
Di rumah keluarga Bagaskara, semua orang masih menunggu kabar keadaan Aneska di luar kamar dengan khawatir, mami Mala mondar mandir di depan kamar Aneska membuat yang lainnya pusing melihatnya.
"Mami, bisakah mami diam? Jangan mondar mandir begitu, Elvan jadi ukuran pusing nih." ucap Elvan.
"Iya sayang anakmu benar, kami semakin pusing melihatmu panik begitu." sambung suaminya.
"Mami khawatir dengan keadaan Aneska, kalian emang ga khawatir?"
"Kami juga khawatir mi, tapikan kalau mami begitu kita malah makin panik." Ucap Elvan.
"Kenapa Jerry lama sekali? Apa jangan-jangan Aneska kenapa-kenapa?" Tanya Mala.
"Sayang! Kamu jangan bilang begitu, Aneska baik-baik saja." ucap Bagas.
Tidak lama kemudian Jerry keluar dari kamar Aneska, semua orang yang melihat Jerry segera berkumpul mendekatinya.
"Bagaimana Jer? Bagaimana keadaan Aneska?" Tanya Elvan.
"Dia sudah baik-baik saja sekarang, aku sudah menyuntikkan obat tidur kepadanya agar dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi, aku harap setelah ini dia akan baik-baik saja." jelas Jerry.
"Terimakasih Jer, terimakasih sudah membantu Aneska." ucap Mala.
"Sebenarnya Aneska itu siapa tante?" Tanya Jerry yang dari tadi sudah sangat penasaran.
"Aneska dan Aneisha adalah anak dari rekan kerja papi, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan papi menawarkan mereka untuk tinggal di rumah ini dan mengangkat mereka menjadi anak papi dan mami." jelas Elvan.
"Hm, tapi yang mau di angkat menjadi anak kami hanya Aneisha, karena Aneska merasa kalau dirinya sudah besar dia ingin berdiri sendiri dan ingin memiliki rumah sendiri nantinya." sambung Bagas.
Mendengar hal itu membuat Jerry hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu dia berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.
"Sekali lagi terimakasih banyak ya Jer, maaf ya karena sudah mengganggu pekerjaanmu." ucap Mala.
"Yaampun tante tenang saja, kalian semua adalah keluarga Jerry, dan keluarga adalah nomer satu bagi Jerry!" ucap Jerry sambil memamerkan gigi putihnya.
"Sudahlah kamu segera kembali ke rumah sakit agar tidak terlambat lagi." ucap Elvan.
Akhirnya Jerry segera pergi dari rumah keluarga Bagaskara dengan mobil sportnya untuk kembali ke rumah sakit.
Sedangkan Mala masuk ke dalam kamar Aneska untuk melihat kondisinya.
"Bagaimana keadaan kakakmu Nei?" Tanya Mala.
__ADS_1
"Kak Anes sudah lebih baik setelah di suntik mi, sebenarnya kenapa kak Aneska bisa menjadi seperti ini?" Tanya Aneisha.
"Mami juga tidak tau, kita tinggalkan Aneska di sini untuk istirahat, kita tanya langsung kepada Elvan saja ya sayang." ajak Mala yang di balas anggukan oleh Aneisha.
Mala dan Aneisha keluar dari kamar meninggalkan Aneska sendirian di dalam kamarnya, mereka berdua ingin mendengar penjelasan dari Elvan.
"Bagaimana keadaan Aneska?" Tanya Elvan yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah mengantar Jerry ke luar rumah.
"Dia sedang tertidur, kami sengaja keluar untuk membiarkannya beristirahat." ucap Mala.
"Kak! Sebenarnya apa yang terjadi kepada kak Anes? Kenapa dia sampai seperti itu?" Tanya Aneisha.
"Sebenarnya aku juga tidak tau siapa yang berani melakukan hal itu kepada Aneska, aku sedang menunggu kabar dari Kevin karena aku memintanya untuk mencari tau tentang kejadian itu." jelas Elvan.
"Apa ada seseorang yang tidak menyukai kak Aneska?" Tanya Aneisha.
"Kenapa begitu? Bahkan belum banyak yang mengenal Aneska di dunia bisnis, pasti ada yang memang sudah berniat mencelakai Aneska." ucap Mala.
