
Aneska masih berada di dalam ruangan Elvan dengan segelas air putih di tangannya untuk Elvan.
“Minum dulu kak, tenangkan diri kak Elvan jangan emosi.” Ucap Aneska sambil memberikan gelas yang ada di tangannya.
Elvan segera mengambil gelas yang di berikan oleh Aneska dan langsung meminum air tersebut sambil menghela nafas panjang untuk meredakan emosinya.
“Sudah tenang kak?” tanya Aneska.
“Sudah lebih baik, terimakasih Nes.”
Aneska hanya tersenyum mendengar ucapan Elvan dan duduk di sebelah Elvan.
“Bagaimana kalau kita pulang saja lalu kita bicarakan hal ini kepada papa dan mama kak.” Usul Aneska.
“Benar, lebih baik kita pulang dan tanyakan langsung kepada papa dan mama tentang hal ini.”
Akhirnya mereka berdua keluar dari ruangan, dan di luar sudah ada Daniel yang mau masuk ke dalam ruangan Elvan.
“Loh kenapa kalian berdua keluar?” tanya Daniel.
“Kami harus pulang ke rumah sebentar, kamu urus urusan yang ada di sini ya.”
“Tapi bukannya kita bertiga mau membicarakan rencana kerja sama?”
“Iya nanti saja, aku dan Aneska ada urusan yang harus kami selesaikan.” Ucap Elvan yang langsung berjalan menuju lift.
“Maaf ya kak merepotkan kak Daniel lagi, kami akan segera kembali kok.” Ucap Aneska sambil tersenyum ke arah Daniel.
Aneska berlari menyusul Elvan masuk ke dalam lift lalu mereka berdua segera masuk ke dalam mobil untuk pulang ke rumah.
“Sabar ya kak, kalau ketemu sama papa dan mama nanti jangan marah-marah oke? Dengerin mereka bicara dulu.” Ucap Aneska mengingatkan.
Elvan hanya diam saja, dia tidak berbicara apapun dan hanya fokus menyetir mobilnya hingga sampai di rumahnya.
Tanpa bicara apa-apa, Elvan keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Aneska yang masih di dalam mobil hanya bisa menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.
Di dalam rumah, Bagas dan Mala yang sedang berada di ruang keluarga terkejut melihat Elvan yang pulang ke rumah saat jam kerja.
“Kamu kenapa pulang?” tanya Bagas.
__ADS_1
“Pa, maksud papa dan mama apa sih? Kenapa kalian berdua memutuskan sesuatu tanpa bertanya kepada Elvan?!” tanya Elvan.
“Elvan sayang, jangan marah begitu, kami setuju karena selama ini kamu dan Clair sudah semakin dekat dan kalian juga sering keluar bersama.” ucap Mala.
“Ma, Elvan tau kalau kalian sangat ingin melihat Elvan menikah dan memiliki keluarga sendiri, tapi seharusnya papa dan mama bertanya dulu kepada Elvan!”
“‘Elvan bagaimana perasaanmu kepada Clair?’ ‘Bagaimana kalau kamu bertunangan dengannya?’ ‘Apa kamu sudah siap untuk menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius?’ emang susah ngomong kayak gitu ke Elvan?” lanjut Elvan.
Bagas dan Mala hanya bisa diam mendengar ucapan anaknya, mereka memang salah dalam hal itu karena tidak bertanya lebih dulu kepada Elvan.
“Kenapa? Kenapa kalian berdua diam saja? Selama ini Elvan selalu menuruti ucapan kalian berdua bahkan saat kalian mau menjodohkanku secara tiba-tiba, tapi ini adalah hidup Elvan, Elvan berhak menentukan pilihan untuk masa depan Elvan.” Ucap Elvan.
Aneska yang sudah masuk ke dalam rumah mendengar semua ucapan Elvan, dia juga merasa kasihan dengan Elvan yang selalu menuruti semua ucapan kedua orang tuanya.
“Kenapa kalian berdua diam saja?! Jawab!” tegas Elvan.
Mendengar suara Elvan yang meninggi untuk pertama kalinya membuat Aneska terkejut dan langsung menghampiri mereka.
“Kak Elvan, jangan marah-marah begitu, bukankah kak Elvan sudah mengiyakan ucapanku?” bisik Aneska sambil memegang lengan Elvan.
Elvan segera menepis tangan Aneska dan pergi ke atas menuju kamarnya, Bagas, Mala dan Aneska hanya melihat kemana Elvan pergi tanpa mengatakan apapun.
