MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 126


__ADS_3

Elvan yang sudah menyelesaikan pekerjaannya sedang duduk di kursi kerjanya sambil menunggu Bagas yang masih memeriksa keuangan.


Elvan sudah merasa bosan di dalam ruangannya, dia ingin cepat-cepat kembali ke rumah karena dia sudah merindukan istri dan ketiga anaknya.


“Aku telfon Aneska deh.” Gumam Elvan dengan senyum di wajahnya sambil mengambil hp di saku celananya.


Namun Elvan terkejut karena sebelum dia menghubungi Aneska, justru Aneska sudah lebih dulu menghubunginya.


“Sepertinya dia juga sangat merindukanku.” Gumam Elvan yang langsung mengangkat telfon dari istrinya itu.


“Hai sayang..” ucap Elvan dengan semangat.


“Kamu ini semangat banget sih mas, kerjaannya kurang banyak ya sampe kamu masih punya tenaga untuk berteriak seperti itu?” tanya Aneska dari sebrang telfon.


“Engga, pekerjaanku banyak sekali sampe aku lelah, tapi saat melihat namamu di layar hp aku jadi semangat lagi.” Ucap Elvan.


“Dasar gombal,, kamu lagi sibuk mas?” tanya Aneska.


“Engga kok, pekerjaanku sudah selesai semua..” jawab Elvan.


“Gimana keadaan anak-anak?” tanya Elvan.


“Baik-baik semua mas, cuma Kalila setiap malam rewel terus dan aku harus berdiri di depan fotomu baru dia bisa tidur.” Jelas Aneska.


“Benarkah? Dia sangat menyayangi papinya, aku jadi ingin cepat-cepat pulang kalo begini.” Ucap Elvan.


“Makanya cepatlah pulang, oh iya mas, di mana Elizabeth?” tanya Aneska yang membuat Elvan terkejut karena istrinya bisa mengetahui nama Elizabeth.


“Loh kamu kok tau Elizabeth?” tanya Elvan.


“Tau dong, tadi dia video call sama mama, terus dia menceritakan semuanya, kenapa kamu jahat sekali sama dia mas?” tanya Aneska.


“Dia sangat menyebalkan, dia terus saja mengganggu dan juga sangat bawel.” Ucap Elvan.


“Kamu sangat menyayanginya dulu mas, dia itu adikmu bukankah harusnya kamu bersikap baik dengannya? Apa lagi saat ini dia sudah tidak memiliki siapapun.” Ucap Aneska.


“Yah dia memang tidak punya siapa-siapa tapi kesan pertamanya padaku sangat menyebalkan.” Ucap Elvan.


“Yah dia kan bercanda mas, mungkin juga dia ga tau kalo kamu ini ga suka bercanda sampai seperti itu.” Ucap Aneska.


“Udah ah jangan bahas dia lagi, aku ga mau kalo kita berdebat cuma gara-gara dia, kamu juga jangan terlalu mendekatkan anak-anak padanya, aku ga mau sampe anak-anak ketularan bawelnya.” Ucap Elvan.

__ADS_1


“Hahaha, apaan sih kamu mas! Jangan ngaco deh, anak-anak harus dekat sama semua auntynya.” Ucap Aneska.


“Iya terserah kamu aja deh, oh iya kamu mau aku bawain apa sayang?” tanya Elvan.


“Ga usah bawa apa-apa mas, kamu cepetan pulang aja kalo udah selesai anak-anak udah kangen kamu banget nih..” ucap Aneska.


“Yah baiklah aku akan segera pulang setelah semua selesai.” Ucap Elvan.


“Kamu udah sarapan kan mas?” tanya Aneska.


“Sudah kok sayang, kamu juga jangan lupa sarapan jangan sampe lupa karena terlalu sibuk dengan anak-anak.” Ucap Elvan.


“Siap sayang, kalo gitu udah dulu ya aku mau ngasih susu anak-anak.” Ucap Aneska.


“Baiklah, love you istriku… Titip salam rindu buat anak-anakku juga ya..” ucap Elvan yang langsung mematikan telfonnya.


Tidak lama setelah menutup telfon dari istrinya, Bagas masuk ke dalam ruangan Elvan karena tugasnya sudah selesai.


“Bagaimana pa? Udah selesai cek semua keuangan?” tanya Elvan.


“Sudah, semuanya sudah stabil sekarang dan tugas kita sudah selesai di sini.” Jawab Bagas.


