MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 127


__ADS_3

“Kak, kenapa kamu memasak banyak sekali makanan?” tanya Aneisha yang baru saja masuk ke dalam ruang makan.


“Ah,, karena kak Elvan papa akan pulang hari ini dan kemungkinan mereka sampai nanti siang.” Jawab Aneska.


“Benarkah? Yah, aku padahal udah kangen papa tapi sepertinya ga bisa menyambut mereka karena ada jadwal syuting kak.” Ucap Aneisha.


“Ga apa-apa sayang, biar mama dan Aneska yang menjemput mereka, mama juga akan menitipkan salam kepada papa dan Elvan.” Sahut Mala yang baru saja menuruni tangga dan mendengar pembicaraan kedua putrinya.


“Hai ma…” sapa Aneisha dengan senyum manisnya.


“Hai mama..” sapa Aneska.


“Hai sayang-sayang.” Balas Mala.


Mala melihat Aneska yang sedang menyiapkan berbagai macam makanan di bantu oleh pelayan mereka.


“Kamu memang selalu bisa di andalkan Aneska.” Puji Mala.


“Terimakasih pujiannya mama..” ucap Aneska.


“Sama-sama sayang, udah sana kamu naik dan siapkan anak-anakmu sepertinya mereka sudah bangun, biar mama yang ngelanjutin masaknya.” Ucap Mala.


“Ga apa-apa ma?” tanya Aneska.


“Tentu saja ga apa-apa, kamu harus mendahulukan cucu-cucuku Aneska.” Ucap Mala.


“Siap mama!” seru Aneska yang langsung melepas semua peralatan dapur yang dia pegang dan segera mencuci tangan dengan bersih sebelum dia pergi ke kamar anak-anaknya.


Walaupun sudah hampir tengah hari, ketiga anak Aneska belum ada yang bangun karena semalaman mereka sudah begadang dan membuat Mala dan Aneisha ikut menemani Aneska begadang dan itulah yang membuat semua orang bangun lebih siang dari biasanya.


Saat masuk ke dalam kamar, Aneska melihat Kamal dan Kemal sudah membuka kedua matanya dan saling bersautan satu sama lain seperti sedang mengobrol.


Sedangkan Kalila masih tertidur pulas di tempat tidurnya, bahkan dia tidak terbangun saat mendengar suara kedua abangnya.


“Wah, ganteng-gantengnya mami sudah bangun ya sayang..” ucap Aneska sambil tersenyum ke arah keduanya.


“Sst, jangan berisik ya sayang nanti adiknya bangun.” Ucap Aneska sambil menggendong Kamal yang lebih dulu merengek dan hampir menangis.


Namun baru saja Aneska menggendong Kamal dan mau memberinya ASI, tiba-tiba saja Kemal ikut menangis kencang dan membuat Kalila ikut menangis karena terkejut.


“Yaampun anak-anak kenapa kalian jadi lomba nangis begini?” ucap Aneska yang ingin menaruh Kamal namun Kamal malah menangis sejadi-jadinya dan membuat Aneska mengurungkan niatnya.


“Yaampun anak-anak…” gumam Aneska yang rasanya ingin menangis.


Lalu tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam kamar sambil memanggil Aneska dengan suara yang sangat di kenal Aneska.

__ADS_1


“Hai sayang..” sapa Elvan yang baru saja membuka pintu kamar.


Aneska yang mendengar langsung menoleh dan terkejut saat melihat Elvan yang sudah berada di hadapannya.


“K-kak! Kakak kenapa udah sampe?” tanya Aneska.


“Suaminya pulang kenapa malah di tanya begitu bukannya di peluk?” ucap Elvan dengan kening yang berkerut.


“Dari pada kamu meminta aku memelukmu, lebih baik gendong anak-anaknya itu nangis semua.” Sahut Aneska.


“Ah iya benar juga ya! Aku akan menggendong mereka berdua.” Ucap Elvan.


“Jangan kak, nanti jatuh! Satu aja, biar aku panggil Aneisha.” Sahut Aneska.


“Aneisha sudah pergi ke lokasi syuting, mama sedang membantu papa ganti baju.” Jawab Elvan.


“Hai kakak ipar!!!” teriak seseorang yang membuat Elvan merubah ekspresi wajahnya.


Sedangkan Aneska yang terkejut mendengar suara teriakan yang cempreng itu segera menoleh untuk melihat orang yang mengejutkannya.


“Jangan berisik! Suara kamu bisa membuat anakku semakin menangis!” ketus Elvan.


“Kak, kenapa kamu bicara seperti itu?!” tegas Aneska.


“Hai, kamu pasti Elizabeth ya? Cantiknya…” Sapa Aneska dengan senyuman ramahnya.


