
Huaa tolong author di demoo.... Hehehe maaf kakak-kakak semuanya alurnya jadi belok ya hehe, cuma kejutan aja kok soalnya akhir-akhir ini kolom komentar sepi sekali hehe... Tenang aja author ga sejahat itu yang ngasih konflik terus menerus, author juga pusing mikirnya nih hehe..
Author akan menamatkan novel ini dengan ending bahagia buat Aneska dan Elvan kok, author juga ga suka yang sad ending...
Sabar yaa🤗💙
***
"Cih! Aku tau kamu itu adalah ular! Bagaimana bisa hpku ada di tasmu ini hah!?" ketus Elvan sambil memperlihatkan ponsel miliknya yang ternyata memang ada di dalam tas wanita tersebut.
Wanita itu hanya tersenyum tipis membuat Elvan semakin kesal dan mengerutkan keningnya.
"Kenapa wajahmu kaku seperti itu kak Elvan? Apa kamu sudah melupakan aku?" tanya wanita tersebut.
"Ga usah sok kenal! Aku tau kamu pasti yang sudah memberikan aku obat perangsang ya!?" ketus Elvan.
"Hahaha, yang ngasih obat bukan aku tapi om Bagas, lagi pula itu hanya obat tidur bukan obat perangsang tau, bagaimana bisa kamu tidak bisa membedakan kedua hal itu?" tanya wanita itu.
"Kamu ini siapa sebenarnya!? Ga mungkin papaku memberikan aku obat agar bisa tidur dengan wanita sepertimu!" ketus Elvan.
"Lagipula aku ini memakai pakaian lengkap kak! Lihatlah baik-baik." ucap wanita itu sambil membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Elvan terkejut saat melihat wanita yang ada di hadapannya masih memakai pakaian lengkap, tapi kenapa dia hanya memakai boxer saja? pikirnya.
"Apa maumu?! Kenapa kamu melakukan hal ini padaku hah!?" ketus Elvan.
"Kak, lihat baik-baik aku ini siapa?" tanya wanita tersebut.
"Apaan sih kamu gila!"
"Kakak benar-benar tidak mengingatku? Coba ingat-ingat lagi! Kak Evano bahkan lebih peka di bandingkan dengan dirimu!" ketus wanita tersebut.
"Kamu mengenal Evano? Bagaimana bisa? Apa jangan-jangan dia yang menyuruhmu karena dia mau kembali kepada istriku!?" ketus Elvan.
"Yaampun kakakku yang satu ini memang berpikiran sempit sekali kalau masalah kehidupan!" gumam wanita tersebut sambil menggelengkan kepalanya.
"Siapa kamu!?" tanya Elvan kembali.
"Aku ini..." belum sempat wanita itu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ada seseorang masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Elizabeth! Kenapa kamu ada di kamar kakakmu!?" ketus Bagas yang sudah rapih dengan pakaian kerjanya.
Elvan terkejut mendengar ucapan papanya yang ternyata mengenal Elizabeth juga.
"Papa! Papa kenal sama wanita ular ini?" tanya Elvan.
"Wanita ular? Ngawur kamu kalo ngomong! Dia itu Elizabeth, sepupu kamu!" ucap Bagas.
"Sepupu apanya sih pa? Elvan ga pernah punya sepupu cewek macem begini!" ketus Elvan.
"Yaampun Elvan, dia sepupu kamu dari mama kamu! Masa lupa sih kamu dan Evano sering menggodanya dulu waktu kecil." jelas Bagas.
"Gimana mau inget om, kak Elvan hanya mengingat istrinya saja!" ketus Elizabeth.
"Kalo dia sepupuku, kenapa dia tidur sama aku pa? Dia juga ngasih aku obat tidur biar aku bisa tidur sama dia!" ucap Elvan yang masih tidak percaya.
"Dia baru saja datang ke kamarmu, dia bilang mau membangunkanmu tapi dia malah ngerjain kamu." jelas Bagas.
"Ga seru nih om Bagas dateng di waktu yang ga tepat, padahal aku masih mau prank kakak ipar juga tapi om udah keburu masuk." rengek Elizabeth.
"Ga usah aneh-aneh, kakak ipar kamu lagi kesulitan menjaga tiga anaknya sekarang, jangan membuatnya semakin pusing gara-gara prank dari kamu." ucap Bagas mengingatkan.
