
Semenjak mengetahui jika adiknya menyukai adik sahabatnya, Kanaya menjadi ingin tersenyum mengejek jika bertemu dengan sang adik.
Sudah selama seminggu Kanaya berada di kota orang tuanya, dan memantau keadaan Gavin di sana.
Pagi itu Kanaya sudah berada di ruangan Gavin dan duduk di sofa yang ada di sana sambil terus menerus menatap wajah adiknya yang sedang fokus bekerja hingga membuat Gavin merasa tidak nyaman.
“Kak! Kamu punya masalah apa sih?! Jangan ngeliatin aku kayak gitu.” Ketus Gavin.
“Apaan sih Vin, harusnya kamu ini seneng kakaknya perhatian nemenin kamu di tempat yang membosankan ini.” Balas Kanaya.
“Tapi aku tidak! Kakak terus memberikan tatapan yang mencurigakan kepadaku.”
“Aku masih ga percaya aja kalo kamu suka sama Aneisha, perempuan yang selalu kamu ganggu dan kamu anggap sebagai adikmu sendiri.” Ucap Kanaya.
“Diamlah kak! Kamu ga kerja? Kamu ini pengangguran ya?” tanya Gavin.
“Dih enak aja! Aku ini ngambil cuti karena harus memantaumu di sini tau.” Jawab Kanaya.
“Pulanglah kak, aku lelah melihatmu di sini! Yang ada aku tidak bisa mengerjakan pekerjaanku di sini jika kamu terus di sini kak.” Ucap Gavin.
“Kapan lagi kamu akan melihatku Gavin, hari ini aku akan kembali ke Jakarta jadi kamu bisa tenang berada di sini tanpa aku!” ucap Kanaya.
“Benarkah? Kamu akan kembali hari ini? Baguslah, jadi aku bisa menyelesaikan tugasku dengan benar.” Ucap Gavin.
Kanaya yang mendengar ucapan adiknya itu benar-benar merasa kesal, Kanaya segera beranjak dari kursinya dan segera berjalan menuju pintu, namun sebelum dia membuka pintu ruangan adiknya, Kanaya kembali berbalik menatap wajah sang adik yang masih fokus bekerja dengan senyuman sinisnya.
“Oh iya, aku juga akan menitipkan salammu kepada Aneisha dan mengatakan kalau kamu menyukainya.” Ucap Kanaya yang langsung keluar dari ruangan adiknya dan kembali menutup pintunya dengan cepat.
Sedangkan Gavin yang mendengar ucapan sang kakak segera membuka kedua matanya dengan lebar karena baru tersadar jika kakaknya akan memberitahu Aneisha kalau dirinya menyukai Aneisha.
“Kak, kakak!!” teriak Gavin kepada Kanaya yang sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Gavin langsung mengacak-acak rambutnya karena frustasi mendengar ancaman dari kakaknya yang mengatakan kalau dia akan mengatakan kepada Aneisha jika dia menyukai Aneisha.
“Sial, bagaimana ini?” gumam Gavin sambil berfikir.
Sedangkan di luar ruangan Kanaya yang mendengar suara teriakan Gavin hanya bisa tertawa puas karena dia berhasil membuat adiknya kebingungan karena dirinya mengancam akan memberitahu perasaan adiknya kepada Aneisha.
***
Di sisi lain, Elvan yang sedang kebingungan karena memilih asisten baru hanya terus membaca resume dari pelamar yang sama sekali tidak ada yang cocok untuknya.
__ADS_1
Aneska yang tau kalau suaminya sedang kebingungan itu segera berjalan menghampirinya.
“Kamu kenapa mas, kayak orang bingung gitu sih?” tanya Aneska yang sudah berdiri di hadapan Elvan.
Elvan menoleh melihat wajah sang istri yang cantik berada di hadapannya membuat kebingungan di pikirannya seketika sirna karena wajah sang istri.
“Kemarilah, aku sedang bingung memilih asisten pribadi untuk menggantikan Daniel.” Ucap Elvan sambil menepuk kedua pahanya agar Aneska duduk di sana.
Aneska tersenyum lalu duduk di pangkuan sang suami, Elvan melingkarkan kedua tangannya di perut Aneska dan sesekali mencium kening sang istri.
“Kenapa kak Daniel? Apa dia tidak akan kembali kepadamu mas?” tanya Aneska.
“Evano masih membutuhkan orang yang mengenal perusahaan, jadi aku masih menyuruh Daniel untuk menjadi asisten pribadinya.. Asisten yang baru aku rekrut kemarin malah langsung cuti dalam dua bulan karena istrinya sedang sakit.” Jelas Elvan.
