Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
Pengakuan Azlan.


__ADS_3

Azlan berjalan santai memasuki rumah, tanpa ia ketahui mamanya sudah menunggu di depan pintu. Jam baru menunjukkan pukul 7 malam


"Azlan! " panggil Meika melipat tangan di depan dada. Wanita yang memakai dress abu abu itu menatap Azlan dingin.


"Ada apa Bun.. Azlan cape ni" ucap Azlan merenggang kan tubuhnya seola olah hari jnji adalah hari terberat bagi nya.


"Sini kamu" Meika berjalan menuju ruangan keluarga, rungan yang biasa di gunakan untuk perkumpulan keluarga atau sering juga di gunakan sebagai tempat persidangan bagi yang membuat ulah.


Azlan duduk di depan Meika, bersiap mendapatkan santapan rohani, sudah pasti itu.


"Membuat masalah lagi? " tanya Meika tak habis pikir dengan kelakuan Putra nya ini.


"Bunda sudah dapat suratnya kan? gak harus bertanya lagi" jawab Azlan santai.


"Kamu kenapa sih, selalu saja buat masalah. Bunda bosen datang ke sekolah kamu setiap minggunya" omel Meika.


"Biar ada kegiatan Bunda, gak mendok di rumah aja"


Terdengar helaan nafas panjang dari Meika. "Kalo ayah tahu setiap kenakalan kamu ini, ayah pasti cabut semua fasilitas kamu"


"Yah ayah gak bakalan tahu kalo Bunda gak bilang"


"Sejak kapan Bunda jadi pengadu? " ucap Meika, wanita itu tidak pernah menceritakan pada suaminya setiap kali dirinya mendapat surat panggilan dari sekolah, kecuali dari mulut Airaya yang mengadukan pada Ayah, atau mungkin kepala sekolah yang menghubungi Ayah nya secara langsung.


"Azlan boleh nanya?. " ucap pria remaja itu ragu, ia memutar otaknya untuk merangkai kata kata yang pas memberitahu bundanya yang sebenarnya.


"Nanya apa? "


"apa yang paling membuat Bunda kecewa dari Azlan? " tanya Azlan.


"Yah itu, melihat nilai mamu jelek, dan melihat pipi lebam kamu ketika berantem terus menerus dengan teman kamu" jawab Meika. Azlan sudah tahu bundanya akan menjawab hal ini.


"Selain dari itu, yang paling, membuat Bunda kecewa"


Meika tampak diam, mulai curiga dengan putranya yang mungkin telah melakukan sesuatu yang lebih dari ini.


"Memangnya ada apa?? "


"Kalau Bunda dapat cucu gimana? " tanya Azlan memejamkan matanya menunggu ceramah tujuh turunan dari Bundanya.


Meika tak merespon, ia terlihat biasa saja. Putranya kadang memang sering mengerjai nya.


Azlan membuka matanya, Bundanya tidak mengatakan apapun.


"Bunda kok gak jawab sih? " ucap Azlan kesal, bundanya pasti menganggap Azlan sedang bercanda.


"Kamu itu masih bau kencur, sok sok an ngomong cucu "


"Azlan serius Bundaaaa" Azlan beranjak pindah tempat duduk di samping bundanya.

__ADS_1


"Azlan hamilin anak orang Bunda" ucap Azlan mengaku.


"Kamu, Kamu serius Lan? gak bercanda? " tanya Meika memastikan Azlan bercanda atau tidak.


"Iya Bunda Azlan serius! "


"Siapa?? kapan?? kapan? " tanya Meika bertubi-tubi. Matanya mendelik nyaris copot, jantung Meika berpacu semakin cepat. Azlan tidak akan bercanda jika sudah seperti ini.


"Zoya bun, "


"Teman sekolah kamu yang pintar itu? " tanya Meika. Ia kenal dengan gadis itu karena Azlan selalu saja menceritakan kekesalannya pada Zoya, gadis yang menjadi musuhnya dan yang sering membuat masalah sehingga Azlan jadi sering terjebak di ruang BK, meski tidak pernah bertemu, Meika tahu Zoya adalah murid terpintar di sekolah anaknya.


Azlan mengangguk.


"Kok bisa?? kamu perkosa tu anak? " tuduh Meika.


"Enggak lah Bunda, Azlan gak secemen itu" jawab Azlan yang merasa tidak memperkosa Zoya, karena sejak awal Azlan tidak ada melakukan unsur paksaan.


