MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 55


__ADS_3

Sudah seharian Elvan dan Aneska membereskan apartment Elvan. Keduanya sudah kelaparan setelah bekerja seharian.


Bunyi perut Elvan dan Aneska yang bergantian membuat keduanya tersipu malu dan menertawakan suara perut mereka masing-masing.


"Ayo kita makan di luar, sekalian beli bahan makanan di supermarket.. Kamu bisa masak kan?" Tanya Elvan.


"Tentu saja bisa kak! Kamu meremehkanku?"


"Aku hanya bertanya Nes, kalau begitu kita mandi dan bersiap dulu ya.." ucap Elvan.


Perkataan Elvan membuat Aneska salah paham dan langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya dan menatap Elvan dengan tatapan mematikan.


Elvan yang mengetahui kalau Aneska salah paham dengan ucapannya hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Maksudku, kita mandi dan berpakaian masing-masing Nes, jangan berfikir yang tidak-tidak! Kamarmu ada di sana, tepat di sebelah kamarku." ucap Elvan sambil menunjuk ke salah satu kamar yang berada di dekat jendela.


"Hehehe maaf kak ambigu sih kata-kata kak Elvan.. Terimakasih banyak ya kak.. Aku berhutang banyak kepadamu kak!" seru Aneska sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.


"Tidak masalah Nes, aku hanya membantu tuan putriku.." jawab Elvan yang di balas senyuman oleh Aneska.


Tidak ada perasaan berdebar di dalam tubuh Aneska karena memang dia tidak menyukai Elvan. Aneska hanya menganggap Elvan sebagai kakaknya dan dia juga sangat mengagumi Elvan.


Berbeda dengan Elvan yang berdebar saat dirinya memuji wanita yang seharusnya menjadi adiknya itu.


"Elvan! Jangan membuatnya menjauh karena perasaanmu! Kamu harus bisa menahan perasaanmu agar tidak tumbuh menjadi besar!" gumam Elvan saat Aneska sudah masuk ke dalam kamarnya.


Akhirnya Elvan memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap.


Setelah keduanya selesai, Elvan dan Aneska segera keluar apartment untuk pergi keluar.


"Loh nak Elvan, sudah jarang kelihatan kemana aja?" Tanya seorang lansia yang kebetulan berpapasan dengan Elvan dan Aneska.


"Iya nih nek, sibuk sama kerjaan di kantor, Elvan juga tidurnya lebih banyak di rumah."


"Wah, siapa wanita cantik di sebelahmu? Pacarnya ya?" goda sang nenek.


"Dia istri Elvan nek, kenalkan namanya Aneska. Mulai hari ini kami akan tinggal di sini." ucap Elvan.


"Nes, kenalkan ini nenek Tutik namanya, dia tinggal tepat di sebelah apartment kita m" lanjutnya.

__ADS_1


"Hai nek, aku Aneska.. Salam kenal nek, setelah kami selesai beres-beres apartment, nenek main ke rumah ya, Aneska akan masak makanan yang enak untuk nenek." ucap Aneska dengan ramah.


Elvan senang sekali melihat Aneska yang sangat ramah kepada nenek Tutik, setidaknya walaupun pernikahan mereka karena keterpaksaan, tapi Aneska tidak pernah merasa marah padanya karena sudah menggantikan tempat Kevin di hidupnya.


"Kalau kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa meminta kepada nenek ya.." ucap nenek Tutik.


"Siap nek! Kalau begitu Elvan dan Aneska pamit dulu ya mau membeli keperluan buat di apartment." pamit Elvan yang di balas anggukan oleh nenek Tutik.


Akhirnya Elvan dan Aneska lanjut berjalan menuju ke mobil.


"Nenek itu sangat menggemaskan kak, jarang loh orang yang tinggal di apartment saling mengenal satu sama lain!" ucap Aneska saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Nenek Tutik itu hanya tinggal dengan cucu laki-lakinya, dia seumuran denganku, hanya saja cucunya itu bekerja sebagai TNI jadi kadang nenek Tutik harus siap di tinggal oleh cucuknya." jelas Elvan.


"Dulu nenek Tutik pernah kesulitan saat menaiki lift, aku yang membantunya dan mengantarnya sampai ke tempat tujuannya, mulai saat itu nenek Tutik sering menekan bel pintu apartmentku." jelas Elvan.


