
BANDARA
Kanaya sudah berada di bandara dengan menarik koper berukuran sedang yang ada di tangannya dan juga beberapa paper bag.
Brukk!! Tiba-tiba saja semua barang yang ada di dalam paper bagnya jatuh berserakan di mana-mana.
"M-maaf nona saya tidak sengaja." ucap laki-laki yang ada baru saja menabraknya.
"Ah tidak apa-apa tuan... Kamu!" ucap Kanaya yang baru saja melihat wajah laki-laki yang menabraknya.
"Hai nona, ternyata kita bertemu lagi jangan-jangan kita berjodoh." ucap laki-laki tersebut sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Mimpi!" ketus Kanaya yang segera berjalan melewati laki-laki tersebut setelah merapihkan semua barangnya yang terjatuh.
"Hei nona, saat pertemuan kita yang ketiga kamu tidak bisa mengelak kalau kita memang sudah di jodohkan!" teriak laki-laki itu di tengah-tengah keramaian sehingga membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Wah dia benar-benar sudah gila!" omel Kanaya sambil menggelengkan kepalanya.
"Kak! Kamu kenapa geleng-geleng gitu?" Tanya Gavin yang ternyata sudah berada di belakangnya.
"Gavin, kamu kok bisa di belakang kakak?" Tanya Kanaya yang terkejut melihat adiknya.
"Orang kakak tadi ngelewatin aku gitu aja yaudah aku ikutin deh."
"Kakak kenapa dari tadi ngomel sendiri sih?" lanjut Gavin.
"Tidak apa-apa kok Vin, kakak lagi sial aja bertemu orang aneh."
"Hah? Orang aneh? Orang gila maksudnya?" Tanya Gavin yang masih merasa kebingungan.
"Ya bisa di bilang begitu, sudahlah ayo kita pulang! Oh iya, katanya kamu menjemputku bersama Aneska, kemana dia sekarang?" Tanya Kanaya.
"Kak Aneska lupa kalau dia memiliki janji lebih dulu dengan kak Elvan untuk menemaninya ke pesta jadi dia tidak jadi ikut deh." jelas Gavin.
"Kak Aneska juga menitipkan permintaan maaf untukmu kak." lanjutnya.
"Huh! Tidak akan aku maafkan! Apa dia tidak merindukanku?" ucap Kanaya sambil mengerutkan keningnya.
"Sudahlah kak jangan di tekuk begitu mukanya, kak Aneska juga memiliki urusan sendiri, dia membutuhkan pesta itu karena dia harus bertemu dengan para pengusaha terkenal di sana." jelas Gavin.
Mendengar ucapan adiknya itu Kanaya hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan berdampingan dengan adik kesayangannya.
__ADS_1
"Apa aku langsung ke rumah Aneska saja ya?"
"No kak! Lebih baik kita pulang saja dan beristirahat! Aku tidak mau merawatmu kalau kamu sakit!" ucap Gavin.
"Kamu ini jahat banget sih sama kakakmu ini!"
"Ayo kita pulang kak, jangan banyak bicara! Energi kakak memang tidak ada habisnya!" ketus Gavin.
Akhirnya kedua kakak beradik itu segera pulang menggunakan mobil yang di bawa oleh Gavin.
"Bagaimana keadaan di apartment? Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Kanaya.
"Tentu saja! memangnya apa yang kamu takutkan kak!"
"Aku hanya takut kalau kamu menghancurkan apartmentku." canda Kanaya.
"Kakak fikir aku ini apa! Oh iya kakak belum makan malam kan? sebaiknya kita makan malam dulu sebelum pulang." ajak Gavin.
"Baiklah, aku memang sudah sangat lapar sekali, kita makan di dekat sini saja ya." ucap Kanaya.
Akhirnya mereka berdua berhenti di sebuat restaurant yang berada di dekat bandara untuk makan malam lebih dulu.
"Aku harusnya pergi ke rumah om Bagas, tapi hari sudah malam lebih baik aku menginap di hotel dekat sini saja deh." ucap Evano yang tidak lain adalah sepupu dari Elvan yang baru saja datang ke Indonesia.
Namun sebelum pergi ke hotel, Evano meminta supir taxi untuk mengantarnya ke restaurant terdekat karena perutnya terasa sangat lapar.