Sedangkan Elvan masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi di dalam kamarnya itu.
"Terus kenapa Elvan bisa ga sadar kalo udah di kamar? Pasti ada yang kasih Elvan obat pa."
"Haduh Elvan sebelum kamu nanya panjang lebar mending pake baju dulu sono ga malu apa adek kamu udah gede!" ketus Bagas.
"Dia yang ga punya malu, udah tau udah gede tapi masih nyelonong masuk kamar cowok!" ketus Elvan yang langsung berlari ke kamar mandi untuk mengambil baju handuknya.
Setelah memakai baju handuknya, Elvan kembali keluar untuk meminta penjelasan.
"Jadi, bagaimana Elvan bisa tidak sadarkan diri?" tanya Elvan.
"Kak, kata om Bagas kakak itu mabuk bukan di kasih obat!" celetuk Elizabeth.
"Aku ga ngomong sama kamu!" ketus Elvan.
"Yang di omongin sama Elizabeth bener kok, kamu ini mabuk dan tidak sadarkan diri, papa sampe malu di depan rekan bisnis papa kamu malah minum ga berhenti!" jelas Bagas.
__ADS_1
"Benarkah pa? Aarrghhh kenapa aku jadi suka minum malam itu? Padahal aku berniat tidak minum apapun!" gumam Elvan sambil menjambak rambutnya sendiri.
Bagas hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya, sedangkan Elizabeth menahan tawanya melihat ekspresi kakak sepupunya itu.
Elvan melirik ke arah Elizabeth yang menertawakannya, lalu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Lalu, dia! Sebenarnya sepupu yang mana lagi dia ini pa?" tanya Elvan sambil menunjuk Elizabeth.
"Dia itu anaknya almarhum adik mama kamu tante kamu, tante Anggi masa lupa? Semenjak tante kamu meninggal, Elizabeth ikut papanya ke luar negeri dan kalian jarang bertemu sejak itu." jelas Bagas.
"Wajar sih kalau kamu sudah tidak mengenalinya, karena Elizabeth sekarang sudah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik." lanjutnya.
"Kalo aku aja lupa, kok bisa dia bilang Evano masih mengingatnya?" Tanya Elvan.
"Karena Evano dan dia masih suka mengirim pesan satu sama lain sesekali, tentu saja Evano mengenalinya jika dia sudah sebesar ini." jelas Bagas.
Mendengar penjelasan papanya membuat Elvan menganggukkan kepalanya tanda mengerti, tapi tetap saja dia masih kesal dengan kejadian tadi.
"Udah kak jangan dendam begitu dong kan takut jadinya, maaf ya sudah ngagetin terus maaf juga kalo Elizabeth asal masuk." ucap Elizabeth.
"Hmm, kali ini aku maafkan, tapi lain kali aku tidak akan memaafkannya! Kamu ini perempuan, jangan asal masuk ke kamar laki-laki walaupun itu saudaramu sendiri!" ketus Elvan.
Elizabeth hanya menganggukkan kepala pelan, dia mengerti apa yang di bicarakan oleh Elvan.
"Sudah jangan marah-marah terus, Elvan kamu cepat mandi dan ganti baju, kita akan sarapan bersama lalu pergi ke kantor, dua hari lagi kita akan kembali ke Jakarta dan Elizabeth akan ikut bersama kita." jelas Bagas.
"Hm baiklah, papa bawa dia keluar jangan sampai dia masuk lagi ke dalam kamarku!" tegas Elvan.
"Cih! Jahat sekali, kak Elvan hanya takut kalau sampai kakak ipar salah paham bukan? Karena aku adalah wanita paling cantik!" seru Elizabeth.
"El sudah, jangan menggoda kakakmu terus!" tegas Bagas yang akhirnya membuat Elizabeth berjalan keluar dari kamar Elvan.
Sedangkan Elvan hanya bisa menggelengkan kepalanya mengutuk kebodohannya yang sudah minum banyak sampai dia tidak sadarkan diri.
Lalu Elvan segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk kembali bekerja.
...****************...
Hayoo yang udah menghujat author mana hayo??🤠Hihihi, mohon maaf karena author suka bikin hati kakak-kakak semuanya panas yaaa..🤗
__ADS_1
Saranghae 💙