
Drrtt,, drrtt..
Hp Kanaya berbunyi di saat dirinya sedang asik menonton acara kesukaannya di televisi bersama sang adik.
"Kak, hp kakak bunyi tuh! Masa iya ga denger sih." ucap Gavin.
Dengan segera Kanaya mengambil hpnya dan segera menjauh dari adiknya untuk mengangkat telfon.
"Halo Nes? Ada apa?" ucap Kanaya yang sudah mengangkat telfonnya.
"Kamu sedang apa Nay? Apa aku mengganggu?"
"Tidak kok, ada apa?"
"Aku mau mengajakmu pergi ke acara penyambutan Clair."
"Clair? Siapa Clair?"
"Ah, kamu ga tau ya Nay? Kita benar-benar sibuk sampai tidak pernah bertemu untuk bercerita seperti dulu."
"Memang! Kamu sibuk dengan pekerjaanmu sebagai sekretaris Aneska!" ketus Kanaya dengan nada bercanda.
"Pokoknya kamu harus datang ya, aku akan menceritakan semuanya padamu."
"Tapi Nes, kamu tau kan aku tidak suka berada di tempat seperti itu."
"Kamu harus berusaha keluar dari zona nyaman Nay, aku yakin kamu bisa dan aku akan menginap di apartmentmu selama seminggu!" ucap Aneska dengan semangat.
Mendengar hal itu membuat Kanaya bersemangat tapi juga curiga kepada sahabatnya itu.
"Kok aku jadi curiga ya?"
"Loh curiga kenapa?"
"Kamu kenapa sampe segitunya mau ngajak aku ke acara seperti ini?" selidik Kanaya.
"Sudahlah pokoknya kamu harus datang ya, bye sayangku..." ucap Aneska yang langsung mematikan telfonnya.
Kanaya hanya menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang dengan seenaknya mematikan telfonnya.
"Ada apa kak? Kak Aneska yang telfon?" Tanya Gavin yang melihat kakaknya sudah kembali.
"Hm, dia mengajakku ke acara penyambutan seseorang."
"Acara?"
"Iya, dia benar-benar ingin aku datang bahkan sampai mau menginap selama seminggu di sini."
"Datanglah kak, anggap saja kamu sedang berada di pesawat." ucap Gavin.
"Mana bisa begitu! Di pesawat sangat tenang, sedangkan di tempat seperti itu akan sangat berisik dan menjadi ajang untuk membicarakan orang!" ketus Kanaya.
"Tapi kak Aneska bisa bertahan di sekitar mereka kak." ucap Gavin.
Mendengar ucapan Gavin membuat Kanaya berfikir karena apa yang di katakan Gavin memang benar.
__ADS_1
"Baiklah aku akan datang! Puas kan?" Tanya Kanaya yang di balas anggukan oleh Gavin.
***
Di sisi lain, Evano sangat bersemangat menunggu kedatangan Kanaya di depan pintu masuk.
"Kak Evano! Kenapa kakak di sini? Aku mencarimu kemana-mana tau!" ucap Clara dengan kedua tangan yang menyilang di dadanya.
"Ngapain kamu nyari aku? Ga penting banget!" ketus Evano.
"Ayo masuk ke dalam kak, semua orang sedang berkumpul dan membicarakan pertunangan kak Clair." ucap Clara.
"Tidak penting!" ketus Evano.
"Kak, kenapa kak Evano begitu? Mereka akan menjadi keluarga bukankah seharusnya kamu senang?"
"Kak Elvan tidak pernah bahagia bersama kakakmu, sama seperti aku yang tidak bahagia denganmu!" ketus Evano.
Mendengar hal itu membuat Clara kesal, sejak awal memang Evano selalu menjauhinya.
"Emang kak Evano ngapain di sini?"
"Menunggu kekasihku!"
"Apa!? Bohong! Kamu tidak memiliki kekasih, kita sudah di jodohkan kak, kamu tidak boleh memiliki kekasih selain aku!"
Belum sempat Evano menjawab ucapan Clara, dia melihat Kanaya yang keluar dari mobil yang mengantarnya.
Evano terpesona melihat penampilan Kanaya yang saat itu memakai gaun berwarna krem dan rambut yang terurai.
"Kamu sedang melihat apa kak Evano!" ketus Clara yang mengetahui kalau Evano sedang menatap seorang wanita.
"Kamu ini berisik sekali sih!? Dia adalah kekasihku, lebih cantik darimu bukan? Itulah kenapa aku tidak tertarik sama sekali denganmu!" ketus Evano yang langsung berjalan mendekati Kanaya.
Sedangkan Clara yang kesal langsung masuk ke dalam untuk mengadu kepada orang tua mereka.
"Hai Nay." sapa Evano dengan senyum manisnya.
"Kamu! Kenapa kamu ada di sini!?" ketus Kanaya.
"Aku sedang menjemputmu."
"Aku tidak mau di jemput olehmu! Dimana Aneska!?"
