MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 59


__ADS_3

"Hikss,, hikss... Kemana aku harus pergi sekarang? Lebih baik aku menghubungi Kanaya saja deh.." gumam Aneska yang langsung mengambil hpnya dan menghubungi sahabatnya.


FLASHBACK


Setelah Elvan melakukan hal keji kepada Aneska, Elvan langsung tertidur tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sedangkan Aneska hanya bisa menangis sambil menjauh dari Elvan dan segera berlari ke kamar mandi. Aneska menggosok semua tubuhnya dengan kasar karena merasa dirinya sudah kotor dan tidak suci lagi.


Walaupun dalam agama, Aneska tidaklah kotor karena Elvan adalah suami sahnya dalam agama maupun negara, namun keduanya menikah karena terpaksa, keduanya tidak saling memiliki perasaan.


Dan terlebih lagi, bukankah berhubungan dalam keadaan tidak sadar termasuk ke dalam pemerkosaan? Itulah yang sedang di rasakan oleh Aneska, kotor! Tubuhnya benar-benar kotor malam itu.


Aneska yang sudah tidak tahan memutuskan untuk mengemasi barang-barangnya dan memutuskan untuk pergi dari apartment Elvan.


"Aku membencimu kak! Sangat membencimu! Aku fikir kamu tidak akan melakukan hal seperti ini, tapi ternyata kamu sama saja seperti laki-laki lain!" ketus Aneska sambil menatap tajam ke arah Elvan yang sedang tertidur pulas.


Setelah itu, Aneska langsung keluar dari apartment dan ingin pergi menjauh dari Elvan.


FLASHBACK END


"Halo Nes? Ada apa malem-malem nelfon?" Tanya Kanaya dari sebrang telfon.


"Nay, apa aku mengganggumu?" Tanya Aneska.


"Tentu saja tidak Nes! Ada apa?"


"Apa kamu bisa menjemputku Nay? Jemput aku di dekat apartment kak Elvan." ucap Aneska.


Dari suaranya, Kanaya tau betul kalau Aneska pasti habis menangis. Tanpa bertanya apapun lagi akhirnya Kanaya segera menjemput sahabatnya itu.


Tiinn!!! Suara klakson mobil yang tepat berada di hadapan Aneska membuatnya terkejut bukan main.


"Hai sahabatku tersayang!!" seru Kanaya sambil melambaikan tangannya.


"Gila kamu Nay! Mau buat aku jantungan ya!?" ketus Aneska.

__ADS_1


"Maaf kalo kamu kaget Nes, aku cuma berusaha untuk mencairkan lamunan sahabatku ini kok.." jelas Kanaya.


"Sudahlah ayo masuk ke dalam mobil!" ajak Kanaya.


Dengan segera Aneska menaiki mobil dan Kanaya segera melajukan mobilnya.


"Nes, apakah aku sudah boleh bertanya?" Tanya Kanaya.


"Jangan Nay, tolong jangan tanyakan apapun kepadaku lebih dulu." ucap Aneska yang masih menatap kosong ke depan.


Mendengar ucapan Aneska membuat Kanaya terdiam dan kembali fokus menyetir hingga mereka berdua sampai di apartment Kanaya.


"Masuklah, Gavin ga ada kok jadi kamu bisa menangis sepuasmu." ucap Kanaya sambil membukakan pintu.


Aneska hanya tersenyum sekilas kepada Kanaya lalu masuk ke dalam apartment sahabatnya itu dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa.


"Mau minum apa? Yang dingin apa yang anget?" Tanya Kanaya.


"Engga ah, aku ga mau apa-apa Nay.. Makasih ya udah mau nampung aku di sini." ucap Aneska.


"Yaelah Nes, aku seneng banget malah kalo kamu main ke sini terus.. Emang sebenernya ada apa sih?" Tanya Kanaya yang sudah benar-benar penasaran.


"What?! Sama siapa Nes! Aku hajar tuh cowok!" ucap Kanaya yang terbawa emosi.


"Sama kak Elvan.."


Mendengar nama Elvan membuat Kanaya yang tadinya emosi seketika langsung terkejut lalu menatap ke arah Aneska.


"Kak Elvan suami kamu Nes, ya kalian ga akan dosa berhubungan suami istri!" ucap Kanaya.


"Tapi kita tidak saling menyukai Nay, dia juga memaksaku melakukannya dalam keadaan yang tidak sadar! Apa itu namanya hubungan suami istri?!"


"K-kak Elvan tidak mungkin melakukan hal itu bukan Nes? Kak Elvan mabuk maksudmu? Tapi kak Elvan bukan tipe orang yang suka minum deh."


"Entahlah!" ucap Aneska singkat.

__ADS_1


"Nes, sepertinya kamu harusnya ga kabur gini deh. Kalian bisa ngomongin hal ini baik-baik kan?" bujuk Kanaya.


"Ngomong baik-baik katamu?! Nay, orang kalo cuma ngomong tuh pinter! Terus aku gimana? Gimana perasaan aku, gimana rasanya saat kita udah percaya banget sama seseorang tapi ternyata orang itu yang mengingkari janjinya sendiri?" ucap Aneska.


"Okey Nes, baiklah aku akan membantumu! Emang kamu mau ngapain setelah ini?"


"Bantu aku pindah Nay! Ga perlu ke luar negeri, cukup pindah ke kota yang berada di pedesaan aja karena aku ingin menenangkan diri." ucap Aneska.


"Hah!? Gila ya Nes, kenapa harus pindah? Terus kerjaan kamu di sini gimana?" Tanya Kanaya.


"Kamu bisa kan gantiin aku Nay? Gaji yang aku dapet buat kamu, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri aja kok." ucap Aneska.


"Gila kamu Nes! Ga mau! Ayo aku anter kamu pulang, kak Elvan pasti udah hubungin orang tuanya dan mereka pasti panik karena kamu kabur." ucap Kanaya.


"Engga Nay! Aku gabisa liat kak Elvan! Aku membencinya Nay!"


Kanaya hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Mau sampai kapan kamu menghindarinya?"


"Sampai aku tenang, ga akan lama kok Nay.. Aku hanya ingin menata hidupku lagi secara perlahan." ucap Aneska.


"Baiklah, aku akan mengantarmu ke tempat tanteku yang ada di kota C. Nanti dia yang akan membantumu dan memberikan tempat tinggal untukmu." ucap Kanaya.


"Kamu punya tante di Indonesia?"


"Tentu saja! Emang kamu fikir yang kabur dari keluarga besarku hanya aku dan Gavin?" ucap Kanaya.


"Baiklah kalau begitu, terimakasih banyak karena sudah mau membantuku Nay, kamu memang benar-benar sahabat terbaikku!" ucap Aneska.


"Sudahlah jangan lebay! Lebih baik kamu mandi setelah itu istirahatlah, besok aku akan mengantarmu ke sana." ucap Kanaya.


"Aku sudah mandi, jadi aku akan langsung istirahat ya Nay, sekali lagi terimakasih... Aku mohon jangan beritahu siapapun termasuk Aneisha tentang keberadaanku." ucap Aneska.


"Baiklah, aku tidak akan bicara kepada siapapun." balas Kanaya.

__ADS_1


Akhirnya Aneska memutuskan untuk masuk ke dalam kamar sahabatnya dan beristirahat di sana karena sebenarnya seluruh tubuhnya benar-benar terasa remuk.


"Aku benar-benar membencimu Elvan!" gumam Aneska sebelum akhirnya mencoba untuk memejamkan kedua matanya.


__ADS_2