
Zoya tiba di dalam kelas dengan nafas yang tidak teratur, kening nya mengerut mendapati kelas masih belum terlalu ramai.
"Zoya! "
Merasa namanya di panggil Zoya pun berbalik, Siska berdiri di ambang pintu. Berjalan pelan dengan tatapan yang sulit di artikan. Gadis itu terlihat sangat kacau sekali, mata sembab, kurus dan bahkan penampilan Siska jauh dari kata rapi. Zoya sedikit bergidik melihat penampilan tan sekelasnya ini.
"Apa? " tanya Zoya yang masih berdiri di tempatnya.
"Apa yang loe lakuin sehingga Azlan bertekuk lutut sana loe" ucap Siska dengan nada dingin.
Zoya tak mengerti apa yang di maksud Siska, gadis itu malah mengabaikan pertanyaan Siska dengan mengangkat bahu acuh. Menurut Zoya pertanyaan Siska hanya membuang buang waktu karena yang ia pertanyaan kan bukan lah hal penting.
"Jawab gue!!!! " bentak Siska mulai terpancing, persetan dengan ancaman Azlan padanya waktu itu.
"loe pikir gue ngapain huh? jika Azlan tidak menyukai loe, harusnya loe ngaca dan memperbaiki diri, bukan melakukan hal konyol seperti ini" ucap Zoya santai namun penuh penekanan.
"Loe!!! " Siska hendak bergerak menyerang Zoya, namun gemuruh kedatangan teman teman nya yang lain menghentikan aksinya.
"Awas aja loe" tekan Siska berlalu ke mejanya.
"Huhh menyebalkan" gumam Zoya menghembuskan nafas gusar. Menjadi istri Azlan bukan lah hal yang muda.
"Hai cayank aku" sapa Nisa duduk di sebelah Zoya,
"Kok tumben anak kelas kita lama masuk, udah bel masih saja sepi" bingung Zoya.
"Oh ya ampun gue lupa, loe kan gak tahu" Nisa menepuk jidatnya, ia lupa memberitahu Zoya setiap sebelum masuk anak IPA 1 harus berkumpul ke perpus dulu.
"Lupa apa? "
"Setiap sebelum masuk kita harus ngumpul di perpus dulu, ini kebijakan dari bu Mindi. " a jelas Nisa. Zoya mengangguk paham, pantas saja Siska bisa menghadangnya tanpa rasa takut.
"Haaaaa capekk" teriak Mila, gadis itu baru saja tiba di kelas. Mila orang yang paling malas ke perpustakaan, selain letaknya yang jauh Mila juga sangat malas menaiki tangga.
"Jika di ijinkan, gue gak ikut ngumpul" lenguh Mila mengatur nafas.
"Itung itung olahraga mil" kekeh Nisa.
Pelajaran pun di mulai, Zoya tampak serius memperhatikan. Sesekali gadis itu terlihat menulis materi yang menurut nya penting.
Drrrtt Drrrttt
Ponsel Zoya bergetar mengalihkan fokus Zoya pada benda pipi itu.
__ADS_1
"Angga? " Gumam Zoya menatap nama Angga tertera di layar ponselnya.
klik
Zoya menolak panggilan itu, berharap angga mengerti jika Zoya sedang belajar.
cling~ pesan baru masuk.
"Ni bocah ngerti gue lagi belajar atau nggak sih" dumel Zoya geram merasa terganggu mendapat pesan dari Angga. Jari lentik Zoya dengan cepat memang uka pesan tersebut.
"Apa ini? " pikir Zoya melihat pesan yang Angga kirimkan berisi sebuah foto.
Di dalam foto tersebut tangan yang Zoya tahu itu tangan siapa sedang menerima kunci yang Zoya tidak tahu kunci apa.
"Zoya!! " panggil bu Mindi, namun Zoya tidak mendengarnya. Hingga Nisa menyikut gadis itu dan menyadarkan gadis itu dan menatap lurus ke depan.
"Kamu bisa fokus atau tidak Zoya!! jika tidak silakan keluar! " bentak bu Mindi.
Tak seperti biasanya, Zoya malah berdiri dan keluar dari kelas nya. Bu Mindi sempat kaget, ia tidak menduga Zoya benar-benar keluar dari kelas sesuai perintahnya.
"Eh Zoya" liri Nisa dan Mila bersamaan.
"Sudah sudah! kembali ke pelajaran" ucap bu Mindi kembali melanjutkan menjelaskan materi.
Langkah kaki gadis itu pun terdengar menggemaskan menaiki anak tangga.
