MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
KELAKUAN KEVIN


__ADS_3

Jangan pernah berfikir untuk menyerah, kamu hanya lelah bukan kalah.




Pertemuan antara Elvan dan Kevin sudah selesai, Kevin setuju untuk berinvestasi kepada perusahaan Elvan karena menurutnya Elvan memiliki kemampuan untuk membangun perusahaannya dan menjadikannya sukses, Kevin juga menawarkan kerja sama antara perusahaan mereka satu sama lain, kebetulan Kevin baru membuat mall baru dan dia ingin kalau pakaian Elvan masuk ke dalam mall barunya.



“Maaf tuan Kevin, bukannya saya tidak mau bekerja sama dengan anda tapi karena kami baru mau memproduksi pakaian kami jadi kami belum bisa menjual produk kami. Kalau pakaian kami sudah lulus produksi, kami akan segera menghubungi anda kembali” Jelas Elvan yang menolak permintaan kerja sama Kevin.



“Baiklah kalau begitu tuan Elvan, saya akan menunggu kabar dari anda.” ucap Kevin dengan senyum yang mengembang di wajahnya.



Setelah menyetujui semuanya Kevin pamit untuk pulang, Elvan dan Aneska mengantar Kevin sampai di depan lift.



“Aneska, kamu antar tuan Kevin sampai bawah ya.” perintah Elvan dengan santainya yang membuat Aneska melebarkan kedua matanya.



“Apa? Aku?” tanya Aneska sambil menunjuk dirinya sendiri.



“Tentu saja kamu, siapa lagi yang harus mengantar tuan Kevin selain kamu Nes?” tanya Elvan.



Akhirnya dengan berat hati, Aneska menuruti perintah Elvan untuk mengantar Kevin sampai ke lobby.



“Mari tuan Kevin, silahkan masuk.” Ucap Aneska tepat saat pintu lift terbuka.



“Terimakasih nona Aneska.” Ucap Kevin dengan senyuman di wajahnya.



Aneska hanya diam tidak berkata apa-apa, dia berharap agar dirinya tidak akan berurusan dengan Kevin lagi setelah ini.



“Nona, apakah nona sudah punya pacar?” tanya Kevin tiba-tiba memecah keheningan di dalam lift.



“Maaf tuan Kevin, tapi saya tidak mau menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan masalah pribadi saat bekerja, apa lagi dengan orang yang tidak saya kenal.” Ucap Aneska dengan sopan.



“Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kita berkenalan dengan benar sekarang? Aku Kevin.” Ucap Kevin dengan mengulurkan tangannya.



Aneska melihat ke arah tangan Kevin dan Kevin secara bersamaan, dia bingung apa yang harus dia lakukan dengan orang yang ada di hadapannya.



“Kenapa anda sepertinya sangat ingin tau mengenai saya tuan Kevin?” tanya Aneska tanpa membalas uluran tangan Kevin.



Kevin yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung menarik kembali tangannya yang dia ulurkan kepada Aneska dan tersenyum kepadanya.



“Jika anda menganggap seperti itu saya akan senang hati menerimanya.” Ucap Kevin.



Ting..


__ADS_1


Pintu lift terbuka sebelum Aneska menanggapi perkataan Kevin, Kevin keluar dari lift dengan senyum yang mengembang di wajahnya.



“Tidak perlu mengantar saya sampai depan nona Aneska, terimakasih dan saya harap kita akan bertemu lagi suatu saat nanti.” Ucap Kevin sambil melambaikan tangan kepada Aneska sampai pintu lift tertutup kembali.



Aneska yang melihat tingkan Kevin langsung menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang, dia bisa bertemu dengan orang seperti Kevin.



“Mimpi apa aku semalam sampai bertemu dengan orang seperti dia.” Gumam Aneska di dalam lift yang kembali naik ke lantai atas.



Sesampainya di lantai atas, Aneska langsung menuju ruang Elvan untuk berbicara ternatng tingkah Kevin kepada dirinya.



“Kak Elvan.” Ucap Aneska yang langsung duduk di sofa empuk yang ada di ruangan Elvan.



“Ada apa Nes? Kenapa muka kamu di tekuk kayak begitu?” tanya Elvan.



“Aku kesal sekali, bagaimana bisa laki-laki itu bersikap sok kenal kepadaku.” Protes Aneska.



“Laki-laki yang mana Nes?” tanya Elvan yang tidak mengerti ucapan Aneska.



“Kevin kak! Kak Elvan tau? Dari aal bertemu dengannya dia itu sok kenal dan nanya-nanya hal-hal yang pribadi kepadaku.” Ucap Aneska.



“Mungkin dia menyukaimu.” Ucap Elvan sambil tersenyum meledek adiknya.




Drtt,,drrtt,,



Hp Aneska berbunyi namun Aneska tidak menyadarinya dan hanya diam melamun, Elvan yang melihat Aneska tidak menjawab telfonnya berusaha untuk memanggilnya berkali-kali namun tidak di gubris oleh Aneska.