“Nes..”
Bagas dan Mala yang melihat sikap anaknya merasa sangat bersalah, sejak dulu mereka memang tidak pernah meminta pendapat Elvan tentang semua hal, karena Elvan juga tidak pernah membantah jadi mereka mengira kalau Elvan akan selalu setuju dengan keputusannya.
“Bagaimana ini pa, ini pertama kalinya Elvan berbicara keras seperti itu.” Ucap Mala.
“Kamu tau kan anak kita, dia seperti itu hanya sebentar saja nanti dia pasti akan kembali seperti sebelumnya.” Ucap Bagas.
“Apa kita batalkan saja acara pertunangan ini?” tanya Mala.
“Tidak bisa! Persiapan pasti sudah di lakukan, kita tidak bisa membatalkannya di detik-detik terakhir karena itu akan membuat harga diri keluarga Clair hancur, tenang saja aku yakin Elvan akan mengerti.”
Mala hanya diam saja mendengar ucapan suaminya, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menghela nafas panjang.
***
Clair yang kesal karena Elvan mengusirnya langsung pergi ke perusahaan papanya, dia segera masuk ke dalam ruangan papanya tanpa mengetuk lebih dulu membuat papa Clair terkejut.
__ADS_1
Rudi Anggara, seorang pengusaha yang sama besarnya dengan perusahaan Bagaskara dan juga perusahaan keluarga Aneska, peruahaan mereka bertiga termasuk ke dalam kategori tiga perusahaan terbesar di Indonesia.
“Papa!!” rengek Clair sambil berjalan ke arah papanya.
“Clair? Ada apa sayang?” tanya Rudi.
“Pa, Elvan mengusirku karena aku bilang kalau nanti malam adalah pengumuman pertunangan kita.”
“Apa?! Berani sekali dia mengusir anak kesayanganku yang cantik ini?” ketus Rudi.
“Huhuhu, bagaimana ini pa sepertinya Elvan tidak mau bertunangan atau menikah denganku..”
“Tidak sayang, papa tidak akan membiarkan acara ini batal! Papa dan Bagas sudah menyetujui kerja sama perusahaan kita, kalau sampai dia menolaknya papa akan membatalkan kerja sama ini juga!” tegas Rudi.
“Benarkah pa? terimakasih banyak papa,, terimakasih karena sudah mau membantuku, aku sangat mencintai papa…” ucap Clair sambil memeluk tubuh papanya.
“Sama-sama sayang, papa akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anak-anak papa, oh iya bagaimana dengan hubungan Clara dan Evano?” tanya Rudi.
“Ya begitulah pa, sepertinya Evano memang benar-benar memiliki wanita yang dia sukai.” Ucap Clair.
“Biarkanlah, lagipula Clara masih muda dan belum waktunya untuk menikah, untuk saat ini biarkan mereka mengenal lebih dekat dulu.” Ucap Rudi.
“Hm, baiklah pa.”
“Akan sangat menguntungkan kalau kalian berdua bisa mendapatkan dua anak laki-laki keluarga Bagaskara, karena perusahaan kita akan semakin maju.”
“Bukankah masih ada satu perusahaan lagi yang berada di atas kita pa?” tanya Clair.
“Hm, memang benar! Bahkan anak keluarga itu semua perempuan dan mereka bisa menjadi sainganmu untuk mendapatkan hati Elvan dan Evano, tapi karena kedua orang tua mereka sudah meninggal jadi tidak pernah ada kabar lagi tentang anaknya, mungkin karena sekarang perusahaan itu sudah di pegang oleh paman mereka.” Jelas Rudi.
“Apa tidak ada yang tau siapa nama dan wajah anak mereka pa?”
“Entahlah, mereka tidak pernah mempublikasi anak perempuan mereka, bahkan tidak ada yang tau mereka memiliki berapa anak.”
Mendengar hal itu hanya membuat Clair menganggukkan kepalanya, sebenarnya Clair masih penasaran dengan mereka tapi ya sudahlah pikirnya.
“Kenapa kamu masih memikirkan tentang mereka?” tanya Rudi.
“Aku hanya takut kalau mereka tiba-tiba datang dan merebut Elvan dariku.”
__ADS_1
“Hahaha, tidak akan sayang! Merka sudah tidak memiliki apa-apa sekarang, tidak mungkin Bagas mau memiliki menantu seperti mereka!” tegas Rudi.
Mendengar hal itu membuat Clair tersenyum senang dan merasa kalau dia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi.