MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 37


__ADS_3

Waktu terlah menunjukkan pukul 5 sore, yang artinya beberapa jam lagi keluarga Bagaskara akan menghadiri penyambutan Clair di perusahaannya.


“Kak, kita harus dandan yang cantik agar menjadi pusat perhatian!” ucap Aneisha kepada kakaknya yang sedang membaca berkas-berkas kantor di meja kerjanya.


“Kamu ini gimana sih, pemeran utamanya bukan kamu malam ini Nei, berdandanlah seadanya.” Ucap Aneska yang menahan tawa mendengar ucapan adiknya.


“Tapi kak aku ingin menjadi yang paling cantik biar kedua saudara itu iri!”


“Tidak boleh bicara seperti itu! Kamu akan tetap cantik hanya karena polesan bedak dan lipstick Nei, dan jangan pernah membuat dirimu cantik karena mau membuat iri orang lain.” Jelas Aneska.


“Ya, ya, ya, kakak memang selalu seperti ini! Coba kalau aku bilang ke kak Elvan atau Evano, mereka pasti mendukungku.” Ucap Aneisha yang kesal dan langsung beranjak dari tempat tidurnya.


“Kamu mau kemana Nei?” tanya Aneska yang melihat adiknya berjalan menuju pintu kamar.


“Aku mau ke kak Elvan dan kak Evano saja! Ga seru kalau cerita ke kakak cewek!” ketus Aneisha yang di balas tawa oleh Aneska.


Aneisha meraih gagang pintu dan membuka pintu kamarnya, Aneisha terkejut saat melihat Evano sudah berada di depan pintu kamar mereka dan hampir saja mengetuk kening Aneisha.


“Duh kak Evano hampir aja nih jidat jadi lapangan bola!” ketus Aneisha.


“Tanpa di ketok juga udah lebar tuh jidat!” balas Evano yang di balas tatapan tajam oleh Aneisha.


“Oh iya, kak Evano ngapain kesini? Kak Anes ga terima mantan yang ngajak balikan ya!” ketus Aneisha.


“Ih gua juga ogah balikan sama cewek bawel kayak dia!” ketus Evano.


“Kakak juga menyebalkan, aku kalau di kasih gratis juga ga mau yek!” ucap Aneisha yang langsung berlari melewati Evano yang menghalangi pintu.


“Ih dasar bocah ingusan! Awas ya, tunggu pembalasanku!” teriak Evano.


“Nes!” panggil Evano yang sudah masuk ke dalam kamar Aneska.


“Ada apa sih Vano? Kamu berisik banget udah mau maghrib!” ketus Aneska yang masih fokus membaca berkas-berkas di mejanya.


“Adikmu tuh menyebalkan! Sudahlah tidak usah di bahas, aku ingin berbicara kepadamu.”


“Ada apa?”


“Nanti malam kamu ikut ke pesta penyambutan si nenek lampir kan?” tanya Evano.


Mendengar ucapan Evano membuat Aneska menghentikan aktifitasnya dan langsung menatap Evano dengan penuh tanda tanya.


“N-nenek lampir? Siapa nenek lampir?” tanya Aneska.


“Ya siapa lagi, Clair lah!” ketus Evano.


“Ngawur kamu! Dia calonnya kak Elvan, kenapa kamu bicara seperti itu ga sopan!”

__ADS_1


“Sudahlah jangan nyeramahin aku, aku mau minta tolong sama kamu nih..” rengek Evano.


“Apaan sih Van..”


“Kamu ajak sahabatmu itu ya! Siapa namanya, ah iya Kanaya!” ucap Evano.


“Apa? Untuk apa aku mengajaknya? Dia akan merasa tidak nyaman berada di sana Vano, dia tidak terbiasa berada di pesta seperti itu.”


“Dia akan terbiasa Nes… aku akan menemaninya, lagipula ada kamu juga kan di sana.”


“Kalau kamu menemani Kanaya, lalu bagaimana dengan Clara? Dia akan selalu menempel padamu seperti perangko.”


“Justru itu yang ingin aku hindari! Aku ingin membuat Clara melihat kalau aku sudah memiliki wanita yang aku suka, aku juga mau ngenalin Kanaya ke mami..”


“Please lah Ness….” Rengek Evano sambil menyatukan kedua tangannya untuk memohon kepada Aneska,


Melihat Evano melakukan hal seperti itu membuat Aneska menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang.


“Baiklah, aku akan coba untuk megajak Naya, tapi kalau dia menolak aku tidak ingin memaksanya ya.”


Mendengar ucapan Aneska membuat Evano tersenyum senang, dia bahkan bertepuk tangan seperti anak kecil membuat Aneska yang melihatnya hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain karena terlalu menggelikan.


“Ehem! Hayo kalian berdua di dalam kamar ngapain?” tanya Mala yang bersandar di ambang pintu kamar Aneska.