"Ah begitu,, nanti kalau apartment sudah lengkap ajaklah nenek Tutik main ya kak."


"Pasti Nes.." ucap Elvan.


"Oh iya Nes, bolehkah aku bertanya?" lanjut Elvan.


"Hm, tentu saja kak ada apa?"


"Hah? Kenapa aku harus marah dan membenci kak Elvan?"


"Ya karena aku sudah menggantikan posisi Kevin Nes, harusnya Kevin yang ada di sini bukan aku!" ucap Elvan.


"Aku tidak pernah membenci kak Elvan, ya walaupun aku kesal pada diriku sendiri kenapa kak Elvan harus menggantikan posisi kak Kevin padahal kak Elvan sendiri memiliki masa depan, kak Elvan bisa menikah dengan wanita yang kak Elvan suka." ucap Aneska.


"Terimakasih Nes, aku melakukan hal itu karena mau jadi jangan pernah merasa kesal atau bersalah ya.." balas Elvan.


"Sekarang giliran aku bertanya kak!"


"Apa?"


"Apa kak Elvan menyesal?" Tanya Aneska.


"Menyesal karena..?"

__ADS_1


"Karena menikahiku."


"Ayo turun, kita sudah sampai!" ucap Elvan sebelum menjawab pertanyaan Aneska.


"Ih kak Elvan! Jawab dulu pertanyaan Aneska!" ketus Aneska.


Elvan yang ingin membuka pintu mobil langsung menoleh ke arah adik yang saat ini sudah menjadi istrinya itu sambil tersenyum karena sudah berhasil menggodanya.


"Tentu saja tidak Nes! Aku senang karena menikah dengan orang yang aku kenal, setidaknya aku tidak jadi menikah dengan Clair." ucap Elvan.


Mendengar ucapan Elvan membuat Aneska tertawa. Sedangkan Elvan senang karena bisa membuat Aneska tertawa.


"Sudah ayo turun!" ajak Elvan.


Akhirnya Elvan dan Aneska segera turun dari mobil dan masuk ke supermarket. Di dalam sana Elvan dan Aneska membeli barang-barang untuk di taruh di dalam apartment, dan tidak lupa mereka juga membeli bahan makanan agar bisa memasak sendiri.


"Yang ini aku yang bayar ya kak, soalnya ini barang-barang pribadi yang mau aku taruh di dalam kamar." ucap Aneska.


"Tidak perlu! Kamu istriku sekarang, jadi kebutuhanmu juga tanggung jawabku!" tegas Elvan sambil mengambil keranjang belanjaan yang ada di tangan Aneska.


"Sudah sana tunggu di mobil." lanjutnya.


"Barangnya banyak kak, aku tunggu sini biar bisa bantuin bawa."


"Aku bisa menyuruh kuli angkut untuk membawakan belanjaan kita."


"Lebih baik uangnya di simpan untuk membeli yang lainnya, sekarang lebih baik aku membantu kak Elvan membawakan barangnya."


Keduanya berdebat tanpa mereka sadari kalau wanita yang sedang menghitung belanjaan mereka sudah selesai dan dari tadi dia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua orang yang ada di hadapannya.


"Mas, mbak! Totalnya sepuluh juta lima ratus ribu rupiah." ucap kasir tersebut namun tidak di gubris oleh Elvan dan Aneska.


"Mas, mbak!!" ucap kasir tersebut dengan nada yang sedikit meninggi.


"Eh, i-iya mbak?" ucap Elvan.


"Totalnya sepuluh juta lima ratus ribu rupiah." ucap kasir tersebut untuk yang kedua kalinya.


"Ah iya maaf kami berdebat tadi mbak." ucap Elvan yang langsung memberikan black card miliknya.

__ADS_1


"Wih, jadi ini yang namanya black card? Warnanya mengkilap, ini adalah kartu yang hanya di miliki oleh orang-orang tertentu saja! Aku tidak akan mencuci tanganku!" batin kasir tersebut.


Di balik mbak kasir yang serius mengagumi black card milik Elvan, Aneska dan Elvan justru sibuk saling menatap tajam satu sama lain.


__ADS_2