MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 49


__ADS_3

"Halo kak Gavin.." sapa Aneisha dengan penuh semangat.


"Hai Nei, sepertinya kamu senang sekali, ada apa?" Tanya Gavin.


"Kak, bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."


"Tentu saja bisa, kapan Nei? Hari ini aku senggang kok."


"Sekarang aja kak, aku juga lagi ga ada jadwal jadi aku ada di rumah."


"Kalau begitu aku jemput ke rumah om Bagas ya, siap-siaplah." ucap Gavin yang langsung mematikan telfonnya.


Setelah bersiap, Gavin segera melajukan mobilnya menuju rumah Bagas untuk menjemput Aneisha.


Sesampainya di rumah Bagas, Gavin segera masuk ke dalam sambil memberi salam, sudah lama sekali dia tidak masuk ke dalam rumah itu.


"Gavin? Yaampun sudah lama tidak bertemu kamu semakin tampan saja." puji Mala yang saat itu sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah fashion.


"Hai tante,, apa kabar?"


"Baik Gavin, duduklah di sini. Kamu pasti nunggu Aneisha kan?"


"Iya tante, Gavin nunggu Aneisha, dia bilang ada yang mau di omongin." ucap Gavin.


"Eh, tuh anaknya udah turun, kalo gitu tante tinggal dulu ya ke atas." ucap Mala yang di balas anggukan oleh Gavin.



"Entah perasaanku saja, atau memang kenyataannya tapi aku merasa Aneisha semakin cantik, dia memang selalu bisa membuat hatiku berdebar." gumam Gavin yang terpesona melihat Aneisha setelah beberapa bulan tidak bertemu.


"Hai kak Gavin!" sapa Aneisha dengan semangat.


"Hai tuan putri.." sapa Gavin.


"Kak Gavin selalu memanggilku tuan putri! Aku kan jadi malu tau.."


"Hehe sudah jangan berdebat lagi, ayo pamit sama tante Mala biar ga kemaleman juga nanti pulangnya." ucap Gavin.


Dengan segera Aneisha mengajak Gavin berpamitan kepada Mala yang sedang menanam bunga di halaman belakang.


Setelah berpamitan, mereka berdua segera pergi ke cafe yang selalu menjadi langganan mereka.

__ADS_1


"Jadi, ada sesuatu apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Gavin.


"Ah iya kak, aku mau ngasih tau kabar gembira!!"


"Apa itu? Kamu terlihat sangat senang sekali."


"Aku mendapat kontrak untuk menjadi artis kak! Bahkan aku akan menandatangani kontrak itu nanti malam." jelas Aneisha.


"Benarkah?" Tanya Gavin yang terkejut mendengar ucapan Aneisha.


"Iya kak benar! Bla..bla..bla.." Aneisha mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhirnya dia bisa di tawari untuk menjadi artis.


Awalnya Gavin sangat bahagia karena Aneisha akan menjadi artis, namun di sisi lain ada perasaan takut di hatinya. Takut jika wanita yang ada di hadapannya semakin sibuk dan tidak memiliki waktu untuknya.


Takut jika tuan putri kesayangannya akan menjadi jauh untuk di jangkau olehnya, dia juga takut jika Aneisha akan bertemu dengan laki-laki yang lebih baik dari Gavin dan lebih pantas bersanding dengan Aneisha.


"Kak, kenapa kak Gavin diem aja?" Tanya Aneisha memecah keheningan di antara mereka.


"Eh! Maaf Nei, aku sangat senang mendengar kabar darimu sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi." ucap Gavin berbohong.


"Pokoknya selamat atas kontrak kerjamu, aku hanya ingin berpesan padamu agar kamu tetap menjadi Aneisha yang aku kenal, kamu harus tetap menjadi orang yang baik dan jangan sombong. Tetaplah jadi tuan putriku Aneisha." lanjut Gavin.


"Aku akan tetap menjadi tuan putrimu kak Gavin!" ucap Aneisha dengan senyuman di wajahnya.


***


"Kak, apa kak Kevin sudah siap ke rumah papa dan mama?" Tanya Aneska.


"Sudah tentu saja! Ayo kita berangkat." ajak Kevin.


Kevin dan Aneska siap untuk pergi ke rumah Bagas untuk meminta ijin secara langsung kepada Bagas dan Mala jika mereka ingin menikah.


"Apa kamu tidak tegang kak?"


"Tidak tuh, kenapa?"


"Aku tegang banget loh padahal kan yang bakalan ngomong sama mereka kakak." ucap Aneska.


"Kamu terlalu banyak pikiran! Om Bagas dan tante Mala sangat baik jadi mereka tidak akan membuat kita tegang." ucap Kevin.


Mendengar hal itu membuat Aneska sedikit lebih tenang dan akhirnya dia berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak tegang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Aneska dan Kevin segera masuk ke dalam rumah. Di sana Bagas dan Mala sudah siap menyambut kedatangan Aneska dan Kevin karena sebelumnya mereka sudah menghubungi rumah.


"Hai om, tante.." sapa Kevin.


"Hai Kevin, duduklah." ucap Bagas dengan ramah.


"Kalian berdua duduklah, aku akan menyuruh bibi membuat minuman untuk kalian." ucap Mala.


"Ga usah repot-repot tante, kita masih harus kembali bekerja setelah ini." ucap Kevin dengan sopan.


"Kami juga sudah tau maksud kedatangan kalian di sini, kalian berdua tidak perlu mengatakan lagi." ucap Bagas.


"Hehehe, saya ingin meminta ijin untuk menikahi Aneska om.."


"Kami tentu saja mengijinkannya selama kamu bisa menjaga anak perempuan kami, selama kamu bisa bertanggung jawab atas dirinya dan mampu mencukupi kebutuhannya." ucap Bagas.


"Tentu saja om, Kevin akan selalu menjaga Aneska, memenuhi semua kebutuhannya dan selalu bertanggung jawab atas dirinya." ucap Kevin.


"Bagus kalau begitu, kami akan merestui kalian, jangan lupa kenalkan kami dengan orang tua kamu juga nanti." ucap Mala.


"Iya tante, papa dan mamaku akan kemari saat acara pernikahan karena mereka sedang sibuk." ucap Kevin.


"Baiklah kalau begitu, tante juga akan membantu persiapan pernikahan kalian, soalnya udah sebulan lagi loh ada banyak yang harus kalian lakukan." ucap Mala.


"Tentu saja tante, terimakasih banyak sudah mau membantu persiapan acara pernikahan kami." ucap Kevin.


"Kalau begitu Anes sama kak Kevin berangkat kerja lagi ya, tadi ijinnya sama kak Elvan bentar doang." ucap Aneska.


"Yaelah Nes, Elvan doang ga akan marah lah."


"Kak Elvan emang ga marah ma, tapi Evano yang marah soalnya ga bisa gantian." ucap Aneska.


"Ya anak itu emang ga biasa di suruh kerja gitu, dia cuma biasanya merintah aja jadi sekarang Elvan mau ngajarin dia." ucap Mala.


Akhirnya setelah berbicara dengan Bagas dan Mala, Aneska dan Kevin berpamitan untuk kembali ke perusahaan.


"Kak, kenapa kak Kevin ga pernah ngenalin aku dengan keluarga kakak?" Tanya Aneska.


"Mereka sibuk Nes, nanti setelah mereka selesai pasti akan langsung kemari." ucap Kevin.


Aneska hanya menganggukkan kepalanya, sebenarnya selama ini Aneska tidak pernah mengenal orang tua Kevin sama sekali, tapi dia berusaha untuk mengerti keadaan orang tua Kevin yang sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2