MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 58


__ADS_3

Hari itu adalah hari yang sangat berat bagi Aneska, karena harus bertemu bahkan bekerja bersama sang mantan calon suaminya yang meninggalkan pernikahannya.


"Jangan dengarkan semua sindiran Kevin tadi Nes, dia itu laki-laki tidak tau diri emang!" ketus Daniel sambil membereskan berkas yang ada di atas mejanya.


"Aku juga tidak memikirkannya sama sekali kak, jadi tenang saja." balas Aneska.


Elvan hanya menatap wajah Aneska dengan seksama, dia hanya bisa memperhatikan ekspresi wajah Aneska.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya, kalian berdua berhati-hati lah saat pulang!" ucap Daniel yang langsung pergi meninggalkan ruangan rapat.


Hanya tersisa Elvan dan Aneska saja lah yang ada di dalam ruangan tersebut, keduanya hanya sibuk dengan berkasnya masing-masing tanpa berbicara sedikitpun.


"Nes, kamu baik-baik saja?" Tanya Elvan yang memulai pembicaraan.


"Baik-baik saja? Tentu tidak kak hikss,, hikss.. Kenapa dia begitu jahat padaku kak, kenapa dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa." ucap Aneska yang mulai menangis.


Elvan sakit saat melihat Aneska menangis, terlebih saat Aneska menangis karena laki-laki lain. Dan untuk kedua kalinya Elvan memeluk Aneska untuk menenangkannya.


"Tenanglah, ada aku di sini Nes jadi jangan menangis lagi oke?" ucap Elvan sambil membelai rambut Aneska.


"Kenapa dia jahat sekali kak! Memangnya apa yang aku lakukan sampai dia mempermainkan aku seperti itu.."


"Sudahlah jangan menangis lagi nanti cantiknya hilang! Ayo lebih baik kita pulang Nes dan membeli makanan yang kamu inginkan." ajak Elvan sambil menghapus air mata Aneska yang membasahi pipinya.


Keduanya akhirnya pulang ke apartment bersama, namun sebelum itu mereka berdua mampir ke restaurant untuk makan bersama.


Sesampainya di apartment, Elvan menaruh tas kerjanya di sembarang tempat, Aneska yang melihat hal itu langsung mengambil tas kerja Elvan dan menaruhnya di tempatnya.


"Kak, naro tasnya yang bener dong, nanti kalo ada yang ilang bingung nyarinya." ucap Aneska.


"Maaf Nes, aku biasa gitu apalagi kalo lagi capek." balas Elvan.


"Dasar!!" ketus Aneska sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan galak-galak Nes, nanti cepet tua hehehe... Oh iya aku keluar dulu ya sama teman-teman SMA ku." ucap Elvan.


"Ya mandi dulu lah kak, masa iya mau keluar ga mandi, nanti gaada yang mau loh!" canda Aneska.


"Ciye udah bisa bercanda nih? Lagian kan udah punya istri yang cantik begini, gaakan ada yang bisa nandingin lah.." balas Elvan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Elvan membuat Aneska tersipu malu dan menundukkan kepalanya. Sedangkan Elvan segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan bersiap keluar dengan teman-temannya.



Elvan sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih, dia segera berpamitan kepada Aneska.


"Hati-hati ya kak.." ucap Aneska sambil melambaikan tangannya kepada Elvan.


"Kamu yakin ga mau ikut?" Tanya Elvan.


"Engga deh, aku di sini aja kak.. Udah capek banget aku seharian kerja."


Elvan hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Elvan lalu dia segera pergi meninggalkan Aneska di apartment.


Setelah kepergian Elvan, Aneska segera masuk ke dalam kamarnya dan berbaring sambil memainkan hpnya sampai dirinya mengantuk dan akhirnya tertidur.


Drrtt,, drrtt.. Hp Aneska berdering berkali-kali hingga membuatnya terkejut dan terbangun dari tidurnya, dengan segera Aneska mengangkat telfonnya saat melihat nama yang ada di layar hpnya.


