
Berhenti berusaha tuk jadi yg sempurna. Temukan dia yg tahu semua kelemahanmu tapi tetap ingin menjadi bagian hidupmu.
Elvan, Aneska dan Aneisha sudah masuk ke halaman rumah keluarga Elvan, di sana papa dan mama Elvan sudah menunggu kedatangan Aneisha dan Aneska ke rumah mereka karena mereka berdua benar-benar khawatir dengan keadaan Aneisha.
“Yaampun, papa dan mama benar-benar terlalu mengkhawatirkan Aneisha kak padahal kan Anei ga kenapa-kenapa.” Ucap Aneska kepada Elvan.
“Mereka itu dari dulu memang ingin sekali memiliki anak perempuan, jadi wajar lah sekalinya punya anak perempuan jadi se heboh itu.” Balas Elvan.
“Makanya segeralah menikah agar papa dan mama mendapatkan anak perempuan kak.” Ucap Aneska.
“Aku hanya akan menikah denganmu bagaimana?” bisik Elvan dengan senyum yang mengembang di wajahnya yang membuat Aneska terkejut mendengarnya.
“Tolong hilangkan kebiasaan kakak bercanda seperti itu.” Ucap Aneska sambil menatap tajam ke arah Elvan.
“Hahaha, sudahlah ayo kita turun.” Ajak Elvan.
Akhirya Elvan turun dari mobilnya dan membukakan pintu untu Aneisha dan menggendongnya turun. Papa Bagas dan mama Mala langsung menghampiri Aneisha dan membantunya untuk berjalan masuk ke dalam rumah.
“Sayang, apa kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu sudah pulang? Apa lukamu sudah sembuh?” tanya mama Mala.
“Huhuhu mama kaki dan tangan Aneisha sakit sekali.” rengek Aneisha.
Aneska yang melihat tingkah manja Aneisha dari jauh hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berjalan menghampiri mereka.
“Aneisha tidak apa-apa ma, dia saja yang berlebihan padahal hanya goresan-goresan kecil seperti itu.” Ucap Aneska.
“Walaupun hanya goresan pasti sakit sekali Aneska, jangan terlalu keras kepada adikmu.” Ucap papa Bagas.
Aneska hanya menghela nafas panjang dan pasrah karena mendengar ucapan papa Bagas yang membela Aneisha.
“Keluarga ini terlalu memanjakan Aneisha kak, aku takut kalau Aneisha terlalu bergantung kepada kalian.” Ucap Aneska.
“Nes, walaupun Aneisha bergantung kepada papa dan mama memangnya kenapa? Biar saja karena mereka memang menganggap Aneisha dan kamu seperti anaknya sendiri.” Ucap Elvan.
“Sudahlah tidak usah terlalu banyak berfikir, lebih baik kamu masuk dan membersihkan dirimu karena aku yakin kamu pasti sudah sangat lelah jadi berendam air hangatlah agar tubuhmu relax.” Lanjut Elvan yang melihat Aneska hanya melamun melihat Aneisha dan orang tuanya yang berjalan ke dalam rumah.
Akhirnya Aneska masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya untuk mandi karena Aneisha sedang berada di bawah bersama Elvan dan orang tuanya.
Di dalam kamarnya Aneska segera menyiapkan air hangat dan memasukkan sabun cair yang beraroma bunga dalam jumlah yang cukup banyak agar menghasilkan banyak busa dan wangi yang membuat orang menjadi relax.
“Hah, memang paling enak berendam air hangat.” Ucap Aneska yang baru saja memasukkan tubuhnya ke dalam bath up sambil memejamkan matanya menikmati kehangatan air yang merendam tubuhnya.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Aneska segera keluar dari kamar mandi untuk memakai pakaian santainya dan beristirahat karena dia sangat lelah.
Drrtt,,drrtt,,
Aneska melihat ke arah hpnya yang berdering di atas meja, dia melihat nomer tidak di kenal menelfonnya. Awalnya Aneska tidak menjawabnya namun karena hpnya terus saja berdering akhirnya dia terpaksa mengangkat telfon itu.
“Halo.” Ucap Aneska dengan ketus.
“Ternyata di telfon juga kamu jutek ya.” ucap laki-laki di sebrang telfon.
Aneska sudah bisa menebak kalau yang menelfonnya adalah Kevin.
“Tuan Kevin?” tanya Aneska.
“Wah kamu sudah mengingat suaraku ya.” ucap Kevin.
“Ada apa anda menelfon?”
“Apa kamu sudah sampai di rumah?” tanya Kevin.
“Saya sudah sampai di rumah.”
“Iya memang saya belum makan siang karena saya tidak lapar.” Jawab Aneska.
“Mau makan siang di luar bersamaku?” tanya Kevin.
