Mendadak Hamil

Mendadak Hamil
(SEASON II) Bastian & Caca


__ADS_3

"Bastian!!! " teriak Azlan memanggil putra nya yang sejak tadi menghilang.


Azlan berjalan menuju ruang tamu, di sana tidak ada orang.


"Kemana semua orang berada? " gumam Azlan.


"Sayang, ayo makan!!!!! " itu suara Zoya, dari arah ruang makan.


"Ah dasar bocah tengil, sejak dalam kandungan sudah membuat aku menderita" duel Azlan sembari berjalan menuju ruang makan.


"Hai, papa" sapa bocah imut dengan wajah tampa dosa.


"Lah, kamu di sini? papa cariin dari tadi juga" Azlan menarik kursi di sebelah istri nya. Bastian sungguh benar-benar menyebalkan.


"Jangan, cemberut sayang, nanti mulutnya keriting" tegur Zoya.


"Hihihi, papa merajuk karena tidak bisa menemukan aku momy" sahut Bastian menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.


"Dasar anak nakal, awas saja nanti" sungut Azlan menatap putranya sengit.


"Siapa takut, aku tidak takut sama papa yang lemah! " ledek Bastian.


"Sudah sudah, kalian jangan bertengkar" lerai Zoya, ia merasa pusing dengan tingkah anak dan ayah ini.


"Momy, nanti kita jadi ke rumah oma kan? " tanya Bastian menatap ibunya dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Tentu saja sayang, kita akan kesana 1 jam lagi"


"Yeeeeee, kita akan pergi ke rumah oma" sorak Bastian.


"eleh, ke rumah oma aja seneng" ledek Azlan.


Bastian menggeram, papanya benar-benar membuatnya kesal.

__ADS_1


"Malam ini momy tidur sama Bastian, gak boleh tidur sama papa" tegas Bastian. Meski usianya baru menginjak 4 tahun, tapi ucapan Bastian sudah sangat jelas dan bijak. Bahkan Azlan sering kalah telak oleh Bastian.


"Sudah sudah, ayo kita makan" tegur Zoya.


...----------------...


"Sayang, ambilin mama remot TV nya" ucap Raya lembut, bocah kecil itu beringsut mengambil remot TV nya.


"Wah pinternya anak mama"


"Iya dong, aku kan adek nya kak Bastian" bangga Caca. Putri dari Raya dan Anggi.


"Caca!!!!!! " terdengar suara nyaring dari luar. Balita cantik itu langsung berlari menuju pintu utama, ia sangat hafal suara siapa itu.


"Kak Bastian!!! " sorak caca.


"Aduhh ampun deh kalo udah jumpa" Azlan masih ingat ketika kakak adek itu bergabung, sasaran utama mereka adalah Anggi dan Azlan. Entah dendam dari mana mereka selalu saja mengganggu ayahnya.


"Aku Berpirasat buruk lan" ucap Anggi menatap Azlan yang juga merasakan hal yang sama.


"Aku rasa mereka sedang merencanakan hal buruk untuk kita" ujar Azlan melirik kedua bocah yang sedang berjalan ke arah mereka dengan senyum misterius.


"Papa!!! "


"Papa! " panggil keduanya secara bersamaan.


"Ada apa sayang? kenapa manggil papa? " suara lembut Zoya menghentikan langkah Bastian.


"Momy, aku mau main sama papa dulu yah"


"Iya aunty, kami berdua mau main" sahut Caca.


"Oke baiklah"

__ADS_1


"Mati lah kita Anggi... " Lirih Azlan.


"Aku mau kabur ah" Anggi melesat cepat keluar rumah.


"Papa!!! kalau papa gak kembali mama gak boleh tidur sama papa" ancam Caca.


"Huh? gawat ini" Anggi kembali masuk ke dalam rumah.


"Iya sayang, papa tadi cuma mau lari lari aja" cengir Anggi.


Raya dan Zoya hanya bisa menggeleng melihat tingkah suami dan anak mereka. Caca, meskipun dia anak perempuan, tingkahnya tidak jauh berbeda dengan Bastian.


"Papa, ayo main kuda kudaan"rengek Caca.


" Main tembak tembakan yuk!! " sahut Bastian pula.


"Huh?? " cengoh Azlan dan Anggi.


"Pum!!!! Pum!!! "


"Ayo kak, tembak papa Caca" teriak Caca. Bastian pun melepas tepung pada Anggi.


Perasaan Azlan tak pernah salah, jika Bastian dan Caca sudah bergabung. Begini jadinya.


"Hahahaha..... putih semua" tawa Ray dan Zoya meledak ketika melihat Anggi dan Azlan putih. Entah dapat dari mana tepung oleh Bastian dan Caca.


"Kalian tertawa?? puas kalian??? " dengus Azlan pada istri nya dan kakaknya. Mereka mendekati Zoya dan raya.


"Lari kak!!! " teriak Zoya berusaha menghindari suaminya.


"Hahah, mau kemana kalian? " ucap Anggi menirukan suara para penjahat.


"Momy, lari. Dia orang jahat. pum!! pum!! " Bastian melindungi momy nya yang di incar oleh Papa.

__ADS_1


__ADS_2