"Halo mama.." sapa Aneska setelah mengangkat telfon dari Mala.


"Hai sayang,,, kamu tidur? Kenapa kamu tidak pernah menghubungi mama? Kamu ga tau kalau mama rindu?" Tanya Mala.


"Kalian berdua harusnya bulan madu bukan sibuk bekerja.."


"Apa sih ma, kami belum memikirkan tentang bulan madu.." jawab Aneska.


BRAK!! Tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu apartment dengan kencang hingga membuat Aneska terkejut.


"Ma, matiin dulu ya kayaknya kak Elvan sudah datang.. Nanti Anes telfon lagi ya ma.." ucap Aneska yang langsung mematikan telfon tanpa mendengar jawaban dari Mala.


Belum saja Aneska membuka pintu kamar untuk melihat siapa yang datang, tiba-tiba Elvan sudah membuka pintu kamar Aneska yang memang tidak pernah di kunci.


Aneska benar-benar terkejut dan ketakutan, terlihat sekali wajah Elvan sangat merah dan terlebih lagi Aneska lupa kalau saat itu dirinya sedang memakai pakaian tidur sexynya.



"K-kak Elvan!? A-ada apa denganmu kak!?" ucap Aneska sambil mundur selangkah demi selangkah.


"N-nes... T-tolong a-aku..." ucap Elvan yang sedang menahan sesuatu.

__ADS_1


"Ada apa kak!? Kenapa kamu seperti ini? Kamu mabuk!?" Tanya Aneska.


"Nes, m-maafkan aku.. A-aku t-tidak bermaksud.." ucap Elvan yang terpotong karena dia sudah memeluk Aneska dengan erat.


Aneska yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa berusaha untuk mendorong tubuh Elvan dan memohon kepadanya.


Aneska tidak bisa berteriak karena apartment mereka memiliki dinding yang kedap suara, jadi percuma saja jika Aneska berteriak saat itu.


"Kak! Aku mohon kak jangan lakukan ini hikss..."


"Maaf Nes, aku.. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan nafsuku." ucap Elvan yang terus saja melanjutkan aksinya.


"Sadar kak!" teriak Aneska saat Elvan sudah menembus pertahanan Aneska.


Namun Elvan benar-benar sudah tidak bisa terkontrol, Elvan seperti bukan Elvan yang Aneska kenal.


Percuma rasanya Aneska berontak, karena kekuatan Elvan jauh lebih besar daripada dirinya, Aneska hanya bisa menangis saat itu, dia hanya bisa pasrah dan membenci Elvan.


"Aku membencimu Elvan!!" ucap Aneska dengan nada lemah karena sudah kehabisan tenaga.


Bayangan Elvan yang lembut dan bertanggung jawab di fikiran Aneska seketika menghilang begitu saja hanya karena ***** belaka.


💙💙💙


Keesokan paginya, Elvan membuka matanya secara perlahan karena pantulan sinar matahari yang menyilaukan.


Elvan terkejut saat melihat dirinya yang sudah tidak memakai sehelai benangpun, dengan segera Elvan menoleh ke sebelahnya namun tidak melihat Aneska sama sekali, yang dia lihat hanyalah sedikit noda darah di atas seprai dan sepucuk surat.


Dengan segera Elvan membuka surat tersebut dengan perasaan khawatir.


'AKU MEMBENCIMU ELVAN!'


Hanya kata itulah yang tertulis di atas kertas tersebut. Dengan segera Elvan yang merasa bersalah segera turun dari tempat tidur dan membuka semua lemari Aneska yang ternyata sudah kosong tidak tersisa.


"Aneska, maafkan aku! Aargghh!!" teriak Elvan sambil menjambak rambutnya sendiri.


Dengan segera Elvan membersihkan tubuhnya lebih dulu lalu segera menghubungi Aneska karena Elvan berharap agar Aneska mau mengangkat telfonnya.


"Bodoh! Bodoh kamu Elvan!! Bagaimana bisa kamu menodai seorang wanita baik seperti Aneska!!" teriak Elvan yang benar-benar frustasi sambil melempar semua barang yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2