Aneska dan Evano melihat ke asal suara secara bersamaan.


“Kalian berdua sedang membicarakan apa, kenapa Evano sepertinya senang sekali?” tanya Mala.


“Dia sedang menyukai sahabat Mala ma, bahkan dia sampai memohon hanya karena ingin Mala mengajak sahabat Mala ke acara nanti malam.” Ucap Aneska.


“Benarkah itu? Sesuka itu kamu dengan sahabat Mala Evano?” tanya Mala.


“Hm, suka tante! Bahkan sebelum Evan tau kalau dia adalah sahabat Aneska juga Evan sudah menyukainya.” Tegas Evano.


Mendengar hal itu membuat Mala tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tiba-tiba Evano menggenggam tangan Mala dan membuatnya terkejut.


“Tantee…” rengek Evano.


“Hah? Kamu ngapain Evano?”


“Tante, bisakah tante membujuk mami untuk membatalkan perjodohanku? Aku sudah menyukai seseorang, mungkin kalau kak Elvan bisa pasrah karena dia juga tidak memiliki wanita yang dia suka, tapi kalau Evan? Evan


sudah menyukai sahabat Aneska..” ucap Evano.


“Yaampun Evan, sebaiknya kamu bilang langsung sama mami kamu, bicarakan baik-baik agar dia mengerti.” Ucap Mala.


“Ah, ngomong sama mami sama kayak ngomong sama tembok china te..”

__ADS_1


“Lah sama, om kamu aja ga berani bantah omongan mami kamu, gimana lagi tante.”


Mendengar ucapan tantenya itu hanya membuat Evano menghela nafas panjang, dia akhirnya keluar dari kamar Aneska dengan lemas.


“Lihatlah, sebenarnya mama kasihan melihatnya seperti itu, tapi ya mau gimana lagi.” Ucap Mala sambil melihat Evano yang sudah keluar dari kamar.


“Anes yakin kalau tante Cherry memilih yang terbaik untuk anaknya.” Ucap Aneska.


“Sudahlah lupakan saja..”


“Oh iya mama ada apa kemari?”


“Nah kan sampe lupa! Ayo ke kamar mama, Aneisha juga ada di sana dia sedang mencoba gaun yang mama punya.”


“Yaampun ngapain dia di sana ma, padahal gaunnya juga banyak di sini.” Ucap Aneska.


“Udah biarin aja, lagian gaun mama banyak yang masih baru dan ga pernah mama pake.” Ucap Mala.


“Baiklah kalau begitu, sebentar ya ma Aneska mau rapihin meja dulu.” Ucap Aneska.


“Kalo gitu mama tunggu di kamar ya Nes..” ucap Mala yang di balas anggukan oleh Aneska.


Aneska merapihkan tumpukan kertas yang berserakan di atas meja kerjanya, kedua matanya terpaku pada bingkai foto yang ada di pojok meja kerjanya, Aneska menatap kedua orang yang ada di dalam bingkai tersebut yang tidak lain adalah foto kedua orang tuanya.


“Pa, ma, kalian bisa tenang di sana karena di sini Anes dan Anei memiliki seseorang yang sangat menyayangi kami, papa Bagas dan mama Mala sangat menyayangi kami seperti anak kandungnya sendiri, bahkan kak Elvan sangat menyayangi kami.” Gumam Aneska sambil mengelus bingkai foto tersebut.


Aneska segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke kamar Mala. Di dalam kamar terlihat Aneisha yang sedang memilih berbagai macam gaun bermacam-macam warna.


“Nei, kamu kok nyusahin mama Mala sih?” tanya Aneska.


“Kak sini deh, mama Mala punya gaun bagus-bagus loh.. masih pada baru lagi!” ucap Aneisha sambil menunjukkan gaun yang ada di tangannya.


“Iya masih banyak yang baru tapi ga pernah di pake soalnya mama cuma suka beli yang di pake ya yang itu-itu aja.” Ucap Mala.


“Anei boleh ambil ga ma?”


“Tentu saja boleh sayang! Kalau bukan buat kalian buat siapa lagi coba? Masa Elvan pake kayak beginian.” Ucap Mala yang di balas tawa oleh Aneska dan Aneisha.


“Oh iya, katanya kamu mau ke kak Elvan Nei, kenapa jadi nyasar kesini?”


“Tadi aku ngetok pintu kak Elvan, tapi kak Elvan gaada katanya lagi keluar ada urusan.” Ucap Aneisha.


“Iya, Elvan bilang dia mau bertemu dengan clientnya sebentar.” Ucap mama Mala.


“Bertemu client? Siapa ma? Tapi di jadwal kak Elvan gaada pertemuan dengan client sekarang.”


“Entahlah, mungkin temannya makanya dia ga bilang sama kamu.” Ucap Mala yang di balas anggukan oleh Aneska.

__ADS_1


__ADS_2