
"Pernikahan ini akan tetap di lakukan!" ucap Elvan kepada keluarganya.
"Apa!? Apakah Kevin sudah kembali?" Tanya Mala.
"Bukan dengan Kevin, tapi denganku!" tegas Elvan hingga membuat semua orang yang ada di sana terkejut mendengarnya.
"Apa!? Apa maksud dari ucapanmu Elvan!?" Tanya Claire.
"Maaf Claire, sejak awal aku tidak setuju dengan pertunangan ini, saat ini adikku membutuhkanku dan aku akan membantunya!" tegas Elvan.
"Kamu tidak bisa melakukan hal ini Elvan! Kita sudah bertunangan! Aku menyukaimu!" teriak Clair.
"Lagipula dia adikmu! Bagaimana bisa kamu menikahinya!" sambung Clara
"Kamu tidak tau? Aku yakin kakakmu sudah tau kalau Aneska adalah anak angkat om Bagas dan tante Mala! Tentu saja mereka tidak masalah jika menikah." ucap Evano.
Mendengar hal itu membuat Clara terkejut, dia menoleh ke arah kakaknya yang tidak terkejut sama sekali.
"Kak, apa semuanya benar? Apa yang di katakan kak Evano benar!?" Tanya Clara.
"Diam! Kenapa kamu malah mempermasalahkan hal itu!" tegas Clair.
"Elvan aku mohon jangan lakukan ini! Jangan menikah dengan wanita ini!"
"Diam Clair! Aku yang ingin menikahinya dengan sukarela!" tegas Elvan.
"Om, tante! Kenapa kalian diam saja!? Kenapa tidak menghalangi Elvan!?"
Bagas dan Mala hanya saling menatap satu sama lain, mereka berdua juga tidak ingin membiarkan Aneska menanggung malu karena hal ini.
Terutama Mala yang memang sangat bahagia jika Elvan dan Aneska menikah.
"Maaf Clair, tapi kami tidak memiliki pilihan lain." ucap Bagas.
"Om! Bagaimana bisa om mendukung mereka!? Aku akan memberitahu papa tentang ini!" teriak Clair yang langsung berlari di ikuti dengan Clara.
Semua orang hanya diam saja saat melihat Clair dan Clara pergi.
"Pa, bagaimana ini?" Tanya Elvan.
"Papa akan membereskan hal ini! Lebih baik kamu lanjutkan untuk menikahi Aneska, para tamu undangan sudah menunggu lama." ucap Bagas.
Mendengar hal itu membuat Elvan dan Aneska segera menghadap ke penghulu untuk melakukan ijab qobul.
Seperti dugaan mereka, ada banyak orang yang membicarakan pernikahan ini, semua orang mengetahui bahwa Elvan bukanlah laki-laki yang seharusnya menikah hari itu.
Media pun gempar, terutama Elvan adalah anak dari pengusaha terbaik dan sudah bertunangan dengan wanita lain.
Namun Elvan dan Aneska berusaha untuk menutupi hal itu semaksimal mungkin. Keduanya tersenyum senang saat acara pernikahan di mulai, mereka berdua juga menyambut para tamu yang datang untuk memberikan ucapan selamat.
__ADS_1
"Bagaimana jika Clair melakukan sesuatu kak? Aku yakin semua orang menganggapku sebagai pelakor." Bisik Aneska.
"Stt,, ini acara pernikahan kita, jangan bicara hal yang tidak-tidak! Aku tidak memperdulikan ucapan orang lain." balas Elvan.
Mala tersenyum melihat Elvan dan Aneska yang sedang berdiri di pelaminan.
"Apa aku adalah orang jahat jika bahagia melihat keduanya menikah seperti sekarang?" batin Mala di dalam hatinya.
Hari sudah semakin larut, para tamu undangan pun segera pergi meninggalkan acara pernikahan satu per satu.
Begitu juga dengan Aneska yang sudah tidak lagi tersenyum seperti tadi. Aneska meneteskan air mata mengingat pesan yang di kirimkan oleh Kevin.
"Hikss,, hiks,, bagaimana bisa kamu melakukan hal ini padaku kak! Bagaimana bisa kamu meninggalkan pernikahan kita!" ucap Aneska.
Aneisha menghampiri kakaknya yang sedang menangis di kamarnya, dia langsung memeluk tubuh Aneska dengan erat.
"Kak, aku mohon jangan menangis! Hatiku sakit saat melihat dirimu menangis kak.." ucap Aneisha.
"Hikss,, Nei kenapa? Kenapa hal buruk selalu datang padaku hikss.."
"Kak, tenanglah! Aku yakin kebahagiaanmu akan datang seiring berjalannya waktu.. Saat ini Allah memberitahu kakak kalau kak Kevin bukanlah laki-laki yang baik untukmu." ucap Aneisha.
