
Beberapa orang datang ke dalam hidup kita sebagai berkah, sementara yang lain datang ke dalam hidup kita sebagai pelajaran, jadi cintai mereka apa adanya alih-alih menilai mereka apa adanya.
Aneisha sedang berdiri di sebrang perusahaan Elvan, dia sangat ingin memberikan kejutan kepada Elvan dan Aneska karena dirinya juga sedang tidak ada kuliah karena dosen mata kuliah hari ini sedang pergi ke luar kota.
Gavin sebenarnya sudah menyuruh Aneisha untuk menunggu dirinya selesai kuliah karena dia akan mengantar Aneisha sampai ke perusahaan Elvan namun Aneisha menolaknya karena dia tidak mau merepotkan Gavin.
“*Kak Elvan sama kak Aneska pasti sangat terkejut melihatku*.” Gumam Aneisha dengan senyum yang mengembang di wajahnya dengan membawa minuman dingin di tangannya untuk kedua kakaknya itu.
Namun saat Aneisha ingin menyebrang, tiba-tiba saja ada mobil yang baru saja keluar dari perusahaan Elvan dan menyerempet Aneisha yang membuat minuman yang di pegangnya jatuh dan berceceran ke mana-mana.
“Aaaa..” teriak Aneisha yang terjatuh dengan posisi duduk sambil memegangi kakinya.
Sang supir mobil tersebut langsung keluar dari mobil dan melihat keadaan Aneisha yang terlihat kesakitan.
“Anda tidak apa-apa nona?” tanya supir tersebut.
“Tidak apa-apa bagaimana! Ga lihat apa tangan sama kaki saya udah lecet semua gini?” ketus Aneisha kepada sang supir yang terlihat masih muda.
“Saya akan memberikan uang pengobatan untuk anda nona.” Ucap sang supir.
“Aku tidak mau uang pengobatan, seharusnya kalian ini membawa korban ke rumah sakit terdekat bukannya malah memberinya uang, tidak semuanya bisa di bayar dengan uang.” Ucap Aneisha.
Tidak lama kemudian, seseorang yang tampan turun dari mobil mewahnya itu dan menghampiri Aneisha untuk melihat keadaannya.
“Ada apa ini Jak?” tanya Kevin kepada Jaka, supir pribadinya.
“Ini tuan, nona ini tangan dan kakinya lecet semua. Saya sudah menawarkan untuk memberi nona ini biaya pengobatan tapi malah dia ingin kita mengantarnya ke rumah sakit tuan.” Jelas supir tersebut kepada Kevin.
“Apa anda ingin saya mengantar anda ke rumah sakit?” tanya Kevin kepada Aneisha.
Aneisha menaikkan pandangannya untuk melihat orang yang berbicara kepadanya, dia terdiam sesaat karena melihat ketampanan seorang Kevin.
“Supir kakak ingin memberi aku uang, tapi aku hanya ingin di antar ke rumah sakit untuk mengobati lukaku.” Ucap Aneisha.
“Baiklah aku akan mengantarmu ke rumah sakit dan membayar biaya pengobatanmu.” Ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum kepada Aneisha.
“*Yaallah ganteng sekali orang ini*..” gumam Aneisha di dalam hatinya sambil menggenggam uluran tangan Kevin lalu berdiri dengan tatapan yang masih memandangi wajah tampan Kevin.
__ADS_1
Kevin membukakan pintu mobil dan menyuruh Aneisha untuk masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Aneisha tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kevin.
Di dalam mobil, Aneisha hanya terdiam menahan perih di kaki dan tangannya karena dia tidak mau orang yang ada di sebelahnya risih mendengar keluhannya.
“Kalau sakit jangan di tahan.” Ucap Kevi tiba-tiba hingga membuat Aneisha terkejut.
“*Bagaimana dia bisa membaca isi kepalaku? Hebat sekali*.” gumam Aneisha di dalam hatinya.
“Siapa namamu?” tanya Kevin lagi.
“Aneisha.” Jawabnya.
“*Aneisha, Aneska? Kenapa nama mereka hampir sama? Tidak mungkin bukan mereka memiliki hubungan? Mungkin hanya kebetulan saja*.” gumam Kevin di dalam hatinya.
“Aku Kevin.” Ucap Kevin.
“Ah kak Kevin, salam kenal maaf aku merepotkan kakak.” Ucap Aneisha.
“Tidak apa-apa, kamu memang tadi mau ke mana?” tanya Kevin.
“Kamu punya kenalan di sana?” tanya Kevin.
“Aku punya dua kakak di sana, kakak laki-lakiku yang menjadi CEO di perusahaan itu dan kakak perempuanku yang menjadi sekretaris di perusahaan itu.” Jelas Aneisha yang membuat Kevin menatap Aneisha karena terkejut.
“*Jadi Elvan dan Aneska adik kakak? Pantas saja sepertinya Aneska sangat santai berbicara dengan Elvan*.” Batin Kevin.
“Kak Kevin? Kenapa kakak melihatku seperti itu? Jangan-jangan kakak ga percaya ya aku bilang begitu? Kakak menganggap aku bohong ya?” tanya Aneisha yang membuyarkan lamunan Kevin.
“Ah tidak, aku baru saja habis dari perusahaan itu dan bertemu dengan CEO sekaligus Sekretaris di sana.” Ucap Kevin.
“Benarkah? wah jadi kak Kevin sudah bertemu dengan kedua kakakku? Apa kak Kevin mau aku kenalkan dengan kakak perempuanku? Dia itu sangat baik loh dia juga ramah kepada siapapun.” Ucap Aneisha yang membanggakan kakak perempuannya.
