
Drrtt.. drrtt.. Hp Kanaya berbunyi dan di layarnya terpampang nama Evano.
"Ck! Dia ngapain sih nelfon aku?" gumam Kanaya dengan malas mengangkat telfon Evano.
"Halo, apaan?" Tanya Kanaya dengan ketus.
"Widihh,, biasa aja kali Nay.. Nanti cantiknya ilang loh!" goda Evano.
"Kalo kamu nelfon cuma mau bikin marah mending gausah deh!" ketus Kanaya.
"Eh engga kok, aku mau ngomong sama kamu beneran." ucap Evano dengan cepat.
"Apaan? Cepet, aku sibuk!"
"Bantu aku menjadi sekretaris untuk pertemuan sore ini!"
"Hah? Kamu serius? Aku? Aku pramugari bukan sekretaris Evano! Kamu mimpi ya?"
"Aku ga mimpi Kanaya, aku serius.. Kamu cuma perlu berdiri di sebelah aku aja, kalo menurut kamu ada yang salah kamu bisa ingetin aku." jelas Evano.
"Jangan menolak aku mohon, anggap saja kamu sedang membantu Aneska karena ini perusahaan suaminya juga.. Lagian kamu juga lagi nganggur kan?" lanjut Evano.
Kanaya terdiam sejenak lalu akhirnya mengiyakan ucapan Evano dan segera bersiap pergi ke perusahaan untuk menemani Evano.
Setelah siap, Kanaya segera melajukan mobilnya menuju perusahaan Elvan walaupun dengan kekesalan karena dia harus bertemu dengan Evano.
Sesampainya di depan perusahaan, Kanaya segera masuk ke dalam lalu duduk di sofa yang ada di lobby karena dia tidak bisa sembarangan masuk ke dalam kantor Evano.
Kanaya segera mengeluarkan hpnya dan menghubungi Evano.
"Halo Evano.. Aku sudah di lobby!" ucap Kanaya yang langsung mematikan telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Evano.
Di dalam ruangannya, Evano yang baru saja mendapat telfon dari Kanaya hanya bisa berdecak kesal karena Kanaya seenaknya mematikan telfon sebelum mendengar jawaban darinya.
"Wanita ini benar-benar!! Membuatku semakin terpesona hihii.." gumam Evano sambil terkekeh.
Dengan segera Evano keluar dari ruangannya dan turun menghampiri Kanaya yang sudah menunggunya di lobby.
__ADS_1
"Hai tuan putri yang cantik!" sapa Evano dari jauh sehingga suaranya bisa di dengar oleh semua orang yang ada di sana.
Kanaya segera bangkit dari tempat duduknya dan langsung menutup mulut Evano dengan kedua mata yang melotot.
"Kamu gila ya!?" ketus Kanaya.
"Ha? Au waas ok!" ucap Evano tidak jelas karena mulutnya di tutupi oleh Kanaya.
Kanaya yang menyadari hal itu segera melepaskan tangannya dari mulut Evano agar laki-laki itu bisa berbicara dengan jelas.
"Ngomong apa tadi kamu!?" Tanya Kanaya.
"Aku waras kok tuan putri.."
"Gila! Jangan panggil aku tuan putri apaan sih lebay banget!"
"Kok marah sih? Perasaan kak Elvan manggil Aneska tuan putri, tapi Aneska ga marah tuh."
"Karena mereka memang berada di hubungan yang pantas memanggil seperti itu, kalo kita? Dih, lo siapa!" ucap Kanaya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Dih segitunya banget sih Nay, kurangnya Aku apa coba? Ganteng iya, kaya iya, perusahaan ada, mau nyari yang gimana lagi kamu?"
"Udah deh gausah bahas yang lain! Aku di sini mau nemenin kamu kan? Jadi ayo cepetan kamu kasih tau materi yang akan di bahas nanti biar aku rada nyambung dikit." lanjutnya.
"Oh iya, baiklah ayo ikut aku ke ruanganku." ajak Evano.
Akhirnya Evano dan Kanaya berjalan menuju lift menuju ruangan Evano.
***
Di rumah sakit, Aneisha baru saja membuka kedua matanya dengan perlahan. Aneisha langsung melihat Elvan yang berada di sampingnya saat itu.
"Kak Elvan? Aku di mana ini?" Tanya Aneisha.
"Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan di lokasi syuting.. Kamu kenapa ga bilang kalo punya trauma sih Nei? Kalo kayak gini namanya kamu membahayakan diri kamu sendiri." ucap Elvan.
"Loh, kak Elvan kenapa ada di lokasi syuting? Terus kak Elvan tau dari mana kalo aku punya trauma?" Tanya Aneisha.
"Eh? Kebetulan aja tau.." ucap Elvan.
__ADS_1
"Kak, ayo kita kembali ke lokasi syuting." ajak Aneisha.
"Loh, kamu baru sadar sudah mau kesana lagi? Kamu ini benar-benar ya!"
"Kak ayolah... Aku ini butuh psikolog bukan dokter yang di sini."
"Ayolah kak ayolah.. ya, ya, ya.." rengek Aneisha.
Dengan pasrah akhirnya Elvan menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Aneisha. Elvan segera mengurus administrasi lalu membawa Aneisha kembali ke lokasi syuting dengan mobilnya.
Sesampainya di lokasi syuting, Elvan keluar dari mobil lebih dulu lalu membantu Aneisha turun dengan hati-hati.
Semua orang yang melihat kedatangan Elvan dan Aneisha segera menghampiri mobil Elvan untuk membantu Aneisha.
"Nei kamu ga apa-apa?" Tanya banyak orang yang ada di sana.
Aneisha merasa tidak nyaman di perlakukan seperti itu, awalnya Aneisha bingung kenapa seketika semua orang memperhatikan dirinya sampai seperti itu, tapi setelah di pikir lagi Aneisha baru sadar jika Elvan lah yang membuat semua orang mencari muka kepadanya.
"Aku baik-baik saja, terimakasih karena sudah mengkhawatirkan aku dan maaf karena sudah menghambat proses syuting." ucap Aneisha sambil membungkukkan badannya.
"Tidak apa Aneisha, kita hentikan syuting hari ini, adeganmu akan di lakukan minggu depan menggunakan properti saja." ucap Anthony.
"Tuan Anthony jangan seperti itu, aku tidak mau di perlakukan berbeda dari yang lain.. Mereka semua mungkin sama takutnya denganku untuk syuting di hutan, tapi mereka mampu mengatasi ketakutan mereka.
Bagaimana kalau dalam waktu seminggu aku akan berusaha untuk mengatasi ketakutanku?" ucap Aneisha.
"Mengatasi ketakutanmu? Bagaimana caranya?" Tanya Anthony.
"Ada banyak cara jika aku mau berubah tuan." balas Aneisha.
Anthony menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aneisha, Jody mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Aneisha yang tidak manja seperti yang ada di fikirannya.
"Cih, dia berpura-pura apa memang mau berubah?" gumam Jody sambil melirik ke arah Aneisha.
Jody sama sekali tidak tau jika wanita yang memakai topi dan masker yang dia temui itu adalah Aneisha, yang Jody tau Aneisha adalah artis yang manja yang selalu di puji oleh sang papi.
Sedangkan Aneska yang duduk di tengah-tengah sehingga tertutup oleh kerumunan orang hanya bisa tersenyum mendengar ucapan adiknya itu.
Aneska tau betul kalau adiknya memang tidak pernah mau menyusahkan orang lain walaupun Aneisha adalah anak yang manja kepada keluarganya, tapi tidak kepada orang lain.
__ADS_1