
“Nei? Kamu kenapa diem aja?” tanya Gavin sambil melambaikan tangannya di depan wajah Aneisha.
“Eh, hah? Apaan sih kak ga usah sok baik ya, aku ini masih belum memaafkan kak Gavin dan juga kak Naya!” ketus Aneisha dengan nada marahnya.
Walaupun Aneisha sedang marah kepadanya, namun Gavin merasa Aneisha sangat menggemaskan dan juga membuatnya tersenyum kepada Aneisha.
“Kamu senyum kak? Senyum?” tanya Aneisha yang kesal karena Gavin malah tersenyum kepadanya.
“Kamu masih tetap menggemaskan seperti dulu Nei walaupun kamu sudah menjadi artis terkenal saat ini” ucap Gavin.
“Apaan sih kak, udahlah awas jangan menghalangi jalanku karena aku mau ke kantin!” ketus Aneisha.
Gavin hanya tersenyum sambil menoleh ke kanan dan ke kiri melihat jalan yang masih luas untuk Aneisha dan Gavin lewat secara bersamaan.
“Kalo mau lewat ya lewat aja Nei, aku ga ngalangin kok kan jalannya masih lega.” Ucap Gavin.
Aneisha yang mendengar ucapan Gavin langsung menoleh ke kanan dan ke kiri lalu seketika Aneisha merasa sangat malu karena hal itu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Aneisha segera berjalan cepat melewati Gavin dan tidak menoleh ke arahnya sama sekali.
Sedangkan Gavin hanya membiarkan Aneisha pergi meninggalkannya karena dia mau memberi waktu untuk Aneisha bisa memaafkan dirinya yang sudah menghilang tanpa kabar itu.
Sedangkan di tempat yang tidak jauh dari tempat Gavin dan Aneisha bertemu tadi, ada seseorang yang sedang menatap keduanya dengan senyum yang terpaksa.
Yap, orang itu adalah Jody yang datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar kalau Aneska akan segera melahirkan, namun langkahnya terhenti saat melihat Aneisha bertemu dengan Gavin, orang yang selalu mengisi
hati Aneisha bahkan saat tidak berada di dekatnya.
“Dia kembali? Kenapa? Di saat aku dan Aneisha mulai berteman dia datang dan aku yakin kalau dia akan merebut Aneisha kembali dariku.” Gumam Jody sambil menatap sendu keduanya.
Namun saat melihat Aneisha pergi meninggalkan Gavin, Jody segera berlari mengikuti Aneisha ke kantin rumah sakit.
Sepanjang jalan, Aneisha terus saja menggerutu tidak jelas membuat Jody yang sedikit mendengar gerutuan Aneisha tersenyum karenanya.
“Jangan marah-marah mulu ntar cepet tua loh!” ucap Jody dari belakang.
Aneisha yang mendengarnya langsung berhenti dan tersenyum karena mengira Gavin mengikutinya karena merasa bersalah, namun saat berbalik senyum di wajah Aneisha seketika menghilang.
__ADS_1
“Kak Jody?” tanya Aneisha dengan wajah terkejut.
“Kok kaget begitu sih, perasaan tadi senyum deh.. Kamu berharap orang lain yang ngejar kamu?” tanya Jody.
“Hah? Apaan sih kak, siapa yang aku harapin ngejar aku? Jangan ngaco deh!” ketus Aneisha yang langsung berbalik dan kembali berjalan.
“Masa sih, masa sih, aku tadi liat Gavin loh di sini kamu ga ketemu dia?” tanya Jody yang pura-pura tidak mengetahui pertemuan antara Aneisha dan Gavin tadi.
“Ketemu, tapi ya bodo amat! Dia kan udah pergi ga ada kabar jadi aku udah ga perduli lagi!” ketus Aneisha.
“Kamu ga menyukainya lagi?” tanya Jody yang membuat Aneisha berhenti sebentar lalu kembali berjalan.
“Kak Jody ngapain di sini?” tanya Aneisha mengalihkan pembicaraan.
Jody yang tau kalau Aneisha tidak mau membahas tentang Gavin langsung mengerti dan tidak membahasnya lagi.
“Aku denger dari papaku kalo kak Anes masuk rumah sakit dan aku mau melihatnya.” Jelas Jody.
“Oh begitu, terus kenapa malah ngikutin aku?”
“Karena aku tadi pas masuk ngeliat kamu jalan ke kantin jadi aku ikut deh, lagian aku ga tau kak Anes di ruangan apa, tadinya aku mau telfon kamu tapi udah ketemu duluan.” Jelas Jody.