"Trus bagaimana bisa Zoya hamil anak kamu? gadis baik baik kaya Zoya gak mungkin mau melakukan hal keji seperti ini" ucap Meika tak habis pikir.


"Trus sekarang gimana? " tanya Meika lagi.


"Azlan udah suruh Zoya gugurin, tapi dia nolak" jawab Azlan.


"Kamu gila??" maki Meika.


"Tapi Azlan gak mau putus sekolah bun" ucap Azlan.


"Laki-laki yang baik, adalah laki-laki yang sanggup bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan" ujar Meika.


"Yah trus gimana bun, Azlan gak mungkin putus sekolah. Masih banyak mimpi Azlan yang belum Azlan gapai"


"Kamu pikir, Zoya gadis pintar itu tidak memiliki mimpi?? Bunda yakin mimpi dia lebih besar dari kamu! " ceramah Meika.


"Trus gimana dong Bun? "


"Dimana rumah nya? " tanya Meika.


"Gang merpati jalan hang tua no.12D" Jawab Azlan.


Meika tampak berpikir, alamat itu sama persis dengan alamat rumah temannya yang sekarang sudah di sita.


"Tante.. " panggil Zoya yang baru saja memasuki ruang keluarga. Gadis itu hendak pamit ingin keluar sebentar.


"Loe! " kaget Azlan berdiri.


"Azlan.... jangan bilang... " ucap Meika menebak Zoya yang di maksud Azlan adalah Zoya anak temannya.


"Dia gadis itu Bun" ucap Azlan.

__ADS_1


Zoya yang tidak tahu apa apa menatap Azlan dan Meika bergantian, hingga Meika menarik Zoya lalu mendudukkan gadis itu di sofa.


"Sayang, kenapa gak bilang sejak awal? " tanya Meika lembut, ia tidak mau jika Zoya mengalami stres dan tekanan batin.


"Maksud tante? " tanya Zoya bingung.


"Bunda sudah tahu semuanya" lirih Azlan menjawab kebingungan Zoya. Gadis itu menunduk, ia merasa sangat malu ketahuan hamil oleh orang lain.


"Maaf tante" lirih Zoya pelan.


"Kamu tidak perlu memikirkan apapun, Bunda akan membicarakan ini pada mama kamu dan juga pada ayah nanti" ucap Meika menenangkan Zoya.


"Zoya tidak mau menggugurkan nya tante" lirih Zoya menggeleng, air matanya sudah membanjiri pipinya.


"Tidak sayang, kita tidak akan membunuhnya. Kamu tenang yah" bujuk Meika.


"Bagaimana jika papa marah Bun? " tanya Azlan khawatir.


"Bunda akan mengurusnya, kamu cukup menjaga Zoya dan calon bayi kalian" Jawab Meika memeluk Zoya pelan.


Azlan tak menjawab, lelaki itu hanya diam membisu.


Setelah pengakuan Azlan terhadap bundanya, ada sedikit nilai untuk lelaki itu karena berani mengakui kesalahan nya pada orang tuanya.


Zoya menatap langit langit kamar barunya, gadis itu tidak jadi keluar rumah Meika melarang nya untuk keluar malam. Ingin tidur, Zoya tidak bisa memejamkan matanya karena sendiri di kamar ini.


Tuk Tuk


Suara ketukan di pintu kamar Zoya membuyarkan lamunan gadis itu.


"Boleh gue masuk? " teriak Raya dari luar.


"Masuk lah" sahut Zoya, lalu memposisikan tubuhnya yang bermula berbaring menjadi duduk menjuntai.


Raya membuka pintu kamar Zoya yang memeng tidak terkunci. Gadis berambut panjang itu tersenyum menatap Zoya yang sebentar lagi akan menjadi ipar nya.


"Loe udah tidur? " tanya Raya.


Zoya menggeleng.


"Bunda udah cerita sama gue, tentang loe dan Azlan"


Zoya diam, tak ada respon dari dirinya. Gadis itu merasa malu, bahkan menatap mata Raya saja Zoya merasa tak sanggup.


"Tenang, loe gak usah malu sama gue. Karena gue yakin semua ini pasti bukan kesalahan loe" ucap Raya, seketika Zoya mendongak.


"Maksud kaka? "


Raya tersenyum, duduk di samping Zoya sembari memeluknya dari samping.

__ADS_1


"Adik gue itu sangat nakal, dan gue minta maaf karena Adek gue loe jadi menderita" lirih Raya.


...T E R I M A K A S I H...


__ADS_2