
Bab 11
Jalani dan nikmati sepahit apapun hidupmu sekarang, percayalah suatu saat kelak kau akan merindukannya.
***Apartment Kanaya***
“Gavin cepatlah, kakak akan terlambat sampai di bandara!” teriak Kanaya yang sedang sibuk memasukkan baju ke dalam kopernya.
Kanaya adalah seorang pramugari yang bekerja di maskapai penerbangan yang cukup besar dan terkenal di Indonesia, dia seringkali tidak pulang ke apartmentnya karena terbang ke berbagai negara.
Gavin sebenarnya sudah menyuruh kakaknya untuk berhenti, terlebih lagi kedua orang tua Kanaya dan Gavin yang meminta Kanaya untuk mengambil alih perusahaan papanya namun di tolak oleh Kanaya.
Kanaya selalu bilang jika Gavin lah yang harus mengurus perusahaan papanya, sedangkan dia akan bekerja sesuai keinginannya. Sejak saat itulah Kanaya memutuskan untuk keluar dari rumah kedua orang tuanya dan tinggal di apartment yang lumayan besar baginya dengan uang yang dia miliki.
Gavin yang merasa khawatir karena kakaknya memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal di luar sendiri akhirnya ikut keluar dari rumah dan tinggal bersama kakaknya.
“Iya kak sabar Gavin juga kan masih bersiap untuk kuliah juga.” Ucap Gavin sambil keluar dari kamarnya.
“Ayo kita berangkat.” Ajak Kanaya yang menarik koper besarnya.
“Kak, apakah kakak tidak sarapan terlebih dahulu?” tanya Gavin.
“Kakak sudah membuat roti bakar dan sudah membawanya, aku juga sudah membawakanmu roti bakar dan aku taruh di tasmu, jadi kamu makan di kampus saja ya vin.” Ucap Kanaya.
Gavin hanya mengangguk menanggapi ucapan kakaknya dan segera masuk ke dalam mobil untuk mengantarnya ke bandara.
“Kapan kakak akan pulang?” tanya Gavin.
“Mungkin dua hari lagi, oh iya sebenarnya ada barang Aneska yang berada di dalam rumah tapi kakak sudah bilang jika kakak akan pergi, jadi kakak membawa barang itu bangku belakang, nanti kamu berikan kepada Aneska atau Aneisha ya.” ucap Kanaya.
“Barang apa kak?”
__ADS_1
“Entahlah sepertinya itu sebuah dokumen penting hingga dia menitipkannya kepada kakak.” Ucap Kanaya yang di balas dengan anggukan oleh Gavin.
Sesampainya di bandara, Kanaya segera turun dari mobil sedangkan Gavin ikut turun dan membantu Kanaya mengangkat barang-barang yang di bawanya.
“Ingat ya kak, kakak harus berhati-hati dengan lelaki hidung belang yang ada di pesawat, mereka akan melakukan apapun untuk mendapat keuntungan, jika mereka mengancam untuk memecat kakak dari pekerjaan kakak biarkan saja, perusahaan papa terbuka lebar untuk menerima kakak.” Tegas Gavin.
Kanaya tersenyum mendengar ucapan adik kesayangannya itu, kadang Kanaya pusing dengan sikap kekanakannya yang masih suka bermain dengan teman-temannya, namun kadang juga Gavin bisa menjadi dewasa jika sudah menyangkut dirinya.
“Sudahlah, kamu ini tenang saja kakak bisa menjaga diri sendiri. Kamulah yang harus menjaga diri, jangan terlalu sering bermain dengan teman-temanmu, cepat lulus dan bekerjalah agar kamu bisa membayar kembali apa yang sudah aku berikan saat kamu tinggal bersamaku.” Canda Kanaya dengan nada yang di buat serius.
“Hah? Yaampun kak kenapa kamu perhitungan sekali dengan adikmu ini?” perotes Gavin kepada kakaknya.
Kanaya hanya tertawa mendengar protes dari mulut adiknya itu.
“Sudahlah jaga dirimu baik-baik, kakak akan segera menghubungimu jika sudah sampai di tempat tujuan.” Ucap Kanaya sambil berjalan dan melambaikan tangannya ke arah adiknya.
Gavin membalas lambaian tangan kakaknya itu dan segera pergi meninggalkan bandara untuk menjemput Aneisha yang kebetulan memiliki jadwal di jam yang sama dengannya.
Gavin tersenyum melihat nama yang terpampang di layar hpnya dan segera mengangkatnya.
“Halo tuan putri..” sapa Gavin dengan nada menggoda orang yang berada di sebrang telfon.
“Tuan putri apanya jika harus menunggu seseorang untuk menjemput?” protes Aneisha.
“Iya maaf, tadi aku mengantar kak Naya dulu ke bandara dan sekarang aku sedang berada di jalan untuk menjemputmu.” Ucap Gavin.
“Baiklah kak aku akan menunggumu.” Ucap Aneisha lalu mematikan telfonnya.
Rumah keluarga Bagaskara
__ADS_1
“Nei, kamu bareng kita aja yuk.” Ajak Elvan yang melihat Aneisha berdiri menunggu seseorang.
“Tidak kak, aku sedang menunggu kak Gavin. Kebetulan dia ada jam kuliah yang sama denganku.” Ucap Aneisha.
“Kok tumben Gavin terlambat menjemputmu Nei?” tanya Aneska yang baru keluar dari rumah.
