
“Apa!? Ke bar? Sendirian? Malem-malem?” tanya Gavin.
“Ya iyalah malem Vin, mana ada bar buka tengah hari bolong!” ucap Kanaya.
“Kamu kayak ga pernah ke bar aja deh!” ketus Kanaya kembali.
“Ya pernah, tapi kakak kan cewek, berani banget sendirian malem-malem ke bar.” Ucap Gavin.
Kanaya hanya bisa diam mendengar ocehan sang adik yang sedang mengkhawatirkannya.
“Tenanglah Gavin, aku baik-baik saja kok.” Ucap Kanaya.
“Kak, kakak bisa saja kenapa-kenapa di sana!”
“Tapi engga kan? Aku baik-baik saja sekarang kan? Jadi jangan berlebihan, kamu sudah seperti orang tua saja tau!” ketus Kanaya yang segera berjalan menuju kamarnya.
“Apa? Orang tua? Kak! Kak Naya!” panggil Gavin yang tidak di gubris oleh kakaknya itu.
Gavin hanya bisa pasrah melihat sang kakak yang tidak bisa di bilangin sama sekali, dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan beristirahat karena besok harus mendatangi meeting pagi.
***
Di sisi lain, Elvan yang sedang berada di luar kota untuk mengurus beberapa hal di perusahaan cabang hanya melamun terus menerus hingga membuat papanya merasa aneh.
“Kamu kenapa melamun terus sih Elvan?” tanya Bagaskara kepada sang putra.
“Eh, engga kok pa.”
“Kamu pasti sedang memikirkan sesuatu kan? Kamu pasti merindukan istri dan ketiga anakmu.” Ucap Bagas.
“Tentu saja pa, aku sangat merindukan mereka, apa lagi kemarin Aneska bilang kalo Kalila menangis terus saat di tinggal Elvan, terus katanya pas Aneisha gendong dan mengajak Kalila melihat fotoku dia malah langsung diam.” Jelas Elvan.
“Benarkah? Anak perempuanmu sangat menyayangimu Elvan, dia tidak ingin jauh darimu.” Ucap Bagas.
“Hm, sepertinya begitu, ternyata menyenangkan menjadi seorang papi ya pa.” ucap Elvan dengan senyuman bahagia membuat Bagas terkejut melihatnya.
Selama ini Elvan hanyalah seorang anak muda yang masih suka bersenang-senang, tidak pernah ada senyuman di wajahnya saat dia bekerja entah karena terpaksa atau dia memang orang yang serius mengenai pekerjaannya.
Namun saat ini Bagaskara benar-benar melihat perubahan di wajah putra semata wayangnya itu, dia tidak pernah melihat Elvan tersenyum selebar itu selama hidupnya.
__ADS_1
“Hm, sangat menyenangkan di cintai oleh anak-anak kita nantinya, apa lagi saat mereka tumbuh dan mulai bertengkar karena hal-hal kecil, ata bahkan mereka akan berebut untuk mendapatkan perhatianmu.” Jelas Bagas.
“Benarkah? Aku benar-benar tidak sabar untuk menantikan hal itu terjadi pa.” ucap Elvan yang di balas senyuman oleh Bagaskara.
“Lebih baik sekarang kamu cepat selesaikan krisis di sini dan segera kembali kepada keluargamu.” Ucap Bagas yang di balas anggukan dengan tegas oleh Elvan.
Elvan segera membuka kembali berkas yang ada di hadapannya dengan teliti dan fokus agar bisa pulang lebih cepat dari hari yang mereka di perkirakan.
Bagas tersenyum melihat semangat putranya yang mulai kembali, dan memutskan untuk keluar ruangan agar anaknya bisa berkonsentrasi, namun saat mau membuka pintu dia baru ingat akan undangan pesta pembukaan hotel dari sahabatnya.
“Ah iya papa lupa, nanti malam ada pesta pembukaan hotel sahabat papa, kamu akan ikut papa menghadiri pesta itu karena aka nada banyak pengusaha hebat di sana dan papa akan mengenalkan kamu kepada mereka.” Ucap Bagas.
“Apa ga bisa kalo aku ga usah ikut pa?” tanya Elvan.
“Ga bisa Elvan, kamu adalah penerus papa dan papa ingin semua pengusaha mengenalmu dari sekarang.” Jawab Bagas.
Baiklah kalau begitu Elvan akan ikut.” Ucap Elvan.
