MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 31


__ADS_3

“Jadi bagaimana Nes? Apa kamu mau menghukum saudara sepupumu itu?” tanya Elvan.


“Tentu saja orang seperti itu harus di hukum lebih parah!” sahut Evano.


Mendengar ucapan Evano membuat Aneska menatapnya dengan tajam hingga membuat Evano mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Kak, apa aku terlalu baik kalau aku tidak mau menghukumnya?” tanya Aneska.


“Tentu saja nona Aneska! Kamu terlalu baik kepada orang yang hampir membuat hidupmu hancur.” Tegas Kevin.


“Sebenarnya aku tidak mau menghukumnya, aku merasa kalau kak Belvina tidak bermaksud untuk mencelakaiku, kalau mengingat masa laluku dengannya, dia sangat baik kepadaku dan selalu memberikan aku mainan yang aku inginkan.” Ucap Aneska.


“Itu dulu Nes! Kamu bisa ga sih jangan terlalu baik? Kebaikanmu itulah yang membuatmu sering di sakiti oleh orang lain!” ketus Evano yang kesal sekali dengan Aneska.


“Kamu ini sewot banget sih Van! Bagaimanapun juga dia itu adalah saudaraku, aku tidak mau kalau aku menghukumnya, dia justru akan semakin membenciku.”


Mendengar ucapan Aneska membuat Elvan mengerti akan kekhawatiran Aneska.


“Baiklah kalau begitu, kita biarkan untuk kali ini! Tapi lain kali aku tidak akan memaafkannya jika dia berbuat seperti itu lagi kepadamu!” tegas Elvan.


“Kak!” teriak Evano yang tidak terima.


“Aku tidak menerima bantahan Evano, kita sudah sepakat untuk mendengar pendapat Aneska lebih dulu!” tegas Elvan.


Evano yang mendengar ucapan Elvan segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruangan Elvan dengan perasaan kesal.


“Ah anak itu! Aku akan nyamperin dia dulu ya!” ucap Elvan namun di halangi oleh Aneska.


“Eh kak, biar aku saja yang nyamperin Evano! Kak Elvan di sini saja temani tuan Kevin, kalau begitu aku permisi dulu ya.” ucap Aneska yang langsung meninggalkan ruangan Elvan untuk mencari keberadaan Evano.


Setelah Aneska keluar dari ruangan, Elvan dan Kevin kembali serius untuk menangani masalah Aneska.


“Kamu yakin akan memberikan kesempatan untuk sepupu Aneska tuan Elvan? Tapi sepertinya orang sepertinya tidak akan menyerah bagaimanapun juga.” Ucap Kevin.


“Aku tau, aku akan menyuruh orangku untuk memantau gerak-gerik Belvina, aku juga tidak ingin kalau kejadian buruh terjadi lagi kepada Aneska.” Ucap Elvan.


***

__ADS_1


Di sisi lain, Aneska sedang mengelilingi perusahaan untuk mencari keberadaan Evano, tempat terakhir yang dia kunjungi adalah taman belakang perusahaan, dia yakin kalau Evano akan berada di sana.


Benar saja! Saat Aneska melihat di taman, ada Evano yang sedang duduk sambil menatap kolam ikan yang berada di hadapannya, Aneska segera menghampiri Evano dan duduk di sebelahnya hingga membuat Evano terkejut.


“Kamu ngapain di sini?!” tanya Evano.


“Aku hanya ingin menemanimu, memangnya tidak boleh?”


“Aku tidak mau berteman dengan orang yang terlalu baik!”


“Kenapa? Kamu harusnya bersyukur kalau memiliki teman baik sepertiku!”


Evano tidak mengatakan apapun lagi kepada Aneska, dia yang masih kesal hanya membuang wajah dari Aneska.


“Vano, kamu tau apa yang aku tidak suka dari sikapmu?” tanya Aneska yang tidak di jawab oleh Evano.


Vano adalah panggilan Aneska kepada Evano sejak mereka sedang berpacaran, Aneska sakit hati saat mengetahui kalau Evano memiliki wanita lain selain dirinya, tapi Aneska juga tidak bisa terlalu membenci Evano karena selama mereka memiliki hubungan, Evano sangat baik kepadanya dan selalu membantu Aneska jika sedang mengalami kesulitan.


“Aku merasa kalau kamu terlalu egois, sejak dulu kamu tidak pernah menerima pendapat orang lain.” Lanjut Aneska.