“Maaf tuan Kevin, tapi saya mau istirahat karena saya sudah sangat lelah, lagi pula sekarang sudah sore dan bukan waktunya untuk makan siang lagi.” Ucap Aneska.
“Baiklah, apa besok kamu bisa keluar bersamaku? Aku ingin mengajakmu makan bersama di luar."
“Karena aku masih memiliki janji denganmu, baiklah aku akan keluar dan makan bersamamu tapi aku hanya memiliki waktu luang saat pulang kerja.” Ucap Aneska.
Kevin yang mendengar ucapan Aneska langsung tersenyum senang dan sangat menantikan hari esok tiba.
“Baiklah, kalau kamu sudah pulang segera kabari aku. Aku akan menjemputmu di perusahaan.” Ucap Kevin lalu mematikan telfonnya tanpa mendengar jawaban dari Aneska.
“*Aku kan belum menjawab iya atau tidak tapi sudah di matikan saja, seenaknya saja*!” gumam Aneska sambil menaruh kembali hpnya di meja riasnya.
Aneska memakai vitamin wajah ke seluruh wajahnya lalu dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan memejamkan matanya mencoba untuk tertidur.
__ADS_1
Di ruang keluarga, papa Bagas, mama Mala, Aneisha dan Elvan masih duduk di sana dan berbincang-bincang mengenai banyak hal.
“Bagaimana kamu bisa tidak menjaga tubuhmu Aneisha, kamu bercita-cita menjadi model jadi kamu harus menjaga tubuhmu agar tidak terluka.” Ucap mama Mala.
“Tenanglah ma, Aneisha akan lebih berhati-hati setelah ini Aneisha berjanji.” Ucap Aneisha sambil mengangkat jari kelingkingnya.
“Oh iya Elvan, bagaimana perkembangan perusahaanmu?” tanya papa Bagas.
“Kenapa papa nanya? Jangan-jangan papa mau jadi mata-mata ya?” tanya Elvan dengan tatapan menyelidik.
“Dasar anak kurang ajar, papanya nanya perkembangan perusahaan malah di balas begitu.” Ucap papa Bagas.
“Tau nih kak Elvan, masa nuduh papa Bagas mata-mata.” Sambung Aneisha.
“Jadi sekarang kamu belain papa?” tanya Elvan kepada Aneisha.
“Hehehe, ampun kak Elvan.” Ucap Aneisha sambil memamerkan gigi putihnya.
“Papa tenang saja, perusahaan sudah mulai proses produksi pakaian dan kami juga sudah mendapatkan investor.” Jelas Elvan.
“Benarkah? wah hebat sekali kamu sudah mendapatkan investor secepat itu.” Puji papa Bagas.
“Kalau tidak ada Aneska, Daniel dan para karyawan yang lain Elvan tidak akan bisa bergerak secepat ini pa.” ucap Elvan.
“Oh iya ngomong-ngomong, Aneska di mana? Kenapa dia tidak turun?” tanya mama Mala.
“Mungkin dia sedang beristirahat ma, dari tadi dia tidak memiliki waktu untuk beristirahat.” Jelas Elvan.
“Dan tidak sempat makan siang juga kak, kak Aneska belum makan siang loh dan dia punya maag.” Ucap Aneisha yang baru ingat kalau kakaknya belum makan siang karena sibuk menjaganya.
“Benarkah? kalau begitu mama akan membawakannya makanan.” Ucap mama Mala.
“Tidak usah ma, biar Elvan saja yang membawakan makanan untuk Aneska. Mama duduk saja di sini ya.” ucap Elvan sambil beranjak dari tempat duduknya.
Elvan langsung pergi ke dapur dan mengambil makanan dan minuman untuk Aneska lalu segera naik ke atas dan mengetuk kamar Aneska namun tidak ada jawaban dari Aneska.
“Nes?” ucap Elvan sambil membuka pintu kamar Aneska.
Elvan yang melihat Aneska sedang tertidur itupun langsung terdiam, dia menaruh nampan yang berisi makanan dan minuman itu di atas meja kecil yang berada didekat tempat tidurnya lalu dia menyelimuti tubuh Aneska dan melihat wajah Aneska yang polos tanpa make up.
“*Melihat wajahmu saja jantungku sudah berdebar, apa aku sudah menyukaimu? Jika aku benar-benar mulai menyukaimu apa kamu akan mengijinkannya? Aku takut hubungan yang sudah terjalin dengan baik ini akan rusak karena perasaanku padamu*.” Gumam Elvan di dalam hatinya.
__ADS_1
Setelah cukup lama memandangi Aneska yang sedang tertidur akhirnya Elvan memutuskan untuk meninggalkan catatan di dekat makanannya, lalu Elvan pergi keluar dari kamar Aneska.