
Aneska dan Elvan sudah menyelesaikan makan mereka, Elvan benar-benar terkejut melihat Aneska yang mampu menghabiskan makanan sebanyak itu sendirian.
"Dengan tubuh sekecil itu dia bisa makan sebanyak ini?" gumam Elvan yang sedang berjalan ke kasir untuk membayar sambil menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Aneska merasa sangat senang karena akhirnya perutnya sudah merasa kenyang sekali.
"Hah,, selama ini aku selalu menahan ***** makanku karena kasihan sama tante Irma, sekarang aku tidak akan menahan lagi! Aku akan memakan semua makanan yang anakmu inginkan kak Elvan! Siapa suruh kamu menghamiliku!" ketus Aneska sambil menatap punggung Elvan yang sudah menjauh dengan tajam.
Setelah membayar makanannya, Elvan kembali untuk mengajak Aneska pulang.
"Ayo Nes, kita pulang sekarang.. Papa dan mama pasti sangat senang melihatmu lagi." ucap Elvan.
"Kak, aku mau liat Aneisha dulu ya di lokasi syutingnya, masih sempet kan?" Tanya Aneska.
Elvan melihat ke arah jam tangannya lebih dulu, lalu dia menganggukkan kepala menyetujui permintaan Aneska.
"Bagaimana Anei sekarang kak?" Tanya Aneska memecah keheningan di dalam mobil.
"Bagaimana apanya?"
"Bagaimana keadaannya, karirnya, dan sekolahnya."
"Aneisha terpuruk sekali waktu kamu menghilang, apa lagi kamu menghilang di saat dirinya akan segera syuting.."
"Tapi Aneisha anak yang kuat, dia cepat sekali bangkit dan dia tidak mau mengecewakanmu saat kamu kembali." jelas Elvan.
"Aku harus membawakannya banyak makanan untuk meminta maaf.." ucap Aneska.
"Kamu tidak bisa membawakan makanan untuknya lagi sekarang karena dia tidak boleh sampai gemuk."
"Benarkah? Kasihan sekali.. Padahal dulu dia sangat suka makan." ucap Aneska dengan nada sedih.
"Tapi jika kamu yang membawanya mungkin dia akan membuat pengecualian." sahut Elvan.
Aneska tersenyum mendengar ucapan Elvan, setelah sudah dekat di lokasi syuting Aneisha, dia segera meminta Elvan menepi di restaurant cepat saji dan membelikan makanan kesukaan Aneisha.
Setelah selesai membeli makanan kesukaan adik kesayangannya itu, keduanya segera menuju lokasi yang sudah di berikan oleh managernya.
__ADS_1
"Hutan? Ini beneran tempatnya kak?" Tanya Aneska.
"Iya Nes, managernya ngasih lokasi di sini kok.. Kenapa?"
"A-Aneisha, dia..."
"Dia kenapa Nes!!?"
"Dia punya trauma kak,, dulu Aneisha pernah hilang di dalam hutan, dia bahkan pernah mengatakan kalau dirinya bertemu dengan binatang buas." ucap Aneska.
"Apa!? Kalo gitu, kita cari managernya dan bilang padanya oke?" ucap Elvan yang di balas anggukan oleh Aneska.
***
"Nei, ayo kita harus segera berangkat ke hutan bareng yang lain." ucap Lita.
"Lit,, jangan pernah tinggalin aku ya selama di sana.." pinta Aneisha dengan wajah ketakutan.
"Wajah kamu kok pucet gitu Nei? Kamu sakit?"
"Engga kok ga sakit, aku ga apa-apa pokoknya kamu jangan tinggalin aku."
Mendengar ucapan Lita membuat Aneisha sedikit lebih tenang, Aneisha berusaha untuk mengatur nafasnya dan menghilangkan semua traumanya.
"Jo.. Kamu ikut ke dalam hutan?" Tanya Anthony.
"Ikut dong pi.. Emang Jody mau diem di sini sendirian? Lagian hutan adalah tempat yang sangat Jody sukai." seru Jody.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat bersama yang lain." ajak Anthony yang di balas anggukan oleh Jo.
Aneisha terus menggandeng tangan Lita dengan erat, Lita yang merasakan kalau tangannya terasa basah langsung menoleh ke arah Aneisha yang semakin masuk ke dalam hutan semakin pucat.
"Nei, kamu baik-baik saja?! Kenapa kamu pucet gitu?" Tanya Lita.
"A-aku.."
"Bentar aku ke pak Anthony dulu."
__ADS_1
"Eh mau apa?"
"Aku mau bilang kalo kamu lagi ga enak badan!"
"Jangan! Aku ga apa-apa kok Lit.."
Anthony dan Jo yang kebetulan berjalan di belakang Aneisha melihat gerak-gerik Aneisha yang tidak baik-baik saja.
"Pi, dia Aneisha?" Tanya Jo.
"Hmm, sepertinya dia sedang sakit."
"Cih! Bukan sakit! Dia lagi pura-pura sakit lebih tepatnya, manja sekali!" ketus Jo.
"Jo! Jangan bicara seperti itu, Aneisha bukan orang yang manja seperti yang kamu katakan!" tegas Anthony.
Jody hanya memutar bola matanya mendengar ucapan sang papi, dia kesal karena di mata papinya itu Aneisha adalah orang yang paling baik.
Sesampainya di tempat syuting, Aneisha segera di suruh untuk di make up.
"Muka kamu kok pucet banget Nei?" Tanya orang yang biasa me make up Aneisha.
"Masa sih kak? Tolong buat agar muka aku tidak terlihat pucat ya kak, kakak pasti bisa." balas Aneisha.
"Kamu ga sakit kan?"
"Engga kok kak... Aku baik-baik saja."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menambahkan lipstick di bibirmu agar tidak terlihat pucat."
"Terimakasih, kakak emang yang terbaik!" puji Aneisha.
Jody terus saja menatap Aneisha yang sedang di make up. Jody benar-benar tidak percaya kalau Aneisha akan secantik itu, benar-benar seperti yang papinya bicarakan.
~~
Visual Jody yaa..
__ADS_1