
Saat tengah malam, Aneska tersadar, kepalanya terasa sedikit pusing karena efek obat yang dia minum.
Aneska melihat adiknya sedang tertidur di sebelahnya, Aneska merasa sangat haus dan memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil minum.
Aneska berhasil turun dari tempat tidurnya secara perlahan agar tidak membangunkan adiknya.
Di dapur Aneska melihat seseorang yang sedang duduk di meja makan sambil memegang sebatang rokok di tangannya.
"Kak Elvan, kenapa kakak bangun jam segini?" Tanya Aneska.
Namun Aneska tersadar kalau Elvan tidak pernah merokok karena dia selalu merawat dirinya sendiri, tadi dia tidak menyadarinya karena lampu dapur mati dan Aneska tidak bisa melihat dengan jelas.
"Kamu! Siapa kamu!?" Tanya Aneska sambil melangkahkan kakinya untuk mencari saklar lampu.
"Kamu yang siapa!?" Tanya laki-laki itu.
Ctek! Aneska berhasil menyalakan lampu dapur, dia langsung menoleh ke arah laki-laki itu dan terkejut saat melihatnya.
"E-evano?" ucap Aneska yang masih terkejut.
"Aneska!? Kenapa kamu bisa berada di sini!?" Tanya Evano.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Kenapa kamu bisa berada di sini?"
"Aku sepupu Elvan, tentu saja aku berada di sini." ucap Evano.
"Sepupu?"
"Iya aku adalah sepupunya! Lalu kamu? Sedang apa kamu di sini?" Tanya Evano.
"Aku adalah anak angkat papi Bagas dan mami Mala." ucap Aneska.
"Apa!? Jadi mereka mengadopsimu?"
Aneska hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Evano.
"Nanti saja berdebatnya! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu aku lelah!" ucap Aneska yang langsung berlalu melewati Evano dan langsung mengambil minuman.
"Hey tunggu! Siapa yang menyuruhmu untuk melewatiku begitu saja!?" ketus Evano.
"Kamu ga bosen setiap kita ketemu pasti berdebat? Jangan cari masalah ini bukan rumahmu!"
"Ini rumah omku!"
"Selama bukan rumahmu sendiri kamu tidak boleh seenaknya!"
Tiba-tiba saja Evano menghampiri Aneska dan menjambak rambutnya hingga membuatnya kesakitan.
"Ah!!" teriak Aneska.
Aneska langsung membalas menjambak rambut Evano yang sedikit panjang juga hingga membuat keduanya sama-sama berteriak.
__ADS_1
Semua orang rumah yang mendengarnya langsung terkejut dan segera berlari menghampiri ke asal suara.
"Yaampun Aneska! Evano!" teriak Elvan yang sudah berada di sana.
"Kak Elvan!?" ucap Aneska dan Evano secara bersamaan.
"Evano? Evano mantan kak Anes?!" ucap Aneisha yang memang tidak begitu mengenal mantan kakaknya itu.
"Hai Aneisha, kamu sudah besar sekarang padahal dulu kamu masih kecil sekali." sapa Evano.
"Mantan? Apa maksudnya ini?" Tanya Mala.
"Kak Evano itu mantan kak Anes mi, mereka berdua pernah pacaran waktu kuliah dulu, aku juga sering mendengar kak Aneska selalu menceritakan tentang kak Evano kepada mama dulu." jelas Aneisha yang membuat kedua mata Aneska membulat sempurna.
"Apaan sih Nei! Bukan mi, Aneska juga ga mau kali punya mantan yang sukanya nemplok cewe sana sini!" ketus Aneska.
"Apa kamu bilang!? Aku juga ga mau punya mantan kayak kamu kuper!" balas Evano.
"Sudah diam! Apa kalian berdua tidak malu di lihat Aneisha?" ucap Elvan.
Mendengar ucapan Elvan membuat keduanya diam dan saling memberi tatapan tajam satu sama lain.
"Mata kalian mau aku colok!?" ketus Elvan saat melihat keduanya.
Akhirnya keduanya saling membuang muka karena ucapan Elvan.
Aneska memutuskan untuk kembali ke kamarnya sambil membawa gelas berisi minuman, sedangkan Evano juga mau kembali ke dalam kamarnya namun di halangi oleh Elvan.
"Kamu sedang apa malam-malam keluar kamar?"
"Aku tidak biasa tidur jam segini jadi aku keluar untuk rokokan di dapur sambil meminum minuman kaleng di kulkas." jelas Evano.
"Kalau begitu kamu tidurlah,, besok kamu akan ikut bersama kak Elvan ke perusahaan bukan?" ucap Mala yang di balas anggukan oleh Evano.
Aneisha menatap tidak suka kepada Evano yang tersenyum kepadanya.
"Apa kak Aneska benar-benar pernah berpacaran dengan laki-laki itu?" gumam Aneisha yang masih bisa di dengar oleh Elvan.
"Kamu ga pernah lihat pacar kakakmu emang?" Tanya Elvan tiba-tiba.
"Engga kak, kak Anes emang jarang sekali membawa teman laki-laki mungkin itu juga yang menyebabkan kak Anes di panggil kuper." jelas Aneisha.
"Ah begitu,, yaudah kamu kembali ke kamar ya istirahatlah jaga kakakmu." ucap Elvan.
"Iya kak, oh iya kak bagaimana dengan orang yang mencelakai kakak?" Tanya Aneisha.
"Kamu jangan memikirkan hal itu, biar itu menjadi urusanku."
Akhirnya Aneisha menganggukkan kepalanya dengan pasrah, sebenarnya dia sangat ingin tau siapa orang yang berani membuat kakaknya hampir di permalukan.
Aneisha berpamitan kepada Elvan, Mala dan Bagas untuk kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Mereka benar-benar pernah berkencan? Yah pa bagaimana ini Aneska mantannya ponakan kita." ucap Mala.
"Lalu kenapa? Mereka hanya berpacaran bukan menikah jadi aman-aman saja, benarkan Elvan?" ucap Bagas.
"Apaan sih pi, mi, jangan memaksakan sesuatu karena Elvan tidak mau hubungan Elvan dengan Aneska menjadi buruk dan canggung karena di jodohkan!" ucap Elvan yang langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Elvan tau betul kalau kedua orang tuanya akan menjodohkan dirinya dengan Aneska, jujur saja Elvan sudah memiliki sedikit rasa kepada Aneska karena sikap mandiri dan dewasa yang di miliki Aneska.
Namun Elvan tau kalau Aneska hanya menganggapnya sebagai kakak saja, lagipula ada Kevin yang juga menyukai Aneska, dan sekarang muncul mantan kekasih Aneska yang tidak lain adalah sepupunya sendiri.
"Lebih baik aku lupakan perasaan ini karena kami tidak mungkin bersama." gumam Elvan sambil menaiki tangga ke kamarnya.
***
Keesokan harinya kondisi Aneska sudah lebih baik, dia langsung mencuci wajah dan menyikat giginya setelah itu turun ke bawah untuk membantu para pelayan menyiapkan sarapan.
"Non Aneska kenapa ga istirahat saja?" Tanya pelayan tersebut.
"Engga ah bi, badan Aneska udah enakan kok jadi Aneska mau bantuin bibi di sini." ucap Aneska.
"Nanti bibi di marahin sama orang rumah kalo biarin non Aneska kerja."
"Engga bi, Aneska kan yang maksa jadi bibi gausah takut ya ayo kita masak." ucap Aneska dengan semangat.
Aneska membantu pelayan untuk menyiapkan sarapan, sedangkan Aneisha yang baru bangun dari tidurnya langsung menghela nafas saat tidak ada sang kakak di sana.
"Kak Anes.." panggil Aneisha sambil menuruni tangga.
Aneisha tau betul kalau kakaknya pasti berada di dapur pagi-pagi.
"Hai Nei, kamu sudah bangun? Mandi dulu sana." ucap Aneska.
"Kak kamu kan baru sembuh, kenapa udah bantuin bibi di sini? Biarkan Aneisha aja yang bantu bibi."
"Tidak Nei, kakak sudah baik-baik saja kok, kamu mandi aja sana!"
"Kakak selalu saja begitu, tidak pernah mengijinkanku melakukan pekerjaan rumah!" ketus Aneisha sambil berjalan menaiki tangga kembali.
Aneska hanya bisa tersenyum sambil melihat punggung adik kesayangannya yang sedang berjalan menaiki tangga.
"Bibi tau kenapa aku tidak mengijinkannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah?" Tanya Aneska kepada pelayan tersebut.
"Emangnya kenapa non?"
"Papa dan mama sangat menyayanginya, dia tidak pernah di ijinkan untuk menyentuh peralatan dapur, apalagi saat dia bercita-cita menjadi model, tubuhnya adalah harta yang harus di jaga." jelas Aneska.
"Aneska ga mau kalau dia harus mengerjakan pekerjaan rumah hanya karena sudah tidak memiliki orang tua, Aneska mau membahagiakannya, karena dia adalah satu-satunya alasan Aneska tetap berusaha untuk bangkit." lanjutnya.
Tanpa Aneska sadari, Elvan yang sudah berada di sana sejak tadi pun mendengar semua ucapan Aneska kepada pelayan tersebut.
"Dan aku akan menjadi orang yang paling mendukungmu untuk bangkit." gumam Elvan.
__ADS_1