“Aneska!” ucap Elvan dengan nada yang sedikit berteriak karena dari tadi Aneska tidak menghiraukannya.



“Aduh kak Elvan, telingaku budeg lama-lama kalo di teriakin kayak gitu.” Protes Elvan.



“Aku dari tadi manggil kamu tapi kamu malah bengong ga jelas.” Ucap Elvan.



“Ada apa emang kakak manggil aku?”



“Itu hp kamu bunyi.” Ucap Elvan sambil menunjuk ke arah hp Aneska yang ada dimeja dengan dagunya.



Aneska yang mendengar ucapan Elvan langsung melihat ke meja yang ada di hadapannya, dia terkejut karena ada 3 panggilan tidak terjawab dari adiknya.



“Duh kak ini Aneisha, dia pasti ngomel-ngomel deh telfonnya ga aku angkat.” Ucap Aneska sambil menelfon balik adiknya.


__ADS_1


“Halo Nei?” sapa Aneska yang telfonnya baru saja di angkat oleh adiknya.



“Kak! Kakak kemana aja sih!? Aku ada di rumah sakit, tadi aku di tabrak mobil pas mau ke perusahaan kak Elvan.” Ucap Aneisha sambil menangis.



“Apa!? Siapa yang menabrakmu! Apa orangnya kabur?!” tanya Aneska yang langsun berdiri dari sofa karena panik.



Elvan yang mendegar kata ‘menabrak’ langsung melihat ke arah Aneska dan menghampirinya dengan perasaan khawatir.



“Kakak tenang aja, orangnya langsung bawa aku ke rumah sakit terdekat kok. Orangnya bertanggung jawab karen sudah menabrakku dan dia sedang membelikanku makanan orangnya tampan sekali loh kak.” Ucap Aneisha.



“Kamu di rumah sakit mana sekarang? Kakak akan kesana untuk melihatmu.” Ucap Aneska.



“Aku akan mengirimkan pesan kepada kakak alamat rumah sakit yang aku tempati.” Ucap Aneisha yang langsung mematikan telfonnya.



“Siapa yang di tabrak?” tanya Elvan dengan perasaan khawatir.



“Aneisha kak, katanya dia mau ke perusahaan malah di tabrak sama mobil. Tapi orangnya mau bertanggung jawab dan membawa aneisha ke rumah sakit.” Jelas Aneska.



“Lalu bagaimana keadaan Aneisha sekarang? Apa dia baik-baik saja? di rumah sakit mana dia berada, aku akan mengantarmu kesana.” Ucap Elvan.



“Tidak usah kak, aku akan ke rumah sakit sendiri. Lagipula pekerjaan kakak masih sangat banyak dan aku tidak mau rencana kita terhambat karena hal ini.” ucap Aneska.



“Kenapa? Keselamatan kamu dan Aneisha adalah prioritasku Nes. Walaupun kalian bukan adik kandungku, aku tetap menganggap kalian seperti adik kandungku sendiri.” Jelas Elvan.



“Aku tau kak, aku tau kak Elvan khawatir tapi Aneisha baik-baik saja buktinya dia bisa menelfonku dan bahkan dia bisa mengatakan kalau yang menabraknya tampan.” Ucap Aneska dengan senyum kecil mengingat ucapan adiknya tadi.



“Kalau begitu biarkan aku menyuruh Daniel menemanimu.” Ucap Elvan.



“No kak, siapa yang membantumu di sini kalau kak Daniel mengantarku ke rumah sakit.”



“Tapi aku khawatir Nes.”



“Sudahlah kak, aku tau kakak sangat mengkhawatirkan kami tapi aku ini sudah besar dan aku sudah sering mengurus sikap adikku yang selalu mencari masalah dari dulu, jadi kak Elvan tidak usah khawatir oke.” Jelas Aneska mencoba untuk menenangkan Elvan.



“Baiklah kalau begitu, tapi aku akan menghubungi papa dan mama oke? Bagaimanapun juga mereka harus tau akan hal ini.” ucap Elvan.



“Baiklah kak, tapi tolong bilang sama papa dan mama kalau mereka tidak perlu terlalu khawatir karena aku akan langsung membawa Aneisha pulang jika dia baik-baik saja.” ucap Aneska yang segera meninggalkan ruangan Elvan setelah mendapat persetujuan darinya.



Aneska menaiki lift untuk turun ke bawah, dia sebenarnya masih merasa khawatir dengan keadaan adiknya, namun dia juga tidak mau terlalu merepotkan keluarga Elvan.



“Maaf kak, aku tidak mau kalau aku dan Anesiha menjadi beban untuk keluarga kakak, karena bagaimanapun juga kalian sudah menganggap aku dan Aneisha sebagai keluarga saja itu sudah suatu keberuntungan bagi kami.” Gumam Aneska sambil menunggu pintu lift terbuka.

__ADS_1


__ADS_2