Setelah mendapat persetujuan dari anaknya, Bagas segera keluar dari ruangan anaknya dan membiarkan Elvan untuk fokus mengerjakan tugasnya.
Di kediaman Bagaskara, sinar matahari pagi sudah menyinari hampir seluruh rumah megah itu yang membuat orang yang ada di dalamnya terbangun.
Aneska yang sedang tertidur di sofa kamar anaknya terbangun karena sinar matahari yang masuk di sela-sela tirai tipis berwarna putih.
“Aaaaa!!” teriak Mala dari bawah yang membuat Aneska terkejut.
Aneska yang mendengar suara mertuanya berteriak segera berlari keluar dari kamar dan menuruni tangga.
“Mama, ada apa?” tanya Aneska.
Begitu juga dengan Aneisha yang beru saja berlari menuruni tangga.
“Ada apa ini ma?” tanya Aneisha.
“Mama kaget, mama kira siapa lah ternyata si Evano!” ucap Mala yang masih terkejut.
“Evano? Kamu ngapain tidur di sini?” tanya Aneska.
Tentu saja Mala terkejut dengan Evano, karena penampilan Evano yang sudah tidak karuan dengan pakaian yang sudah berantakan dan mulut yang terbuka lebar dengan air liur yang keluar dari dalam mulut tersebut.
__ADS_1
“Maaf ma, Anei yang nidurin kak Evano di sini soalnya semalam dia pulang di anter kak Naya dalam keadaan mabuk.” Jelas Aneisha.
“Kanaya? Mereka mabuk bersama?” tanya Aneska.
“Kayaknya engga deh kak, kak Naya bilang kalo kak Evano menghubunginya, kak Naya masih pake baju kerjanya kok.” Jelas Aneisha.
“Ah begitu, mungkin dia sedang memiliki masalah ma makanya sampai minum begitu.” Ucap Aneska.
“Iya mungkin, tapi kayaknya kita harus membangunkannya karena tidak mungkin membiarkannya di sini sampai nanti siang.” Ucap Mala.
“Evano, bangunlah!” ucap Mala sambil menggoyang tubuh keponakannya itu.
Namun Evano sama sekali tidak bergerak sedikitpun membuat Mala khawatir.
“Kenapa dia ga gerak? Apa jangan-jangan…” ucap Mala yang terhenti.
“Engga ma, jangan mikir yang engga-engga, mungkin kepalanya terlalu berat sampai tidur terlalu nyenyak.” Sahut Aneska.
“Haah, mama mau mandi aja deh habis itu main sama cucu-cucu mama, dari pada bangunin Evano yang susah di bangunin jadi pusing mama.” Ucap Mala.
“Mama mandilah, biar Anei dan kak Anes yang menangani kak Evano.” Ucap Aneisha.
Mala hanya menganggukkan kepala dan segera berjalan menaiki tangga kembali ke kamarnya, sedangkan Aneisha dan Aneska hanya saling menatap satu sama lain sambil menghela nafas panjang.
“Kamu juga seharusnya mandi Nei, kamu kan mau syuting lagi.” Ucap Aneska.
“Gampang kak, aku masih siang kok syutingnya, lagian nanti kak Lita sendiri yang jemput ke sini.” Ucap Aneisha.
“Sesekali ajaklah Lita makan malam bersama di rumah agar kami semua bisa mengenalnya dan mengucapkan teriakasih karena sudah menjagamu.” Ucap Aneska.
“Tentu saja kak, kalau ada hari libur atau pulang lebih cepat aku akan mengajaknya makan malam di sini.” Balas Aneisha.
“Baguslah, tapi untuk sekarang sepertinya kita harus membangunkan anak ini.” Ucap Aneska sambil melihat ke arah Evano yang masih tertidur.
“Kak! Kak Evan bangun kak, ga malu tuh ada kak Kanaya dateng?” ucap Aneisha berbohong.
Aneska hanya menatap Aneisha dengan mengerutkan keningnya, sedangkan Aneisha hanya tersenyum sambil menaruh jari telunjuknya di bibirnya.
Dan benar saja, kebohongan Aneisha membuat Evano terbangun seketika sambil menoleh ke kanan dan kiri.
__ADS_1
“Benarkan kak? Trikku ini selalu berhasil.” Ucap Aneisha dengan bangganya.
“Cih! Memang seberapa sukanya dia sama Kanaya sampai seperti itu?” gumam Aneska sambil menggelengkan kepala.