MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 87


__ADS_3

Setelah selesai mandi dan bersiap, Aneska dan Elvan segera turun ke bawah untuk berpamitan dengan yang lainnya.


“Kalian sudah mau berangkat?” tanya Bagas saat melihat anak dan menantunya menuruni tangga.


“Iya pa, kita sudah mau berangkat ke rumah sakit… Titip Aneisha ya pa, kalo dia mau ke rumah sakit langsung hubungi Elvan takut pas kita pulang kalian ke rumah sakit.” Ucap Elvan.


“Tenang saja, papa akan langsung menghubungimu kalau Aneisha ingin pergi ke rumah sakit.” Ucap Bagas.


“Eh tunggu! Jangan lupa mampir ke toko bunga langganan mama dulu buat ambil bucketnya.” Sambung Mala yang di balas anggukan oleh Elvan dan Aneska.


Setelah berpamitan kepada Bagas dan Mala, keduanya pun segera berangkat menuju toko bunga lebih dulu lalu segera ke rumah sakit.


“Kamu baik-baik saja Nes? Perutmu baik-baik saja?” tanya Elvan yang melihat Aneska seperti menarik nafas berkali-kali.


“Hm sudah baik-baik saja kok.”


“Apa perlu sekalian kita periksa aja, mumpung di rumah sakit.”


“Engga perlu kak, lusa juga udah jadwal periksa kok.” Balas Aneska.


“Baiklah kalau begitu..” ucap Elvan sambil menganggukkan kepalanya.


“Kita mampir ke toko buah juga ya, ga enak kalau hanya memberikan buket bunga.” Ucap Elvan yang di balas anggukan oleh Aneska.


Setelah mampir ke toko bunga dan toko buah, keduanya akhirnya sampai di rumah sakit beberapa menit melakukan perjalanan.


Elvan keluar dari mobil lebih dulu dan segera membukakan pintu untuk istrinya, setelah itu Elvan segera membuka pintu belakang untuk mengambil bunga dan buah yang sudah mereka siapkan.


“Sini kak Anes bantu.” Tawar Aneska.


“Tidak perlu! Biar aku saja yang bawa semuanya.” Ucap Elvan.


Namun Aneska melihat Elvan yang sepertinya kebingungan membawa keduanya segera merebut buket bunga yang masih berada di kursi belakang.


“Biar aku yang membawa bunga ini, ini ringan jadi jangan terlalu khawatir.” Ucap Aneska yang langsung berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


Elvan yang melihat Aneska langsung masuk begitu saja hanya bisa menggelengkan kepala lalu segera menyusul Aneska masuk ke dalam rumah sakit dan mencari ruangan Jody yang sudah di beritahu oleh Gavin.


“Ini ruangannya, ayo masuk.” Ajak Elvan yang di balas anggukan oleh Aneska.

__ADS_1


“Selamat sore tuan Anthony, Jody.” Ucap Elvan sambil mengetuk pintu ruangan Jody dan membukanya.


“Selamat sore, tuan dan nyonya Elvan.” Balas Anthony.


“Hai Jo,,, bagaimana keadaanmu?” tanya Elvan.


“Baik-baik saja kak.” Jawab Jody.


“Terimakasih karena sudah menyelamatkan adikku.”


“Itu sudah menjadi tanggung jawabku kak jadi tidak usah berterimakasih.”


Aneska hanya melihat ke arah Jody yang sedang berbaring dan melihat perban yang terlilit di tubuhnya namun tertutup oleh pakaian rumah sakit.


“Tuan Anthony, Jody aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi kepada Jody karena adikku.” Ucap Aneska.


“Kenapa kamu minta maaf? Itu adalah konsekuensi yang harus di hadapi Jody karena sudah menyanggupi untuk membantu Aneisha.” Ucap Anthony.


“Papi benar kak, aku yang sudah menyanggupi untuk membantu Aneisha jadi itu adalah resiko yang harus aku hadapi, lagian ini semua karena aku yang memancing emosi Anei dan membuatnya berlari karena kesal.” Jelas Jody.


“Oh iya, bagaimana keadaan Aneisha? Pasti dia terkejut dan ketakutan sekali tadi.” Lanjutnya.


“Anei syok, tapi aku sudah menenangkannya dan menyuruhnya untuk beristirahat.. Tadi dia memaksa ingin menjengukmu tapi aku menyuruhnya untuk istirahat lebih dulu setelah dia bangun nanti, dia akan kemari bersama mama dan papa.” Jelas Aneska.


