MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
WANITA KODRATNYA DI DAPUR


__ADS_3

Jangan terlalu cepat memilih, pertimbangkan lagi. Kalau bersamanya menjauhkan cintamu dari Allah, tinggalkan saja. masih banyak yang bisa membuatmu lebih salihah.




Semua orang yang ada di dalam rumah terkejut mendengar teriakan seseorang dari luar rumah mereka.



“Gavin?” ucap Elvan yang melihat ke arah pintu masuk rumah mereka.



Gavin yang melihat Elvan di dalam sana segera berlari menghampiri Elvan tanpa memperdulikan kedua orang tua Elvan yang sedang duduk di ruang tamu.



“Kak Elvan, di mana Aneisha? Apa dia baik-baik saja!?” tanya Gavin sambil memegang kedua bahu Elvan.



“Tenangkanlah dirimu lebih dulu Gavin, kamu bahkan tidak memperdulikan orang tuaku yang sedang duduk di sini sangking khawatirnya dengan Aneisha.” Ucap Elvan.



Gavin yang mendengar ucapan Elvan langsung membulatkan matanya dan menoleh ke arah kedua orang tua Elvan dan langsung menghampiri mereka.



“Ah, om Bagas, tante Mala, maafkan Gavin karena sudah berprilaku tidak sopan.” Ucap Gavin dengan nada penuh rasa bersalah.



“Sudahlah Gavin, tante tau kamu sangat mengkhawatirkan Aneisha, duduklah dulu, tante akan membuatkan minum untukmu.” Ucap mama Mala sambil beranjak dari tempat duduknya.



“Terimakasih banyak tante.” Ucap Gavin yang tidak menolak tawaran mama Mala untuk di ambilkan minum karena dia memang benar-benar sudah haus karena berlari.



“Kamu kenapa sampe ngos-ngosan begitu Gavin? Jangan bilang kamu berlari dari rumahmu sampai ke sini?” tanya papa Bagas.



“Gavin dari kampus om, tapi Gavin naik mobil sih ke sini, hanya saja tadi saat Aneisha bilang kalau dia habis di tabrak mobil, Gavin sedang berada di lantai paling atas gedung kampus, Gavin pikir kalau naik lift akan memakan waktu lama dan belum lagi lift pasti penuh karena itu memang waktunya para mahasiswa pulang kuliah, akhirnya Gavin turun lewat tangga darurat.” Jelas Gavin.



“Wah, jadi kamu rela turun lewat tangga darurat demi Aneisha?” canda papa Bagas.



Gavin yang mendengar ucapan papa Bagas langsung menatapnya sambil memamerkan gigi putihnya, dia sendiri juga bingung kenapa dia bisa sangat mengkhawatirkan Aneisha.



“Tentu saja Gavin mengkhawatirkan Aneisha pa, mereka sudah saling menjaga sejak mereka masih kecil.” Ucap Elvan yang membantu Gavin menjawab ucapan papanya.



Tidak lama kemudian mama Mala datang dengan nampan yang berisi air putih dingin dan orange juice untuk Gavin.


__ADS_1


“Minum dulu Gavin, sebentar lagi tante akan memanggil Aneisha di kamarnya, sepertinya dia masih belum selesai membersihkan dirinya.” Jelas mama Mala sambil menaruh nampan yang berisi gelas minuman di atas meja.



Akhirnya Gavin mengangguk dan langsung mengambil air putih yang ada di meja dan meminumnya hingga habis. Setelah melihat Gavin meminum air yang sudah di siapkan oleh dirinya, mama Mala segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menaiki tangga ke atas untuk memanggil Aneisha.



Sesampainya di depan kamar kedua putri sambungnya, mami Mala langsung mengetuk pintu kamar mereka sambil memanggil nama Aneisha.



Tidak lama kemudian, Aneisha membukakan pintu kamarnya dan tersenyum melihat mama Mala yang ada di hadapannya.



“Mama Mala? Ada apa?” tanya Aneisha.



“Kamu sudah mandi?” tanya mama Mala.



“Sudah ma, Aneisha juga sudah memberikan obat di kaki Anei.” Jelas Aneisha.



“Baguslah, kalau begitu sekarang ikut mama ke bawah ya.” ajak mama Mala.



“Loh kok ke bawah ma? Bukankah tadi mama menyuruh Aneisha untuk beristirahat?” tanya Aneisha yang merasa bingung dengan ajakan mama Mala.




“Apa?! Kak Gavin? Kenapa dia ke sini ma? Apa dia mau marah-marahin Aneisha?” tanya Aneisha.



“Tentu saja tidak! Kalau dia memarahi anak perempuan mama, mama akan menjewer telinganya.” Ucap mama Mala.



Aneisha yang mendengar ucapan mama Mala langsung tersenyum dan merangkul pinggang mama Mala lalu turun ke bawah bersama-sama untuk menghampiri Gavin.



“Hai kak Gavin.” sapa Aneisha yang baru saja sampai di bawah.



Gavin yang mendengar namanya di panggil oleh suara Aneisha langsung melihat ke asal suara dan langsung berdiri menghampiri Aneisha dan memengang kedua lengan Aneisha dengan kuat.



“Aneisha! Kamu ga apa-apa? Apa ada yang terluka? Bagaimana bisa kamu tertabrak? Aku kan sudah bilang untuk menungguku selesai kuliah, kenapa kamu tidak mau menurut!?” Sangking khawatirnya dengan keadaan Aneisha, Gavin memberikan banyak pertanyaan kepada Aneisha.



“Kak Gavin tenanglah, aku tidak apa-apa, lihatlah aku hanya terluka di bagian kakiku dan tanganku, lagipula aku yakin kalau sebentar lagi ini akan sembuh dengan cepat.” Jelas Aneisha sambil tersenyum ke arah Gavin.


__ADS_1


“Yaampun Anei, kamu ini bisa ga sih jangan bikin orang khawatir?” tanya Gavin.



“Kita ngobrol di taman aja yuk kak, kalo di sini kan ga enak ada mama Mala, papa Bagas dan kak Elvan.” Ucap Aneisha.



“Memangnya kenapa kalau ada kami di sini? Apa kalian mau membicarakan sesuatu yang privasi?” selidik mama Mala.



“Kamu ini seperti tidak pernah muda saja ma.” Ucap papa Bagas.



“Tau nih mama, biarin aja mereka berdua berbicara berdua di taman.” Sambung Elvan.



Akhirnya mama Mala mengijinkan Aneisha dan Gavin berbicara berdua di taman belakang rumah mereka. Sedangkan tidak lama kemudian, Aneska keluar dari kamarnya dan turun ke bawah dengan nampan yang berisi piring makanan yang tadi di bawa oleh Elvan.



“Kamu sudah bangun Aneska?” tanya Elvan yang melihat Aneska turun dari kamarnya.



“Hm, aku sudah bangun mandi dan memakan makanan yang sudah di siapkan di kamarku.” Jelas Aneska.



“Oh iya, mama Mala yang naruh makanan di kamar Aneska?” tanya Aneska kepada mama Mala.



“Bukan mama sayang, tapi Elvan yang menaruh makanan itu karena Aneisha bilang kalau di rumah sakit tadi kamu belum makan apapun.” Jelas mama Mala.



“Benarkah? terimakasih banyak kak Elvan.” Ucap Aneska dengan senyum di wajahnya.



“Untuk apa kamu berterimakasih? Sini aku akan menaruh piring kotor itu ke dapur.” Ucap Elvan sambil memegang nampan yang ada di tangan Aneska.



“No kak! Aku saja yang menaruhnya sekalian aku ingin mencucinya agar tidak perepotkan pelayan di rumah ini.” ucap Aneska.



“Yaampun Nes, lama-lama kita ga butuh pelayan lagi kalau kamu sering mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan di rumah ini.” canda papa Bagas.



Semua orang yang ada di sana terkekeh mendengar ucapan papa Bagas, sedangkan Aneska hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan pergi ke dapur meninggalkan semua orang di ruang tamu.



Di belakang, Aneska menaruh piring dan gelas kotornya di tempat cuci piring dan mulai mencuci bekas makanannya, para pelayan di rumah keluarga Bagaskara hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Aneska yang sangat rajin dan tidak pernah menolak untuk melakukan pekerjaan rumah, sedangkan semua pelayan di sana mengetahui kalau Aneska dan Aneisha adalah anak keluarga yang berkecukupan, tapi hal itu tidak pernah membuat Aneska menjadi malas dan manja.



“Kalau nona Aneska melakukan pekerjaan rumah terus-terusan, itu akan membuat tangan halus nona menjadi kasar.” Ucap bi Sari yang tidak lain adalah salah satu pelayan yang memang sudah bekerja lama di rumah keluarga Bagaskara.

__ADS_1



“Yaampun bibi bisa aja deh, Aneska ga perduli kalau tangan Aneska akan kasar, karena dulu almarhum mama Aneska pernah bilang kalau wanita kodratnya di dapur apapun pekerjaan dan status keluarganya.” Jelas Aneska kepada bi Sari.


__ADS_2