Elvan mengingat kembali siapa saja orang yang di kenal Aneska di sana, dan Elvan hanya bisa memikirkan dua orang saja, Alex dan Belvina hanya mereka berdua lah yang mengenal Aneska dan memiliki hubungan tidak baik dengannya.
"Apa jangan-jangan..." gumam Elvan yang masih bisa di dengar oleh Aneisha.
"Ah, tidak Nei! Saat aku sudah mendapatkan kabar dari Kevin aku akan segera memberitau kalian." ucap Elvan.
"Sudah Aneisha dan mami lebih baik tidur saja sekarang, kalian juga harus menjaga kesehatan agar tidak membuat Aneska bersedih." lanjutnya.
"Tapi kak, aku masih kepikiran.."
"Sudahlah jangan memikirkan apapun! Kamu istirahat, biar kakak yang memikirkan tentang hal itu." potong Elvan sambil mendorong pelan tubuh Aneisha agar kembali ke dalam kamarnya.
Akhirnya dengan terpaksa Mala dan Aneisha menuruti ucapan Elvan untuk kembali ke dalam kamarnya masing-masing.
Sedangkan Elvan segera mengambil hpnya yang ada di saku celananya dan menghubungi Kevin.
"Halo Kevin?" ucap Elvan.
"Halo Elvan, aku sudah mencari CCTV di hotel ini, dan ada yang mengganjal! Aku tidak tau ada hubungan apa wanita ini dengan Aneska, tapi hanya dia lah yang mencurigakan." ucap Kevin yang sudah mengirimkan rekaman CCTV yang dia dapatkan.
Elvan segera mematikan telfon dari Kevin dan langsung mengecek rekaman itu di dalam ruang kerjanya.
Cukup lama Elvan melihat layar laptopnya untuk melihat setiap gerak-gerik orang yang mencurigakan, lalu mata Elvan langsung tertuju kepada Belvina yang sedang berbicara dengan pelayan yang membawa minuman.
__ADS_1
"Belvina! Kamu mencari masalah dengan orang yang salah!" gumam Elvan sambil menutup laptopnya dengan kencang karena kesal.
Elvan segera menghubungi asisten pribadinya untuk mencari masalah di dalam perusahaan papa Aneska yang sedang di pegang oleh Alex
Elvan berusaha untuk menghancurkan sedikit demi sedikit kepercayaan pemegang saham kepada Alex agar Alex bisa di runtuhkan secepatnya.
Drrtt,, drrtt..
Hp Elvan tiba-tiba berbunyi membuat kekesalan seketika sedikit mereda, Elvan melihat layar hpnya dan melihat nama Evano di sana.
"Evano?" ucap Elvan yang baru saja mengangkat telfonnya.
"Apa kalian semua lupa kalau aku sampai di Indonesia malam ini? Kenapa tidak ada yang menanyakan tentang keberadaan aku!?" Protes Evano kepada kakak sepupunya itu.
"Kamu sudah di Indonesia? Maaf Evano kami sedang ada beberapa masalah jadi kami tidak mengingat tentang kedatanganmu." ucap Elvan.
"Ada masalah apa emangnya sampai kalian semua melupakan aku?" Tanya Evano.
"Tidak ada, tidak perlu di pikiran nanti juga kamu tau! Kamu di mana? Apa aku perlu menjemputmu?" Tanya Elvan.
"Sebenarnya aku sudah check in hotel, tapi aku bosan sekali di sini kak! Aku ingin ke rumahmu saja!" ucap Evano.
"Baiklah aku akan segera menjemputmu, berikan aku alamat hotelmu!" ucap Elvan.
Dengan segera Evano memberikan alamat hotelnya kepada Elvan dan segera mengambil barang-barangnya kembali.
Tidak lama kemudian Elvan datang dan berhenti tepat di hadapan Evano yang sudah menunggu kedatangan dirinya.
"Masuklah!" ucap Elvan.
Tanpa menunggu di suruh untuk kedua kalinya, Evano segera masuk ke dalam mobil dan mereka pun berangkat.
"Kamu kenapa tidak langsung menghubungi aku tadi?" Tanya Elvan.
"Tidak aku hanya takut mengganggu kelian semua."
"Cih! Tapi ujung-ujungnya kamu tetap menghubungi aku bukan?"
Evano memamerkan gigi putihnya kepada Elvan, dia sendiri juga tidak tau kenapa dia tetap saja menghubungi Elvan.
Sedangkan Elvan hanya menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik sepupunya itu.
__ADS_1