Baru saja Evano masuk ke dalam restaurant, dia langsung tersenyum saat melihat Kanaya sedang berada di tempat itu juga.
"Hai nona, kita bertemu untuk yang ketiga kalinya bukankah tandanya kita sudah di jodohkan?" Tanya Evano yang baru saja menghampirinya.
Kanaya yang mendengar suara tidak asing di telinganya langsung menoleh dan terkejut saat melihat laki-laki menyebalkan itu ada di belakangnya.
"Kamu! Apa kamu kurang kerjaan mengikutiku sampai kemari!?" Tanya Kanaya dengan kesal.
"Wow! Santai nona, aku tidak kekurangan wanita sampai harus mengikutimu kemari, aku hanya kebetulan ingin makan di sini saja." ucap Evano.
Tidak lama kemudian Gavin datang dengan nampan berisi makanan di tangannya.
"Permisi, anda siapa?" Tanya Gavin kepada Evano.
"Orang gila! Tidak usah di ladenin, lebih baik kita makan saja." ucap Kanaya.
__ADS_1
"Kamu kekasihnya?" Tanya Evano kepada Gavin.
"Ah, bukan! Saya adiknya, anda orang aneh yang di katakan kakak saya?" Tanya Gavin kepada Evano membuat Kanaya membulatkan kedua matanya.
"Gavin kamu ngomong apa!?" Bisik Kanaya.
"Ah jadi kakakmu bilang kalau aku orang aneh? Tapi apa kamu akan mengira laki-laki setampan diriku adalah orang aneh?" Tanya Gavin.
"Tentu saja tidak! Duduklah kak, kita sepertinya akan cocok satu sama lain." tawar Gavin.
"Evano, panggil aku Evano." ucap Evano sambil mengulurkan tangannya kepada Gavin.
"Gavin kak, dan kakakku Kanaya." ucap Gavin sambil membalas uluran tangan Evano dab juga mengenalkan Kanaya kepadanya.
"Kanaya? Namanya cantik seperti orangnya, hanya saja dia sangat galak." canda Evano yang di balas tawa oleh Gavin.
"Jangankan kepadamu kak, kepada adiknya sendiripun dia galak sekali!" sambung Gavin.
"Gavin! Jangan bicara jika sedang makan! Melihat wajahnya saja aku sudah kehilangan nafsu makan, apalagi saat mendengar kalian berdua bercerita!" ketus Kanaya.
Mendengar ucapan Kanaya membuat keduanya terdiam dan memakan makanan mereka dengan tenang.
Kanaya sudah menghabiskan makananya lebih dulu di bandingkan Gavin dan Evano.
"Aku sudah selesai makan, kamu bayar pakai kartuku, aku akan menunggumu di mobil!" ucap Kanaya sambil memberikan kartu kreditnya lalu pergi meninggalkan meja mereka.
"Kak, kemana tujuanmu?" Tanya Gavin.
"Aku mau kerumah omku tapi karena sudah malam aku memutuskan untuk tidur di hotel saja malam ini." jelas Evano.
"Ah begitu, aku akan mengantarmu ke hotel terdekat kalau mau kak bagaimana?"
"Terimakasih atas tawarannya, tapi aku sudah memesan taxi dan taxiku sedang menunggu di depan restaurant, jadi aku akan naik taxi saja."
"Hm,, baiklah kalau begitu aku akan bayar makanan ini dulu ya kakak tidak usah membayar, aku akan membayar makanan kakak juga pakai kartu kakakku."
"Tidak perlu, kamu tidak perlu membayar karena saat aku memesan tadi aku sudah membayar semua makanan milikmu juga." ucap Evano menghalangi Gavin yang ingin ke kasir.
"Benarkah kak? Wah kakak baik sekali! Bisakah aku meminta nomer telfonmu kak? Kalau kamu membutuhkanku untuk menemanimu jalan-jalan di Indonesia kamu bisa menghubungiku." ucap Gavin.
Akhirnya mereka berdua bertukar nomer telfon, lalu setelah itu Gavin segera pergi ke mobilnya menyusul sang kakak, sedangkan Evano kembali ke dalam taxi untuk menuju ke hotel terdekat.
__ADS_1