MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 114


__ADS_3

“Alex! Bagaimana bisa kamu punya muka berada di rumahku!” ketus Bagas yang saat itu sudah berada tepat di hadapan Alex dan Belvina.


“Hey tuan Bagas, apa kita harus memperpanjang masalah anak-anak kita? Ayolah, anakku juga sudah berusaha untuk berubah dan meminta maaf kepada keponakanku.” Ucap Alex.


“Anakmu hampir membahayakan anakku berkali-kali Alex, dia sama sekali tidak jera walaupun sudah dua kali di masukkan ke dalam penjara.” Ucap Bagas.


“Dia pasti bisa berubah kok.” Ucap Alex.


Elvan menuruni tangga lalu berjalan menghampiri Alex dan Belvina yang masih berdebad di depan dengan Mala dan Bagas.


“Biarkan mereka masuk pa.” ucap Elvan yang membuat semua orang tidak setuju dengan Elvan.


“Elvan! Kenapa kamu mengijinkan mereka masuk?” tanya Mala.


“Aneska sendiri yang mengijinkan mereka masuk pa, ma.” Balas lvan.


Mendengar jika Aneska mengijinkan Alex dan Belvina masuk membuat Bagas dan Mala tidak bisa mengatakan apapun lagi, keduanya hanya bisa pasrah dan mengijinkan keduanya masuk ke dalam rumah.


“Lihat bukan? Keponakanku sendiri yang mengijinkan aku masuk karena dia masih menghormatiku tidak seperti kalian!” ucap Alex dengan senyum kemenangan di wajahnya.


Alex dan Belvina segera masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga untuk melihat Aneska dan ketiga anaknya.


“Hai keponakanku tersayang!!” ucap Alex dengan bangganya.


Aneska yang mendengar ucapan omnya itu langsung menoleh ke asal suara dan tersenyum ke arahnya.


“Hai om, apa kabar?” tanya Aneska.


“Baik, om baik-baik saja, bagaimana dengan keadaanmu?” tanya Alex.


“Baik juga om, bahkan sekarang semakin sempurna karena ada ketiga anak Anes.” Jawab Aneska.


Aneska bersikap sopan di depan Alex walaupun di hatinya masih ada rasa sakit yang di dapat saat di pemakaman kedua orang tuanya.


Namun Aneska tidak bisa berpura-pura baik di depan Belvina karena rasa kecewanya lebih besar di bandingkan rasa hormatnya.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu masih memiliki dendam kepadaku Aneska? Ayolah, lupakan tentang masalah waktu itu.” Ucap Belvina dengan santainya.

__ADS_1


Aneska benar-benar tidak habis fikir dengan saudara sepupunya itu, bagaimana bisa Belvina masih bersikap santai dengan semua yang sudah dia lakukan kepada dirinya.


“Apa kamu tau kenapa sampai detik ini aku masih tidak menyukaimu?” tanya Aneska kepada Belvina.


“Tentu saja karena aku pernah menjebakmu dan juga mengancammu dulu.” Jawab Belvina.


“Salah! Bahkan sampai detik ini setelah kamu mengetahui apa kesalahanmu, kamu tidak pernah sekali pun mengucapkan kata maaf dengan tulus kepadaku!” ucap Aneska dengan tatapan tajamnya.


Mendengar ucapan Aneska membuat Belvina dan juga Alex terdiam dan saling menatap satu sama lain.


“Haha, apakah kamu belum meminta maaf kepada sepupumu Belvina?” tanya Alex dengan canggung.


Belvina yang mendengar ucapan papinya segera menoleh dan membuka kedua matanya dengan lebar, namun Alex membalasnya dengan tegas sambil memberikan isyarat kepada anaknya untuk meminta maaf kepada Aneska.


“Papi..” ucap Belvina.


“Sekarang Belvina!” tegas Alex.


Dengan perasaan kesal akhirnya Belvina terpaksa meminta maaf kepada Aneska saat itu, namun Aneska yang tau kalau Belvina terpaksa meminta maaf kepadanya hanya bisa tersenyum sinis.


“Bahkan kamu tidak meminta maaf dengan tulus, bagaimana bisa kakakku memaafkanmu kalau seperti itu!” ketus Aneisha yang tiba-tiba datang dan berjalan masuk ke dalam kamar kakaknya.


“Hei anak kecil! Ga sopan banget kamu ngomong kayak gitu sama papiku? Kamu ga tau apa-apa tau, dan sekarang perusahaan itu bukan perusahaan papamu lagi karena dia sudah mati!” ketus Belvina.


