
Wanita menangis bukan karena mereka lemah, namun karena mereka tak temukan kata tuk ungkapkan perasaan mereka.
Elvan keluar dari kamar Aneska dan menuruni tangga untuk menghampiri kedua orang tuanya dan Aneisha yang masih berada di bawah.
“Bagaimana Elvan? Apa Aneska sudah memakan makanannya?” tanya mama Mala.
“Belum ma, Aneska sudah tertidur mungkin dia kelelahan, tapi Elvan sudah menaruh makanan itu di meja sebelah tempat tidurnya biar langsung di makan saat dia bangun.” Jelas Elvan.
“Dia pasti sangat kelelahan, apa seharusnya papa tida menyuruhnya datang ke perusahaan papanya ya?” ucap papa Bagas.
“Jangan begitu papa Bagas, Anei yakin kak Aneska benar-benar berterimakasih dengan kesempatan yang sudah di berikan papa Bagas kepadanya.” Ucap Aneisha.
“Apa kamu tidak berminat di dunia Bisnis Nei?” tanya Elvan yang sudah duduk di sebelah Aneisha.
“Siapa kak? Aku? Haha engga deh kak, aku aja dulu udah pusing banget kalau lihat kak Anes belajar akutansi gitu deh hitung-hitungan, mungkin kalau aku udah jebol nih kepala.” Ucap Aneisha.
Semua orang yang berada di sana hanya bisa menertawakan sikap Aneisha yang menurut mereka sangat menggemaskan.
“Aku mendingan jadi model aja deh ya kan ma?” ucap Aneisha sambil melirik ke arah mama Mala.
“Kalau mau jadi model itu kamu harus menjaga tubuh kamu bagaimanapun caranya!” tegas mama Mala yang di balas senyuman oleh Aneisha.
“Kamu sebaiknya istirahat saja dulu Nei, aku yakin kaki kamu pasti masih sakit semua.” Ucap Elvan.
“Hehehe, iyasih kak emang masih kerasa linu gitu. Aneisha minta tolong anterin ke atas boleh ga kak?” tanya Aneisha sambil memamerkan gigi putihnya kepada Elvan.
Elvan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap adik sambungnya yang masih manja seperti anak kecil itu.
“Baiklah, aku akan mengantarmu sampai ke kamar, apa perlu aku gendong?” tanya Elvan dengan nada bercanda.
“Ih, jangan lah kak badanku ini berat loh nanti bisa-bisa punggung kak Elvan pada retak hehehe.” Balas Aneisha.
“Masih untung kalau retak, kayaknya sih bakalan patah semua.” Ucap Elvan yang di sambung tawa oleh semuanya.
Aneisha yang mendengar ejekan dari Elvan dan di sambung tawa dari papa Bagas dan mama Mala itu langsung memanyunkan bibirnya dan mengerutkan keningnya karena merasa kesal dengan semuanya.
“Aneisha ga seberat itu juga tau! Kalian menyebalkah ah..” ucap Aneisha dengan nada kesalnya.
Drrtt,,drrtt,,
__ADS_1
Di sela-sela tawa semua orang, hp Aneisha berdering dan membuat semua orang berhenti tertawa karena suara hp tersebut.
“Siapa yang nelfon kamu Nei?” tanya mama Mala.
“Ah, kak Gavin ma Aneisha lupa kalau dari tadi belum menghubungi dia, soalnya awalnya dia mau nganter Aneisha tapi Aneisha ga mau, sekarang dia pasti sedang mengkhawatirkan Anei.” Jelas Aneisha.
“Cepat angkatlah kalau begitu dan bilang padanya kalau kamu sudah baik-baik saja.” ucap Elvan.
“Aneisha angkat dulu ya pa, ma, kak.” Ucap Aneisha meminta ijin untuk mengangkat telfon dari Gavin.
“Halo kak?” sapa Aneisha.
“Aneisha! Kamu ini kemana saja!? kenapa kamu tidak memberikan kabar kepadaku!? Apa kamu tau kalau aku ini sangat khawatir!” bentak Gavin dari sebrang telfon.
“Wow, kak Gavin jangan marah-marah gitu dong, Anei sudah berada di rumah kok jadi kak Gavin tidak perlu mengkhawatirkan aku, tadi aku tidak bisa memberi kabar soalnya aku habis ketabrak mobil lebih tepatnya keserempet lah kak.” Jelas Aneisha.
“Halo kak Gavin? Halo?” ucap Aneisha lalu menatap aneh ke arah hpnya.
Mendengar penjelasan Aneisha, Gavin langsung mematikan telfonnya tanpa berbicara sepatah katapun hingga membuat Aneisha merasa aneh.
“Kenapa Nei?” tanya Elvan.
“Sudahlah ayo kak Elvan akan mengantarmu ke kamar.” Ucap Elvan.