Aneska menaruh bucket bunga yang dia pegang, sedangkan Elvan menaruh buah yang dia pegang di meja yang ada di sebelah Jody.


“Nyonya Aneska, bisakah kamu menemani Jody sebentar? Aku ingin minum kopi sekalian mengajak tuan Elvan juga.” Ucap Anthony.


“Tentu saja tidak apa-apa tuan Anthony, aku juga berniat untuk menjaga Jody beberapa saat di sini.” Balas Aneska.


Mendengar persetujuan Aneska akhirnya Anthony dan Elvan segera keluar dari ruangan Jody untuk ke kantin rumah sakit menikmati kopi hangat sambil berbincang-bincang.


Sedangkan di ruangan Jody, Aneska duduk di sofa yang ada di sana sambil memainkan hpnya.


“Kak Anes..” ucap Jody dengan ragu.


“Hm? Ada apa Jody?”


“Boleh nanya ga?”

__ADS_1


“Tentu saja, apa yang mau kamu tanyakan?”


“Siapa laki-laki yang tadi mengantarku dan Aneisha?”


Awalnya Jody ragu mau bertanya tentang hal itu, tapi dia juga sudah sangat penasaran dengan identitas Gavin yang sampai segitu khawatirnya dengan Aneisha.


“Oh, Gavin? Kenapa dengan Gavin Jo?” tanya Aneska yang tidak mengerti maksud Jody menanyakan tentang Gavin.


“Maksudnya, hubungan antara laki-laki itu dan Aneisha itu apa?” tanya Jody kembali.


“Aku dan Kanaya kakaknya Gavin itu sahabatan bahkan dulu rumah kita berdekatan dan sejak itu juga Gavin dan Aneisha sering bermain bersama dan menjadi dekat.” Jelas Aneska.


“Pantas saja…” gumam Jody yang masih bisa di dengar oleh Aneska.


“Kamu ngomong apa tadi Jo? Pantas saja? Pantas saja kenapa?” tanya Aneska.


“Eh,, pantas saja dia sangat khawatir dengan Aneisha tadi, terus dia sempat hampir memukulku.”


“Benarkah? Maafkan sikap Gavin ya Jo… Dia memang selalu protektif kepada Aneisha, dia sangat melindungi Aneisha dan itulah yang membuat Aneisha merasa nyaman berada di dekat Gavin.”


“Tidak perlu meminta maaf kak, aku hanya penasaran kenapa dia sampai khawatir seperti itu karena Aneisha.”


“Mereka seperti saudara yang saling melindungi satu sama lain Jo.”


“Apa mereka saling suka kak? Mereka kan sudah lama bermain bersama, bukankah biasanya akan ada perasaan yang muncul karena hal itu?” tanya Jody yang membuat Aneska kebingungan menjawab pertanyaan dari Jody.


Selama ini Aneska tidak pernah memikirkan tentang hal itu. Tentu saja Aneska tau kalau Gavin dan Aneisha saling menyayangi, namun selama ini yang Aneska tau mereka saling menyayangi sebagai sahabat dan saudara, selebihnya Aneska juga tidak mengetahuinya.


“Em,, kalau itu aku juga tidak tau ya Jo.. Karena selama ini yang aku tau mereka saling menyayangi entah sebagai saudara atau lebih dari itu.” Ucap Aneska.


“Kalau mereka memmiliki hubungan lebih dari sahabat, apa kak Anes merestuinya?” tanya Jody.


“Kenapa engga? Toh mereka udah saling kenal, aku dan kakaknya bersahabat dan aku udah tau juga bagaimana sifat Gavin..”


“Kalau aku? Bagaimana denganku? Apa kak Anes juga akan mendukungku?” tanya Jody tiba-tiba yang membuat Aneska terkejut mendengarnya.


“A-apa? Maksudnya kamu dan Anei memiliki hubungan khusus?” tanya Aneska memastikan dan di jawab anggukan oleh Jody.


“Dengan siapapun Aneisha memiliki hubungan, aku akan selalu mendukungnya selama itu membuat adikku bahagia.” Ucap Aneska.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Jody tersenyum karena merasa dirinya masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan Aneisha.


Sedangkan Aneska hanya menatap aneh sambil menggelengkan kepala melihat Jody yang senyam-senyum sendiri.


__ADS_2