


Azlan mengangguk cepat, apapun yang akan di lakukan dokter yang terpenting Zoya selamat.


"Lakukan yang terbaik dok" mohon Azlan.


"Silakan selesaikan administrasi nya" titah dokter.


Azlan segera menuju ke bagian administrasi, menyelesaikan semua yang di butuhkan agar Zoya segera di selamat kan.


Azlan menandatangi surat persetujuan untuk di operasi nya Zoya, gadis itu langsung di bawa ke ruangan operasi. Azlan benar-benar tidak bisa tenang di buatnya. Mata Azlan menangkap sosok bunda nya dan ayah nya berjalan cepat menuju ke arahnya. Wajah mereka terlihat sangat panik. Mata Meika tampak basah karena air mata.


"Dimana Zoya? " tanya Meika.


"Zoya sedang di ruang operasi bun, " jawab Azlan lirih.


"Bagaimana ini bisa terjadi Azlan? "


Suara itu bukan dari Meika ataupun suaminya. Suara itu berasal dari suara Febi yang sudah pulang ke Indonesia, kedatangan nya bertepatan dengan Meika yang tengah terserah gesah ke luar dari rumah.


"Maaf ma, semua ini salah Azlan" sesal Azlan menyalahkan dirinya sendiri, memang semua ini salah dirinya yang tidak mampu melindungi keluarga nya.


"Kamu memang tidak becus menjaga putri ku" ucap Febi sinis. Ia sangat terkejut ketika mendengar kabar dari Meika bahwa putri masuk rumah sakit.


"Sudah Azlan diam! " cegah Ayahnya ketika Azlan hendak membela diri.


"Seperti nya kita harus bicara Meika, aku tidak bisa menitipkan putri ku pada anak mu" Febi menatap Azlan dingin, lalu beralih pada Meika.


"Setelah Zoya selesai di operasi kita akan membicarakan nya"


Febi mengangguk, lalu duduk di salah satu kursi tunggu. Wanita paru baya itu memang tidak berhak seperti ini, karena dirinya juga tak bisa melindungi Zoya. Namun Febi kali ini bertekat akan menjaga putrinya sendiri, tak akan membiarkan putrinya tersakiti lagi, sebagai penebus dosa yang selama ibu ia lakukan pada Zoya.


Saat yang di tunggu tungu, dokter keluar dari ruangan operasi. Mereka langsung berdiri menghampiri sang dokter.


Beberapa detik kemudian air muka mereka berubah ketika dokter menggeleng dan mengucapkan kata maaf.


...----------------...


apa yang terjadi?? apa Zoya tidak selamat????


author jadi bingung sendiri😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2