“Resume sebanyak ini ga ada yang cocok buat kamu mas?” tanya Aneska.
“Hem,, belum ada nih.. Tapi masih banyak lagi yang mendaftar secara langsung besok.” Ucap Elvan.
“Apa aku perlu ikut membantumu mewawancarai mereka?” tanya Aneska.
Aneska yang memang tidak pernah pergi ke perusahaan setelah mengandung tentu saja sangat senang saat suaminya mau mengajaknya ke perusahaan.
Tanpa berkata apapun lagi, Aneska segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan juga bersiap ke perusahaan.
Sedangkan Elvan yang melihat istrinya sangat antusias hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Setelah beberapa menit berada di kamar mandi, akhirnya Aneska keluar dengan pakaian yang sudah rapih dan terlihat cantik dengan perut buncitnya yang sudah terlihat sangat besar karena berisi tiga bayi di dalam perutnya itu.
“Ayo mas!!” ajak Aneska dengan semangat.
“Sabar sayang, aku juga harus mandi kan.” Balas Elvan.
Aneska yang baru sadar kalau suaminya belum mandi dan belum bersiap segera menganggukkan kepala dan menyruh Elvan untuk mandi.
“Kalo gitu mas Elvan siap-siap dulu sana, aku siapin sarapan dulu ya..” ucap Aneska.
“Taro tempat bekel aja ya kita makan di perusahaan.” Ucap Elvan yang di balas anggukan oleh Aneska.
Setelah Elvan masuk ke dalam kamar mandi, Aneska segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga, lalu tanpa sengaja Aneska berpapasan dengan Mala yang juga baru keluar dari kamarnya.
__ADS_1
“Pagi ma..” sapa Aneska saat melihat mertuanya.
“Pagi juga sayang…” balas Mala.
Setelah menyapa Aneska, seketika Mala mengerutkan keningnya dan melihat penampilan Aneska dari atas ke bawah dan ke atas lagi.
“Kamu kok rapih banget, mau kemana?” tanya Mala.
“Mau ikut mas Elvan ma ke perusahaan.” Jawab Aneska dengan senyum yang mengembang di wajah.
“Apa!? Ke perusahaan? Kamu sudah mau melahirkan Nes, kenapa kamu bekerja?” tanya Mala dengan wajah yang khawatir.
“Yaampun ma, Anes ke perusahaan bukan buat bekerja kok, Anes cuma nemenin mas Elvan milih asisten untuk mengganti asistennya yang kemarin.” Jelas Aneska.
“Hah,,, dia kesusahan juga kan tanpa Daniel? Lagian sok-sokan nyerahin Daniel buat Evano, sekarang dia yang kesusahan nyari asisten baru.” Ucap Mala.
“Mas Elvan terlalu sayang sama Evano ma, dia takut Evano kesulitan jadi menyuruh kak Daniel yang sudah berpengalaman mendampingi Evano.” Jelas Aneska kembali.
Mala hanya menaikkan kedua bahunya lalu menggandeng menantu kesayangannya dan membantunya untuk berjalan menuruni tangga.
“Yaampun mama kebiasaan deh, padahal Anesk bisa turun tangga sendiri loh… Di pegangin gini udah kayak mau nyebrang aja deh..” protes Aneska.
“Jangan protes! Mama ga mau kamu dan cucu-cucu mama sampai jatuh!” tegas Mala.
Aneska hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan mertuanya, selama hamil seluruh anggota di rumah keluarga Bagaskara menjadikan Aneska layaknya ratu dan membuat Aneska sedikit tidak nyaman.
Namun mau bagaimana lagi, berkali-kali pun Aneska protes tentang perlakuan mereka, tidak ada yang menggubrisnya dan tetap melayani Aneska dengan sangat hati-hati.
Sesampainya di dapur, Aneska segera berjalan menuju lemari untuk mengambil tempat bekal, namun dengan sigap pelayang di rumah tersebut segera memegang tangan Aneska yang sudah memegang gagang pintu lemari.
“Nona mau apa?” tanya pelayan tersebut sambil menggenggam tangan Aneska hingga membuatnya terkejut.
“Eh? Ngagetin aja sih bi,, aku mau ngambil tempat bekal buat mas Elvan dan aku.” Jawab Aneska.
“Biar aku saja nona, sebaiknya nona duduk saja ya.” Ucap pelayan tersebut.
“Tapi…”
“Maaf nona, tapi nyonya bilang tidak menerima bantahan nona Aneska.” Sahut pelayan tersebut sebelum mendengar ucapan Aneska.
Lagi-lagi Aneska tidak bisa membantah dan hanya bisa menuruti semua ucapan semua orang yang ada di rumah mertuanya itu.
__ADS_1