Aneisha mengangguk mengiyakan ucapan kakak sambungnya itu dan berpamitan kepada papa Bagas dan mama Mala. Elvan langsung membantu Aneisha dengan cara memegang tangan Aneisha dan menuntunnya untuk menaiki tangga menuju kamarnya.
“Kak, apa kak Gavin marah sama aku ya makanya dia langsung matiin telfonnya?” tanya Aneisha kepada Elvan.
“Tenanglah, tidak ada yang bisa marah dengan adikku jadi aku yakin kalau Gavin tidak akan marah padamu.” Ucap Elvan mencoba untuk menenangkan Aneisha.
“Benarkah? kak Gavin adalah satu-satunya orang yang selalu mau menemaniku bermain sejak aku kecil.” Ucap Aneisha.
“Apa kamu menyukai Gavin?” tanya Elvan tiba-tiba hingga membuat Aneisha terkejut mendengarnya.
“A,,apa maksud kak Elvan?” tanya Aneisha yang mulai gugup mendengar pertanyaan dari Elvan.
“Kalian sudah sangat dekat dari kecil, dan Gavin juga yang selalu menjagamu, apa kamu tidak pernah menyukainya?” tanya Elvan.
“Suka? Sebenarnya aku memang menyukainya kak, tapi aku malu untuk mengatakannya.” Ucap Aneisha yang akhirnya jujur kepada Elvan.
__ADS_1
“Kenapa? Kenapa kamu tidak mengungkapkannya? Apa kamu tidak takut kalau suatu saat nanti dia akan bertemu dengan wanita lain dan berpacaran dengan wanita itu?” tanya Elvan.
“Aku ini perempuan kak, aku tidak mungkin mengungkapkan perasaanku lebih dulu, lagi pula aku tidak mau kalau dia malah menjauhiku setelah aku mengungkapkan perasaanku padanya.” Jelas Aneisha.
“Jadi kamu akan membiarkannya berpacaran dengan wanita lain?” tanya Elvan.
“Ya kalau memang aku dan dia bukan jodoh mau bagaimana lagi? Kalau kak Gavin dan aku di takdirkan untuk jadi pasangan pasti akan ada jalan untuk bersama.” jelas Aneisha.
“Wah, kamu ternyata memiliki sikap yang dewasa juga ya masalah percintaan.” Puji Elvan.
“Kak Aneska yang memberitahu tentang hal itu karena dia pernah patah hati.” Bisik Aneisha.
“Lain kali kamu harus menceritakan hal itu kepadaku.” Balas Elvan yang di balas senyuman oleh Aneisha.
“Sudahlah sana masuk ke dalam kamarmu, bersihkan tubuhmu agar bisa tidur dengan nyenyak dan jangan sampai membangunkan kakakmu.” Sambung Elvan yang sudah berada di depan kamar Aneska dan Aneisha.
“Dah kak Elvan, kapan-kapan aku akan menceritakan kisah cinta kak Aneska yang menyedihkan hehehe.” Ucap Aneisha sambil membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamar.
Elvan yang melihat Aneisha sudah menutup pintu kamarnya langsung berbalik dan turun ke bawah untuk menghampiri kedua orang tuanya.
“Apa Aneisha sudah masuk ke dalam kamarnya?” tanya papa Bagas kepada Elvan yang baru saja menuruni tangga.
“Sudah pa, Elvan sudah menyuruhnya untuk mandi dan tidur.” Ucap Elvan.
“Oh iya, bagaimana dengan perusahaan Aneska, papa dengan dari Daniel kalau kamu baru sampai di perusahaan siang hari.” Ucap papa Bagas.
“Iya pa, Elvan tadi menunggu Aneska di dekat perusahaannya, Elvan takut kalau nantinya keluarga omnya akan menyakitinya dan menyuruhnya keluar dari perusahaan dengan paksaan.” Jelas Elvan.
“Lalu bagaimana hasilnya?” tanya papa Bagas.
“Aneska bilang kalau semuanya berhasil, dia sudah berhasil membuat omnya terintimidasi dengan kehadirannya di ruang rapat pemegang saham tadi.” jelas Elvan.
“Baguslah, Aneska adalah anak yang cerdas dan berambisi, papa yakin kalau dia akan sukses dan menjadi CEO wanita termuda yang pernah ada.” Ucap papa Bagas.
“Kedua putri dari tuan Fabian sangat cantik dan cerdas pa, mama bersyukur karena memiliki putri seperti mereka berdua, dan mama akan menjaga mereka seperti berlian yang sangat berharga di rumah ini.” ucap mama Mala.
“Kamu benar ma.” Balas papa Bagas.
“Elvan juga sangat beruntung memiliki dua adik yang sangat cantik dan manis.” Sambung Elvan.
“Aneisha!!” teriak seorang laki-laki yang berasal dari luar pintu rumah keluarga Bagaskara hingga membuat semua yang ada di sana terkejut mendengarnya.
__ADS_1