Evano tetap diam tidak mengucapkan apapun, dia hanya mendengarkan Aneska berbicara tanpa memotongnya atau membantahnya.


“Bagaimana kalau kita berteman saja sekarang? Kamu mau menjadi temanku bukan?” tanya Aneska sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Evano melirik sekilas ke arah tangan Aneska, lalu akhirnya dia menatap wajah Aneska yang sedang menatapnya dengan penuh harap.


“Baiklah, aku mau menjadi temanmu tapi aku tidak suka kalau kamu terlalu baik kepada orang yang sudah melukaimu! Lagipula aku juga lelah bertengkar denganmu terus.” Ucap Evano sambil membalas uluran tangan Aneska.


Drrtt,,drrtt..


Tiba-tiba saja, hp Aneska berdering membuat suasanya haru mereka menjadi lenyap begitu saja, Aneska melihat siapa orang yang menghubunginya dan langsung mengangkatnya saat mengetahui kalau Kanaya yang menghubunginya.


“Halo Nay, ada apa?” tanya Aneska.


“Setelah aku kembali, kita belum bertemu sama sekali Aneska! Aku sangat merindukanmu, apa kamu tidak merindukanku?” tanya Kanaya.


“Tentu saja aku merindukanmu, aku sedang berada di perusahaan kak Elvan, kamu kesini aja ya kita makan siang bareng di café dekat perusahaan, bagaimana?”

__ADS_1


“Boleh deh, aku akan segera bersiap dan pergi ke sana ya.” ucap Kanaya yang langsung mematikan telfonnya.


Setelah telfonnya di matikan, Aneska kembali memasukkan hpnya ke dalam saku celananya dan menoleh ke arah Evano.


“Maaf ya obrolan kita terganggu deh.” Ucap Aneska.


“Tidak masalah! Dia Kanaya sahabatmu sejak dulu kan?”


“Iya, dia yang sahabatku yang dulu sering aku ceritakan kepadamu.”


“Bahkan sampai hari ini aku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.”


“Kalau begitu nanti kita makan bersama saja, dia akan kemari jadi aku bisa mengenalkan kalian berdua.” Ucap Aneska dengan semangat.


“Boleh deh, lagipula aku tidak memiliki banyak pekerjaan di sini.”


Setelah lama mengobrol, Aneska dan Evano memutuskan untuk kembali ke ruangan Elvan dan di sana juga masih ada Kevin.


“Tuan Kevin masih di sini?” tanya Aneska.


“Tentu saja! Dia kan memang mencari kesempatan untuk melihatmu!” gumam Evano yang masih bisa di dengar oleh semua orang.


Elvan dengan segera menatap Evano dengan tatapan tajam, membuat Evano yang melihatnya hanya bisa menelan salvilanya.


Sedangkan Aneska memutuskan untuk tidak berdebat dengan Evano, dia berjalan dan berdiri tepat di sebelah Kevin.


“Ada apa nona Aneska?” tanya Kevin yang gugup karena tiba-tiba Aneska berada di hadapannya.


“Tuan Kevin, sebelumnya aku tidak memiliki kesempatan untuk berterimakasih kepadamu, tapi terimakasih banyak karena sudah membantuku, kamu juga sudah membantu menemukan pelaku sebenarnya, kamu memang laki-laki yang baik.” Ucap Aneska dengan penuh ketulusan.


“Ah, eh, i-iya nona Aneska kamu tidak perlu berterimakasih karena dari awal aku sudah memiliki perasaan untuk menjagamu, bagaimana kalau kita makan malam sebanyak 10 kali sebagai rasa terimakasihmu padaku.” Ucap Kevin.


“Apa? 10 kali?”


“Hm, lagipula makan siang kita waktu itu juga gagal karea banyak sekali kejadian yang tidak terduga bukan? Jadi apa salahnya kalau sekalian menebusnya?” ucap Kevin.


Evano yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sinis, sedangkan Aneska berfikir keras untuk hal itu dan akhirnya dia menyetujuinya.

__ADS_1


Kevin senang sekali karena Aneska menyetujui ajakan makan malamnya, dia segera berpamitan untuk pulang dan yang paling utama dia akan segera ke butik mamanya untuk mencari beberapa jas baru yang akan dia pakai untuk makan malam bersama Aneska.


__ADS_2