“Apa aku perlu pindah kemari pa? Sepertinya harus ada yang menghandle perusahaan di sini.” Ucap Elvan.


“Tentu saja mereka ikut pindah denganku, beberapa hari saja rasanya seperti bertahun-tahun, bagaimana kalau aku harus pindah sendirian.” Ucap Elvan.


“Tidak bisa! Kamu bisa membuat papa dan mama berperang tau! Dia sangat senang dengan kehadiran anak-anakmu tidak akan mudah untuk keluar dari rumah itu.” Ucap Bagas.


“Terus gimana pa? Perusahaan ini hanya diam di tempat seperti ini, keuntungannya juga tidak setinggi perusahaan di Jakarta.” Ucap Elvan.


“Sudahlah kita bahas nanti saja di rumah, papa ga akan ikut-ikut kalau sampai kamu berdebat dengan mamamu.” Ucap Bagas.


“Iya pa iya,, sudahlah ayo kita pergi aku ingin cepat-cepat beli oleh-oleh dan kita bisa segera pulang.” Ajak Elvan.


“Kamu ini ga ada capeknya ya? Istirahatlah dulu sehari, kita bisa liburan dulu seharian.” Ucap Bagas.


“No pa! Aku sudah merindukan Aneska dan anak-anak, apa papa tidak merindukan mama? Wah, apa jangan-jangan papa punya pacar baru ya!?” ucap Elvan asal.


“Hus! Ngawur kamu ini! Bisa di gantung papa kalo sampe mama denger kamu ngomong begitu!” ketus Bagas.


“Hahaha, makanya ayo kita cepat pulang karena aku sudah merindukan rumah..” ucap Elvan.

__ADS_1


Elvan segera beranjak dari tempat duduknya dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas kerjanya.


Elvan berjalan mendahului papanya begitu saja, dia ingin sekali cepat-cepat pulang ke hotel dan segera bersiap untuk mencari oleh-oleh.


“Yaampun Elvan tunggu papa!” teriak Bagas yang tidak di gubris oleh Elvan yang sudah masuk ke dalam lift.


Di dalam mobil, Elvan dan Bagas tidak mengatakan apapun sampai akhirnya mereka sampai di hotel.


“Pa, kalau papa mau ikut sama Elvan nanti cepetan langsung siap-siap ya kita akan langsung berangkat.” Ucap Elvan.


“Kamu ini benar-benar tidak ada capeknya ya?” tanya Bagas.


“Biar cepet selesai pa, anak-anak selalu rewel kasihan Aneska.” Ucap Elvan.


Ceklek!! Suara pintu kamar Elizabeth terbuka dan kepalanya keluar dari ambang pintu untuk melihat ke luar.


“Hai kak Elvan, di mana uncle Bagas?” Tanya Elizabeth.


“Di kamarnya!” ketus Elvan yang langsung masuk ke dalam kamarnya.


“Dih dasar gunung es! Tapi masih mending lah dari pada ga di jawab sama sekali.” Gumam Elizabeth yang langsung berjalan ke kamar Bagas.


Tok,,tok,,tok..


“Uncle, ini Elizabeth, boleh masuk ga?” tanya Elizabeth.


“Masuklah.” Jawab Bagas dari dalam kamarnya.


Elizabeth segera membuka pintu kamar Bagas dan masuk ke dalam.


“Uncle lagi ngapain?” tanya Elizabeth.


“Kamu mau ikut kan? Cepatlah bersiap karena Elvan buru-buru sekali mau pergi mencari oleh-oleh, uncle mau mandi dulu, cepatlah kamu keluar.” Ucap Bagas dengan buru-buru.


Sedangkan Elizabeth yang kebingungan segera keluar dari kamar omnya dan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap sesuai dengan ucapan Bagas.


Setelah beberapa menit akhirnya semua orang selesai bersiap dan mereka segera berangkat ke pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh untuk orang rumah.


“Kak, kita jadi pulang besok?” tanya Elizabeth.


“Hmm..” ucap Elvan dengan singkat.

__ADS_1


Elizabeth yang sudah terbiasa dengan kecuekan Elvan hanya bisa menghela nafas panjang, sedangkan Bagas hanya bisa memberikan senyuman untuk menyemangati Elizabeth.


“Tidak apa uncle, aku sudah terbiasa menghadapi gunung es seperti kak Elvan!” bisik Elizabeth membuat Bagas sedikit tenang karena Elizabeth tidak pernah tersinggung dengan ucapan Elvan.


__ADS_2