"Angga! " panggil Zoya, gadis itu melangkah masuk ke atap sekolah mendekati Angga yang berdiri membelakangi nya.
"Gue pikir loe gak bakal peduli" lirih Angga.
"Maksud foto ini apa? " tanya Zoya tanpa NASA basi. Gadis itu menatap lekat pria yang ia pikir baik itu.
"Sabar Zoya, jangan terlalu terburu-buru" kata Angga sembari berbalik menatap Zoya dengan senyum miring di bibirnya.
"Gue gak ada waktu untuk berbelit belit Angga"
Angga tersenyum, pria itu memasukan ponselnya ke dalam saku baju depan. Berjalan lebih dekat dengan Zoya yang juga ikut mundur.
"Gue tahu kok, di dalam situ ada bayi" cibir Angga tersenyum getir. Wanita yang sangat ia cintai di ketahui mengandung anak dari saingannya.
Zoya tercekat, ia kaget Angga mengetahui rahasianya dan Azlan. jantung Zoya mulai berpacu cepat.
"Jangan asal bicara" sangkal Zoya merapikan switer nya agar menutupi perutnya yang tidak menunjukkan bahwa Zoya tengah hamil.
__ADS_1
"Tidak usah menyangkalnya, gue sudah selidiki semuanya Zoya"
Zoya terdiam, kepalanya menunduk menahan gejolak di dadanya. Nafas Zoya mulai tidak teratur.
"Lalu, jika semua itu benar, apa yang mau loe lakuin? " tutur Zoya menatap Angga datar.
"Mengapa Zoya!! mengapa semua ini terjadi!! gue yang selama ini mencintai loe tapi mengapa laki-laki itu yang loe Terima!! " teriak Angga, ia masih belum menerima kenyataan ini.
"Jika loe hanya ingin membicarakan ini gue rasa gue harus pergi"
Zoya berbalik, meski hatinya tidak tenang takut jika Angga menyebar ke semua orang berita ini. Namun apa lah yang akan Zoya lakukan, semua ini pasti akan terjadi, sekarang atau nanti.
"Tunggu Zoya! "panggil Angga lagi.
Zoya menghentikan langkahnya, melirik Angga tanpa menoleh.
" Azlan tidak mencintai loe!! "lirih Angga.
Zoya tak bereaksi, ia malah berbalik menatap Angga datar. " Jika loe melakukan semua ini hanya untuk memisahkan gue dan Azlan, semuanya akan sia-sia " lirih Zoya datar.
"Tidak, gue melakukan ini demi loe" balas Angga.
"Gue sudah menikah dengan nya angga, berhenti mengganggu gue dan Azlan! " bentak Zoya. Matanya mulai berair menahan emosi.
"Azlan melakukan semua itu karena taruhan Zoya!! sadar lah!! dia tidak mencintai loe!!!! "
"Apa? hahahaha loe jangan bercanda. " seketika Zoya tertawa mendengar ucapan konyol Angga, mana mungkin Azlan melakukan hal itu padanya. Sedangkan Azlan sangat mencintai nya.
"Gue kasih tahu sama loe yah Angga, mau loe sebarin atau gimana terserah loe. Tapi Gue gak akan percaya sama loe. Gue menikah memang karena kecelakaan, tapi bukan karena taruhan itu" kekeh Zoya merasa ucapan Angga sangat lucu.
"Terserah loe" ujar Angga, lalu kembali mengeluarkan ponselnya. Angga memberikan ponsel yang sudah terputar sebuah video di dalamnya.
Dahi Zoya mengerut, rahangnya tampak mengeras mencerna isi video itu.
"Gak, gak mungkin. Azlan gak mungkin melakukannya!!! " teriak Zoya melempar ponsel Angga ke lantai.
"Loe percaya atau tidak terserah, tapi itu gue rekam sendiri ketika mereka menyerahkan hadiah kepada Azlan." tutur Angga lagi.
Seketika itu Azlan tiba di sana, menatap Zoya yang sudah berlinang air mata.
"Zoya" lirih Azlan langsung mendekat pada Istrinya.
"Jangan mendekat!!! " teriak Zoya histeris, gadis itu menatap Azlan tajam penuh kebencian.
__ADS_1
Maaf yah, kayanya kita buat konflik dulu untuk Zoya dan Azlan, jika tidak Author tidak bisa mencapai ke akhir cerita nantinya. Bersabar yah sayang sayat aku. Nanti bakal nyatu lagi kok. kan hidup itu harus ada ujiannya, biar seru jalanin nya😁