“Iya, papa dan mamaku meninggal karena kalian juga bukan? Kalian terlalu di butakan oleh harta tanpa tau kalau orang tuaku yang baik itu sebenarnya sudah menyiapkan perusahaan sendiri untuk papamu!” ketus Aneisha.


Alex yang mendengar ucapan  Aneisha terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh keponakannya itu.


“A-apa katamu barusan? Perusahaan untukku?” tanya Alex memastikan.


“Ah jadi omku ini ga tau apa-apa ya? Hah,, andai saja dulu om ga gila harta pasti saat ini kita hidup dengan damai bersama-sama.” Ucap Aneisha.


“Apa maksudnya ini?” tanya Belvina.


“Ah sudahlah, toh percuma saja karena semuanya sudah terlambat dan aku sudah menjual perusahaan itu kepada temanku.” Ucap Aneisha.


“Apa!? Kamu jual? Dasar bocah kecil!!” teriak Belvina yang mau menjambak Aneisha lalu tiba-tiba saja Evano memegang hp dan merekam kejadian tersebut hingga membuat Belvina menghentikan tangannya.

__ADS_1


“Apa kamu bodoh? Aku merekam semua kejadian ini dan aku akan mengunggah video ini ke social media agar semua penggemar Aneisha menyerangmu habis-habisan.” Ucap Evano.


“Apa-apaan sih kamu sudah gila ya?!” ketus Belvina.


“Ah mungkin karena kamu terlalu lama berada di penjara sampai kamu tidak tau kalau Aneisha sekarang sudah menjadi artis yang sangat terkenal dan di minati semua orang yang ada di seluruh dunia!” jelas Evano.


“Apa?! Benarkah itu pi? Apa anak ini benar-benar menjadi artis? Bagaimana bisa?” ucap Belvina kepada papinya.


“Belvina cukup! Ayo kita kembali dan jangan membuat keributan di sini!” tegas Alex sambil menggandeng tangan anak perempuannya.


“Engga! Apa papi terima gitu aja? Masa depanku hancur karena mereka memasukkanku ke penjara, tapi mereka berdua hidup dengan nyaman dan papi ga ngelakuin apapun?! Bukankah papi berjanji untuk membuat mereka hancur!” teriak Belvina yang membuat semua orang terkejut bahkan sampai membuat si kembar menangis.


“Lihatlah keponakanku menangis karena teriakanmu nenek lampir! Keluarlah sekarang, pergi dari sini sebelum aku menghubungi polisi dan kamu akan mendapatkan gelas gratis karena masuk ke dalam penjara sebanyak tiga kali.” Ucap Aneisha.


Belvina hanya menatap tajam ke arah Aneisha dan langsung pergi keluar kamar Aneska di ikuti oleh Alex di belakangnya.


Sedangkan Aneisha yang sudah melihat Belvina dan Alex pergi langsung lemas dan hampir terjatuh, untung saja ada Evano yang menangkapnya dengan cekatan.


“Nei, kamu kenapa?” tanya Evano.


“Duh kakiku lemas sekali setelah ngomong banyak.” Jawab Aneisha.


Aneska hanya terkekeh mendengar ucapan adiknya, dia tau betul kalau sang adik sangat gugup berhadapan dengan orang yang sudah mengecewakannya dan memberi luka di hatinya.


“Kalo gugup kenapa sok berani ngomong kayak gitu Nei?” tanya Aneska menggoda sang adik.


“Apaan sih kak, aku gas ok berani tapi emang berani!” ketus Aneisha.


“Iya kamu berani, bagus kamu sudah menahan semua emosimu untuk membalas ucapan mereka.” Puji Aneska.


“Huh aku jadi ga fokus liat keponakanku kan! Udah ah aku mau lihat keponakanku dulu.” Ucap Aneisha yang langsung berjalan ke tempat tidur bayi untuk melihat ketiga keponakannya.


“Hai keponakanku yang lucu-lucu,, ah gemas banget sih kak..” ucap Aneisha yang gemas dengan ketiga keponakannya.


“Apa kakak sudah menemukan nama untuk mereka?” tanya Aneisha.


“Aku dan mas Elvan akan menentukan nama untuk mereka nanti, sabarlah Nei mencari nama itu ga gampang tau..” ucap Aneska.

__ADS_1


Aneisha hanya memamerkan gigi putihnya kepada Aneska sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2