“*Huh apanya yang ramah? Tadi aja dia jutek begitu kayak nenek lampir*.” Gumam Kevin yang masih bisa di dengar sedikit oleh Aneisha.
“Ha? kak Kevin ngomong apa?” tanya Aneisha.
“Tidak, tidak ada. Kamu sebaiknya menghubungi kakakmu dan suruh dia menjemputmu ke rumah sakit karena aku tidak bisa menunggumu sampai kamu pulang, aku juga akan ada pertemuan dengan klient di perusahaanku.” Jelas Kevin.
__ADS_1
“Baiklah kak, setidaknya kak Kevin mau menemaniku sampai kakakku menjemputku.” Ucap Aneisha yang di balas senyuman oleh Kevin.
“*Aku benar bukan Aneska, kita akan bertemu lagi*.” Batin Kevin dengan senyuman penuh arti.
Aneska pergi ke rumah sakit menggunakan taxi, sesampainya di depan rumah sakit yang sudah di beritau oleh adiknya Aneska segera berlari ke dalam dan menanyakan ruangan Aneisha kepada receptionist rumah sakit tersebut.
“Permisi, pasien atas nama Aneisha ada di ruang mana ya?” tanya Aneska.
“Di ruang VVIP nomer 5 nona, ruangannya ada di lantai 4 anda bisa naik lift di sebelah kanan anda.” ucap receptionist tersebut.
“Baiklah terimakasih ya.” ucap Aneska yang langsung berlari menuju lift.
“Ruang VVIP? Kenapa harus di VVIP?” gumam Aneska yang sudah masuk ke dalam lift.
Sesampainya di lantai 4 Aneska segera berlari menuju kamar nomer 5, dia langsung membuka pintu ruangan Aneisha dan langsung berlari memeluk adik kesayangannya itu.
“Kamu ini kenapa selalu membuatku khawatir! Apa kamu memang senang membuatku khawatir hah!” teriak Aneska.
“Kak, jangan teriak-teriak dong yang anggun dikit napa malu di denger orang.” Bisik Aneisha.
“Aku tidak perduli! Saat ini aku benar-benar ingin memukulmu Aneisha! Kamu ini memang tidak pernah membuat hidupku tenang!” ucap Aneska.
“Orang sakit jangan di marahin, ntar makin parah.” Ucap Kevin yang ternyata ada di ruangan itu juga.
Aneska yang mendengar suara laki-laki di dalam ruangan itu langsung menoleh ke arahnya dan membulatkan kedua matanya melihat laki-laki yang ada di hadapannya.
“Aduh, kenapa sih kak Aneska ini malah membuat kesan pertamanya hancur karena teriak-teriak begitu.” Gumam Aneisha di dalam hati.
“Kau!” ucap Aneska yang terkejut sambil menunjuk Kevin.
“Kak Anes kok ga sopan sih nunjuk orang kayak gitu?” tanya Aneisha.
“Dia yang sudah menabrakmu?” tanya Aneska kepada adiknya.
Aneisha hanya menganggukkan kepalanya pelan karena bingung melihat ekspresi kakaknya yang seperti tidak menyukai Kevin.
“Ayo segera bersiap, aku akan pergi ke receptionist untuk memulangkanmu.” Ucap Aneska yang langsung berjalan ke luar kamar.
Kevin yang melihat kepergian Aneska langsung berlari mengikutinya dan menarik tangan Aneska hingga membuat langkahnya terhenti.
“Kenapa kamu sangat membenciku?” tanya Kevin.
“Aku tidak membencimu, hanya saja aku tidak suka laki-laki yang mudah akrab dengan wanita yang baru di kenal seperti dirimu!” ketus Aneska.
“Aku seperti ini karena ingin bertanggung jawab karena sudah menabrak adikmu.”
“Lepaskan aku, aku tidak ingin berdebat di sini!”
Akhirnya Kevin melepaskan genggaman tangan Aneska karena takut jika dirinya akan melukai Aneska.
“Sebenarnya apa maumu?” tanya Aneska.
“Aku hanya ingin mengenalmu.”
“Aku tidak mau!”
“Kalau begitu aku tidak akan membiarkan adikmu keluar dari rumah sakit.”
“Aku akan membayar semua biaya pengobatan dan ruangan adikku!”
“Rumah sakit ini milikku Aneska, walaupun kamu memberikan semua hartamu kepadaku aku tetap tidak akan mengeluarkan adikmu dari rumah sakit ini.” ucap Kevin dengan senyum liciknya.
“arrgghh!! Kamu ini sebenarnya mau apa sih!”
“Aku ingin makan malam denganmu, sekali saja aku hanya ingin membuktikan kepadamu kalau aku bukan laki-laki yang seperti kamu fikirkan.” Ucap Kevin.
Aneska berfikir berulang kali, dia tidak mau meminta bantuan Elvan karena tidak mau menambah masalah untuk Elvan yang sedang sibuk mengurusi perusahaannya.
“Baiklah, kau atur saja kapan dan dimana kita akan bertemu. Ini kartu namaku, di sana ada nomer yang bisa kau hubungi!” ketus Aneska sambil memberikan kartu nama miliknya dan kembali ke dalam ruangan Aneisha.
__ADS_1
Kevin hanya diam melihat Aneska kembali ke ruangan adiknya dengan wajah yang kesal, dan dia tersenyum sambil melihat ke arah kartu nama Aneska yang sedang di pegangnya.