“Kak, kakak mau makan juga?” tanya Aneisha kepada Jody yang menunggu di belakangnya.
“Iya deh, aku roti sama teh hangat ya Nei.. Ini uangnya.” Ucap Jody sambil memberikan selembar uang seratus ribuan.
“No! Aku udah punya gaji sekarang jadi aku yang akan membayar makan dan minum kak Jody.” Ucap Aneisha menolak.
“Yah tau gitu tadi aku pesen yang paling mahal deh.” Ucap Jody menggoda Aneisha.
“Ye, jangan yang paling mahal juga kali!” ketus Aneisha.
“Hahaha, ye dasar artis pelit!” balas Jody.
“Dih, yang di traktir lebih banyak duitnya masa mau yang mahal.” Balas Aneisha lagi.
Ya begitulah Aneisha dan Jody jika bertemu, keduanya sama-sama akan memulai perdebatan yang berawal dari hal sepele dan keduanya tidak ada yang mau mengalah sebelum salah satunya sudah lelah.
__ADS_1
Setelah berdebat lama, akhirnya Aneisha dan Jody berhenti karena mbak kasir yang memanggil Aneisha dan memberikan pesanannya.
Barulah keduanya terdiam dan akhirnya berjalan kembali ke ruang operasi bersama-sama.
Di depan ruang operasi, semuanya masih dalam keadaan tegang karena operasi Aneisha yang belum selesai. Aneisha juga melihat Gavin, Kanaya dan juga Alisa di sana.
Jody bersalaman kepada semua orang yang ada di sana, namun Aneisha hanya menatap Gavin dengan sinis dan berjalan ke tempat papa dan mamanya duduk.
“Nih ma, pa, makan dulu ya biar keisi perutnya.” Ucap Aneisha sambil memberikan makanan dan minuman yang ada di tangannya.
“Loh, kamu ga beliin buat Gavin, Kanaya sama Alisa?” tanya Aneisha.
“Aku ga tau kalo ada mereka, lagian mereka bisa nyuruh Alisa juga ke kantin kalo emang laper, Anei capek.” Ucap Aneisha yang langsung menghampiri kakak iparnya.
“Kak Elvan, ini di makan ya kak, kakak harus kuat biar kak Anes juga kuat di dalam.” Ucap Aneisha.
Elvan yang awalnya tidak mau mengambil makanan dan minuman dari Aneisha langsung tersenyum dan mengambil makanan tersebut.
Tiba-tiba saja Evano dan juga Daniel berlarian menuju rumah sakit setelah mendengar kabar tentang Aneska.
Sesampainya di depan ruang operasi, Evano terdiam sambil menoleh ke kiri melihat keluarganya lalu kepalanya menoleh ke kanan dan terpaku di sana saat melihat Kanaya yang ada di hadapannya.
Saat pergi, Kanaya juga tidak memberitahu Evano, Evano mengetahui kepergian Kanaya dari Aneska yang di beri kabar saat mereka semua sudah pergi begitu saja.
“K-Kanaya? Kamu kenapa ada di sini? Kemana saja kamu selama ini?!” tanya Evano dengan nada yang terlihat menahan amarah.
“Ini rumah sakit Evano, kita bahas setelah Aneska selesai operasi dan baik-baik saja.” Ucap Kanaya.
Evano yang mendengar ucapan Kanaya langsung terdiam dan mengingat tujuannya datang ke rumah sakit.
Tidak lama kemudian, setelah ketegangan dan kecanggungan yang ada di sana, dokter yang mengoperasi Aneska keluar dari ruang operasi.
Semua orang yang melihat dokter tersebut langsung berdiri dan menghampirinya untuk bertanya tentang keadaan Aneska.
“Dok, gimana keadaan istriku!?” tanya Elvan yang tidak sabar.
“Ibu dan ketiga bayinya baik-baik saja tuan, anggota tubuhnya juga sempurna, bayi pertama berjenis kelamin laki-laki, bayi kedua juga laki-laki, dan yang ketiga berjenis kelamin perempuan.” Jelas dokter tersebut.
__ADS_1
“Tapi semuanya baik-baik saja kan dok? Apa ada sesuatu karena lahirnya yang tidak sesuai waktunya?” tanya Mala.
“Tidak ada masalah nyonya, tapi bayi-bayinya harus berada di incubator karena bobot tubuhnya yang kurang, terutama si adiknya, tapi mudah-mudahan tidak ada masalah kedepannya.” Jelas dokter tersebut.