"Dia ada di dalam sedang sibuk mengobrol dengan rekan bisnisnya, jadi aku kemari untuk menjemputmu." ucap Evano.
"Tapi dia bilang mau menjemputku, aku akan menghubunginya." ucap Kanaya yang mau mengambil hp di dalam tasnya.
Namun Evano menghalangi Kanaya untuk menghubungi Aneska.
"Percuma kamu menghubunginya, dia sedang sibuk, sebaiknya kamu ikut aku masuk ke dalam dan aku akan mengantarmu bertemu dengan Aneska." ucap Evano.
Awalnya Kanaya Ragu dengan ajakan Evano, tapi dari pada dia tidak boleh masuk karena tidak memiliki undangan akhirnya Kanaya setuju untuk ikut ke dalam bersama Evano.
"Mana Aneska? Katanya kamu mau mengantarku bertemu dengannya." Bisik Kanaya.
__ADS_1
"Diamlah sebentar, aku membutuhkanmu untuk berpura-pura menjadi kekasihku!" Bisik Evano.
Mendengar hal itu membuat Kanaya terkejut dan langsung mematung di tempatnya berdiri.
"A-apa kamu bilang!? Kamu tidak berbicara apa-apa tentang hal ini Evano!" ketus Kanaya.
"Aku mohon Nay, aku benar-benar membutuhkanmu, aku tidak mau di jodohkan seperti kak Elvan." ucap Evano memohon.
Belum sempat Kanaya setuju dengan permintaan Evano, tiba-tiba Evano menarik tangan Kanaya dan merangkul pinggangnya.
"Jangan kurang ajar Evano!" ketus Kanaya yang mau menyingkirkan tangan Evano namun Evano justru semakin erat merangkul pinggangnya.
"Diamlah, mamiku sedang berjalan kemari!" Bisik Evano.
Kanaya menoleh ke arah Cherry yang sedang berjalan dengan tatapan tajamnya, sedangkan di sebelahnya ada Clara yang menatap ke arah Kanaya dengan sinis.
Kanaya tidak bisa melakukan apapun lagi, dia hanya bisa pasrah mengikuti permainan Evano.
"Hai mami." sapa Evano dengan ramah.
"Evano, apa yang sedang kamu lakukan di sini? Bukankah mami mengatakan untuk tetap berada di dekat Clara!" ketus Cherry.
"Bagaimana ini mi? Tapi Evano juga harus menyambut kekasih Evano." ucap Evano sambil melirik ke arah Kanaya.
Kanaya hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala sedikit untuk menyapa Cherry.
"Kekasih? Jadi yang kamu bilang tentang kekasih itu benar? Siapa wanita ini?"
"Bukankah Evano sudah bilang kalau dia adalah kekasih Evano mami, namanya Kanaya."
"Kanaya? Apa pekerjaanmu? Dan apa pekerjaan orang tuamu?" Tanya Cherry dengan ketus.
"S-saya bekerja sebagai pramugari tante, saya sudah tidak tinggal dengan orang tua saya sejak saya kuliah, jadi saya hanya tinggal dengan adik laki-laki saya di sebuah apartment sederhana." jelas Kanaya.
"Apa!? Jadi kamu hanya pramugari dan juga kamu menghidupi adikmu?"
Pertanyaan Cherry benar-benar sangat merebahkan Kanaya, terutapa ekspresi wajahnya. Hal itu membuat Kanaya kesal namun dia berusaha untuk tetap santai menghadapi hal itu.
"Apa ada masalah dengan pekerjaan yang saya lakukan tante?" Tanya Kanaya.
"Tentu saja ada! Anakku akan mewarisi perusahaan keluarganya, sedangkan kamu hanya bekerja sebagai pramugari? Ada banyak sekali pramugari yang tidak jelas asal usulnya!" ketus Cherry.
"Mami stop!" bentak Evano yang tidak terima jika maminya mengatai Kanaya.
Jujur saja, saat itu Kanaya juga terkejut karena tidak menyangka kalau Evano akan membentak maminya seperti itu.
"Kamu membentak mami? Bahkan kamu berani membentak mami karena wanita ini!?" ketus Cherry.
"Tante, jika memang ada beberapa pramugari yang tidak benar pernah tante temui, jangan salahkan pekerjaannya, salahkan orangnya." ucap Aneska.
"Jadi jangan memandang pekerjaan seseorang sebelah mata tante, karena pekerjaan apapun itu sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan!" lanjut Kanaya.
"Hah! Jadi kamu berani menceramahi aku? Lihatlah Evano, bahkan sebelum menjadi istrimu dia sudah berani menceramahi mami!"
Evano tidak menghiraukan ucapan maminya, dia hanya menatap kagum ke arah Kanaya.
"Kanaya benar mami, mami tidak boleh menilai pekerjaan seseorang." ucap Evano.
__ADS_1
Perdebatan Evano, Kanaya dan Cherry membuat mereka menjadi pusat perhatian di sana, hingga semua orang yang berada di acara itu melihat ke arah mereka.