"Tapi tetap saja, aku harus menanggung malu, sakit hati dan kekecewaan sama seperti dulu Nei, orang-orang membicarakan kita saat kematian orang tua kita yang tiba-tiba, sekarang orang-orang membicarakan pernikahanku hikss.."
Tidak lama kemudian Elvan mengetuk pintu kamar Aneska dan segera masuk ke dalam.
"Nes.." panggil Elvan.
"Kak Elvan? Masuklah kak." ucap Aneisha.
"Anei tinggal dulu ya kak, kalian bicaralah berdua." pamit Aneisha yang langsung meninggalkan kamar kakaknya.
Elvan duduk di tepi tempat tidur tepat di sebelah Aneska.
"Nes, aku rasa sebaiknya kita pindah ke apartmentku." ucap Elvan.
"Kenapa kak?" Tanya Aneska yang sudah menghapus air matanya.
"Aku tidak mau kalau orang di rumah ini mengetahui kesepakatan kita. Mungkin mereka tau kalau kita terpaksa menikah, tapi mereka tidak tau kalau kita memiliki kontrak dua tahun Nes!" jelas Elvan.
"Aku yakin mereka akan sedih mendengar tentang hal itu." lanjutnya.
Aneska berfikir sejenak sambil menatap wajah Elvan.
"Kak Elvan benar! Sebaiknya kita tinggal berdua saja."
"Hm, apartmentku memiliki 2 kamar jadi kita akan tidur terpisah." ucap Elvan.
__ADS_1
Aneska tersenyum mendengar ucapan Elvan.
"Kak Elvan tenang saja, aku percaya kok kak Elvan ga akan macem-macem sama aku hehe.." ucap Aneska yang sudah mulai tersenyum.
Elvan langsung memeluk tubuh Aneska, begitu juga Aneska yang membalas pelukan laki-laki yang sudah menjadi suaminya.
"Aku tau ini berat untukmu Nes, tapi aku harap kamu bisa kuat menghadapinya dan bisa kembali seperti dulu lagi! Jangan pernah mau di jatuhkan oleh laki-laki sepertinya!" tegas Elvan.
"Terimakasih kak! Terimakasih karena sudah mempertaruhkan masa depan kak Elvan hanya untuk menikahiku, kak Elvan, Aneisha, papa, mama adalah sumber kekuatanku! Selama ada kalian, aku pasti akan baik-baik saja." ucap Aneska.
"Kalau begitu besok kita tidak usah bekerja, kita harus memindahkan barang-barang ke apartment."
"Iya kak, aku akan menyiapkan barang yang aku bawa nanti."
Elvan menganggukkan kepalanya dan langsung keluar dari kamar Aneska untuk menyiapkan barangnya yang akan di bawa besok.
Namun sebelum itu, Elvan ingin memberitahu kedua orang tuanya lebih dulu tentang rencananya untuk pindah.
"Pa, ma.." ucap Elvan yang sudah membuka pintu kamar orang tuanya.
"Hai sayang, ada apa? Kenapa kamu tidak menemani Aneska?" Tanya Mala.
"Malam ini Aneska tidur dengan Aneisha ma, lagipula mama tau kalau pernikahan ini tidak di rencanakan jadi kami tidak bisa sedekat itu." ucap Elvan.
"Iya kamu benar, tapi apa mama boleh jujur?" Tanya Mala.
"Bicaralah ma, ada apa?" Tanya Elvan.
"Mama tau ini tidak benar, tapi mama sangat bahagia melihat kalian berdua menikah Elvan! Sejak dulu mama sangat ingin melihat kalian berdua menikah." ucap Mala.
"Ma, jangan seperti ini.. Aneska sedang terpukul saat ini, jadi jangan bicara macam-macam." ucap Elvan.
"Ya maaf Van... Oh iya ada apa kamu kemari?" Tanya Mala.
"Aku dan Aneska akan tinggal di apartmentku ma."
"Kenapa Van? Kenapa harus tinggal di apartmentmu? Bukankah lebih baik di sini, Aneska memiliki banyak orang yang bisa menemaninya?" Tanya Mala.
"Mama kamu benar Van, kenapa harus keluar dari rumah? Kalian lebih baik tinggal di sini." sambung Bagas.
"Tidak pa, ma, Elvan ingin Aneska menenangkan diri di apartment Elvan." ucap Elvan.
"Pa, bilang sama Elvan dong.." rengek Mala kepada Bagas.
"Ma, biarkan mereka berdua memilih akan tinggal di mana.. Jika Aneska juga sudah setuju bukannya tidak masalah? Mungkin dengan begitu keduanya akan semakin dekat satu sama lain." jelas Bagas.
Mendengar ucapan suaminya membuat Mala terdiam dan berfikir sejenak, lalu menyetujui keinginan Elvan untuk pindah ke apartmentnya.
__ADS_1