“Tentu saja dia mengenalimu dari suara cemprengmu itu!” sahut Elvan.


Mendengar ucapan Elvan membuat Elizabeth kesal, sedangkan Aneska hanya menatap tajam ke arah suaminya itu.


“Kamu harus melakukan hal itu ya?!” ketus Aneska.


“Ah maaf sayang tapi dia memang menyebalkan!” ucap Elvan.


“Yaampun kamu ini harusnya minta maaf ke Elizabeth bukan ke aku.” Ucap Aneska.


“Sudahlah kakak ipar, biarkan saja kak Elvan bicara apa! Sini biar aku bantu menggendong keponakan lucuku, tangan kalian ga akan cukup untuk menggendong ketiganya kan?” tanya Elizabeth.


“Tidak perlu! Nanti anakku ketularan menyebalkan!” ketus Elvan.


“Terimakasih banyak Elizabeth, aku percaya padamu.” Sahut Aneska yang membuat Elvan menatap tajam ke arah Aneska.


“Sayang! Kenapa kamu malah membiarkannya menggendong Kemal?” tanya Elvan yang sudah menggendong Kalila.


“Terus kamu mau Kemal menangis sampai suaranya dan air matanya habis? Emang tega?” tanya Aneska yang ikut kesal dengan ucapan suaminya yang menyebalkan.

__ADS_1


“Lihatlah, dia tau kalau auntynya sangat cantik jadi dia langsung diam saat aku gendong!” ketus Elizabeth mengejek Elvan.


“Cih! Menyebalkan!” ketus Elvan.


“Oh iya kakak ipar, siapa nama-nama keponakanku?” tanya Elizabeth kepada Aneska.


“Yang aku gendong ini namanya Kamal, dia yang lahir lebih dulu, lalu di susul Kemal yang kamu gendong, habis itu barulah Kalila.” Jelas Aneska.


“Wah, nama-nama yang sangat indah.” Puji Elizabeth.


“Terimakasih..” ucap Aneska.


“Ah iya, kata om Bagas kakak ipar punya adik perempuan yang menjadi keluarga di sini ya?” tanya Elizabeth.


“Iya, namanya Aneisha tapi baru saja dia pergi ke lokasi syuting.” Jawab Aneska.


“Wah! Dia artis ya? Hebatnya!!” seru Elizabeth.


“Kamu lebih hebat karena sudah mengerti tentang perusahaan di usiamu yang masih muda ini.” Ucap Aneska.


Elvan sudah tau kalau wanita sudah memuji satu sama lain pasti akan memanjang, dan dia memutuskan untuk membawa Kalila keluar dari kamar meninggalkan Aneska dan Elizabeth.


“Hai cucuku sayang..” ucap Bagaskara yang saat itu baru keluar dari kamarnya.


“Papa ga istirahat? Bukankah selama di pesawat papa selalu mengeluh kelelahan?” tanya Elvan.


“Tentu saja papa capek, tapi pas lihat tuan putri papa ini rasa capeknya hilang.” Ucap Bagaskara.


“Sini biar papa yang gendong.” Ucap Bagaskara.


“Tapi aku baru saja menggendongnya pa, nanti aja lah, atau papa ambil Kemal aja dari tangan Elizabeth, aku takut kalau anakku sakit telinganya denger suaranya yang cempreng.” Ucap Elvan yang langsung berjalan menuruni tangga.


Sedangkan Bagaskara hanya menggelengkan kepala melihat tingkan anaknya itu, Bagas tidak tau kalau cara Elizabeth mengerjai Elvan akan berdampak buruk seperti ini.


“Apa karena dia pernah di tinggal sama Aneska ya makanya jadi seperti itu.” Gumam Bagaskara.


Bagas akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar cucu-cucunya karena dia sudah sangat merindukan mereka.


“Maafin sikap kak Elvan ya El, aku juga ga tau kenapa dia bisa begitu keselnya sama kamu.” ucap Aneska.


“Ga perlu minta maaf kak, mungkin aku memang sudah keterlaluan waktu itu ngerjain kak Elvannya, atau mungkin dia terlalu takut di tinggal sama kak Aneska.” Ucap Elizabeth sambil memamerkan gigi putihnya.


Lalu Bagas masuk ke dalam kamar dan menyapa Aneska dan Elizabeth yang sedang asik mengobrol.


Tentu saja Bagas masuk ke dalam dan langsung merebut Kamal dari tangan Aneska karena Elizabeth tidak mau memberikan Kemal kepadanya.

__ADS_1


Dan akhirnya Aneska bisa beristirahat dengan tenang karena semua anak-anaknya sudah ada yang mengasuh masing-masing.


__ADS_2