“Iya kak, katanya nganter kak Naya dulu ke bandara.”
“Naya sudah berangkat? Oh iya kakak juga menitipkan dokumen penting katanya akan di bawa oleh Gavin, nanti tolong taruh di kamar dulu ya Nei.” Ucap Aneska.
“Baiklah kak, aku akan menaruh dokumennya di kamar nanti. Kakak berangkatlah duluan dan hati-hati di jalan.” Ucap Aneisha dengan senyum manisnya.
“Baiklah, ingat kamu juga hati-hati dan belajar yang pintar jangan berpacaran!” tegas Aneska.
“Ih apaan sih kak, aku ga pacaran tau! Lagi pula kakak juga dulu berpacaran saat kuliah.”
“Tapikan beda, aku lebih dewasa di banding dengan dirimu.”
“Sudah-sudah, kalian ini selalu saja berdebat. Ayo kita berangkan Nes, dan kamu Nei hati-hati di jalan jangan keluyuran saat pulang kuliah nanti.” Ucap Elvan yang di balas anggukan oleh Aneisha.
Aneska dan Elvan masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju kantor untuk bekerja.
“Kamu jangan terlalu keras kepada Aneisha Nes.” Ucap Elvan.
“Dia masih belum dewasa kak, aku harus mengingatkannya terus menerus agar dia tidak terbawa dengan pergaulan bebas di luar sana.”
“Aku tau, tapi setiap orang berbeda. Aku hanya takut jika Aneisha adalah tipe anak yang jika di peringati terus menerus malah akan merasa penasaran dan mencoba hal yang sudah di larang.”
Ucapan Elvan membuat Aneska memikirkan tentang sikapnya terhadap Aneisha kembali, dia memang selalu menasehati Aneisha terus menerus.
“Apa benar ucapan kak Elvan jika semakin di beritau dia akan semakin penasaran dan mencobanya?” batin Aneska dengan tatapan kosong ke depan.
Aneska yang sedari tadi terhanyut dalam lamunannya itu tidak menyadari jika ternyata dia sudah sampai di perusahaan.
“Nes, heloo ness..” ucap Elvan sambil sesekali menggoyang tubuh Aneska.
Aneska terkejut karena ada yang menggoyankan tubuhnya akhirnya tersadar dan menatap Elvan.
“Kak, kita sudah sampai?” tanya Aneska.
“Dari tadi Nes, sudahlah ayo cepat kita harus bekerja dan jangan melamun terus nanti kamu kerasukan.” Canda Elvan.
“Ye, yang ada setannya takut sama aku kak kan aku ratunya setan.” Balas Aneska dengan candaan.
Elvan hanya tertawa mendengar Aneska yang membalasnya dengan sebuah candaan juga. Mereka berdua masuk ke dalam perusahaan dan memutuskan untuk berbicara dengan koki yang ada di perusahaan untuk mengubah menu makanan yang akan di sediakan untuk para karyawan.
Setelah berbicara dengan koki tersebut dan memberinya dana untuk berbelanja, Aneska dan Elvan segera menuju lobby dan mengambil microphone yang di gunakan untuk memberi informasi.
“Cek, satu dua tiga..” ucap Elvan yang membuat Aneska tertawa karena tingkah lucu Elvan.
“Kak, jangan seperti itu. Kamu terlihat konyol jika melakukan itu di depan para karyawanmu.” Bisik Aneska tepat di belakang Elvan.
Mendengar ucapan Aneska, Elvan segera menetralkan dirinya untuk kembali menjadi CEO yang bijaksana.
Para karyawan satu persatu berkumpul untuk mendengar apa yang akan di ucapkan oleh Elvan.
“Selamat pagi untuk semua karyawan yang ada di sini. Saya Elvan Arka Bagaskara selaku CEO baru untuk perusahaan ini ingin mengucapkan terimakasih banyak atas kerja keras yang sudah kalian lakukan untuk perusahaan selama ini. Saya yakin jika kalian semua tau jika perusahaan ini tidak sesukses perusahaan keluarga Bagaskara yang lainnya, saya juga tau jika sebenarnya di fikiran kalian ada rasa takut akan di PHK dari perusahaan ini.”
“Pertama, saya tidak akan mem PHK karyawan yang ada di sini jika memang dia adalah karyawan yang jujur. Tapi jika saya mendapat laporan kecurangan dari salah satu karyawan yang ada di sini saya akan segera menyelidikinya dan tidak akan memberi kesempatan ke dua untuk karyawan tersebut. Kedua, saya sudah mengganti menu makanan di kantin perusahaan dengan makanan yang lebih bergizi agar kalian dengan catatat, kalian harus bekerja keras dua kali lipat di bandingkan sebelumnya.”
__ADS_1
“Dan yang terakhir, saya meminta tolong dengan sangat tulus kepada kalian semua untuk bekerja sama dengan saya membangun perusahaan ini menjadi perusahaan yang sukses dan di cari oleh perusahaan lain. Dan untuk para ketua divisi, saya ingin mengadakan rapat dadakan dan jangan lupa untuk membawa semua berkas-berkas perusahaan yang ada pada kalian untuk di jelaskan kepada saya.” tegas Elvan.
Aneska menatap kagum kepada Elvan yang berbicara dengan tegas kepada para karyawannya, itu sangat bertolak belakang dengan Elvan yang biasa dia lihat.