MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 63


__ADS_3

"Hueekkk!! Huekk.."


"Yaampun Anes, kamu kenapa? Masuk angin?" Tanya Irma.


"Kayaknya iya deh te, perutku gaenak banget rasanya.." ucap Aneska sambil memegang perutnya.


"Kamu pulang aja gih sana, biar tante yang menjaga toko." ucap Irma.


Irma memiliki usaha toko bunga di kotanya, Aneska sangat senang membantu Irma bahkan bisa seharian Aneska berada di toko bunga itu sambil merangkai beberapa bucket bunga.


"Tapi tante, Aneska masih mau di sini.. Masih banyak bunga yang harus Anes rangkai."


"Yaampun Aneska ga usah mikirin itu! Daripada kamu sakit malah ga bisa ke toko beberapa hari gimana? Mending istirahat sekarang aja kan."


"Iya ya, tante benar juga. Kalo gitu Anes pulang dulu ya." pamit Aneska.


Saat Aneska mau mengambil tasnya untuk pulang, tiba-tiba saja ada seseorang yang mau memesan bucket bunga.


Karena memang sudah terbiasa melayani pelanggan selama sebulan ini, Aneska tidak bisa jika tidak menerima permintaan pelanggan tersebut.


"Permisi." ucap seorang laki-laki tampan yang ada di hadapan Aneska.


Aneska benar-benar di buat terpukau olehnya, usianya mungkin lebih tua dari Aneska, tapi rasanya jiwa laki-laki tersebut masih sangat muda.


"I-iya.. Ada yang bisa saya bantu mas?" Tanya Aneska.


"Saya mau membuat bucket untuk adik saya, dia baru saja menyelesaikan ujiannya jadi saya ingin memberinya ucapan selamat dengan bunga." jelas laki-laki tersebut.


Aneska menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dia langsung mengambil kertas dan pulpen lalu di berikan kepada laki-laki tersebut.


"Ini untuk apa mbak?" Tanya laki-laki tersebut dengan bingung.


"Ini kertas untuk menulis ucapan selamat mas, emang masnya ga mau bikin tulisan biar adiknya baca?" Tanya Aneska.


"Sebenarnya saya tidak handal untuk hal seperti ini, tapi di coba ga apa-apa lah. Mbaknya aja yang nulis, tulisan saya kayak dokter." ucap laki-laki tersebut sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Yaampun Anes, kamu masih di sini?" Tanya Irma yang baru saja kembali.


"Gimana mau ninggal kalo di sini ada pelanggan? Tante tuh ga bisa jaga toko sendirian kalo pikiran tante masih terbagi sama taman." ucap Aneska.


"Yaudah sekarang tante sudah datang, jadi kamu pulanglah biar tante yang melanjutkannya."


Aneska hanya tersenyum sambil memberikan setangkai bunga yang dia pegang kepada Irma.


"Maaf mas, di lanjut sama tante saya ya.. Kalo gitu saya permisi pulang dulu." ucap Aneska sambil tersenyum.


Laki-laki tersebut terus menatap kepergian Aneska hingga Aneska tidak terlihat lagi dan Irma mengejutkannya.


"Mas! Jangan di liatin aja nanti matanya jatuh!" ucap Irma.


"Hah!? Eh, m-maaf mbak saya jadi bengong deh." ucap laki-laki tersebut sambil memberikan uang kepada Irma.


"Oh iya mas, ini nama pengirim di tulis siapa?" Tanya Irma.


"Alan, tulis saja Alan mbak." ucap Alan.


"Oh iya, yang tadi itu keponakan mbak ya?" Tanya Alan.


"Cantik ya tante." ucap Alan sambil memamerkan gigi putihnya.


"Mirip tante kan?" goda Irma.


"Tante bisa aja hehe, kalo gitu saya pulang dulu ya tante." pamit Alan yang di balas anggukan oleh Irma.


***


Sesampainya di rumah, Aneska segera berbaring di atas tempat tidurnya sambil menutup kedua matanya.


"Hah... Lelah sekali.." ucap Aneska.


Lalu tiba-tiba saja, rasa mualnya kembali membuat Aneska membuka kedua matanya dan segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi di perutnya.

__ADS_1


"Duh serius ga kuat kalo gini terus sih!" ucap Aneska.


Aneska segera keluar dari kamar mandi dan mencari obat masuk angin untuk dia minum, tapi ternyata simpanan obat yang dia miliki sudah habis.


Dengan terpaksa Aneska akhirnya memutuskan untuk pergi keluar rumah untuk membeli beberapa obat masuk angin di warung dekat rumah Irma.


"Permisi bu.." ucap Aneska.


"Eh iya mbak Anes, mau beli apa?" Tanya ibu warung.


"Mau beli tolak angin bu ada?" Tanya Aneska.


"Ada lah mbak Nes, kalo tolak miskin yang ga ada, soalnya kalo adapun percuma gaakan mempan kalo ga kerja hehe.." ucap ibu warung tersebut.


Ibu warung tersebut sudah sangat mengenal Aneska karena Aneska sering sekali membeli barang di warungnya.


Aneska tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan ibu warung itu.


"Dasar ibu ada-ada aja deh..." ucap Aneska.


"Hehehe, mbak Anes masuk angin ya?"


"Iya nih, dari tadi mual banget muntah-muntah terus bu.."


"Jangan-jangan hamil mbak!" celetuk ibu warung yang membuat Aneska terkejut.


"Hah? Hamil? Ya ga mungkin lah bu.." ucap Aneska sambil tertawa.


"Mungkin aja mbak, kan kata mbak Irma mbak Anes udah punya suami, ya mungkin lah."


"Tapi udah sebulan ga ketemu bu gimana sih."


"Mungkin mbak, kadang kehamilan ga langsung keliatan.. Coba tes dulu, saya punya alat tesnya." ucap ibu warung sambil mengambilkan alat tes kehamilan kepada Aneska.


"Ah ga usah bu,, ga mungkin hamil lah saya cuma masuk angin aja kok." tolak Aneska.

__ADS_1


"Udah gapapa ambil aja! Kalo niat baru di tes, kalo bisa bangun tidur biar lebih akurat." paksa ibu warung tersebut.


Akhirnya dengan terpaksa Aneska menerima alat tes kehamilan tersebut lalu memutuskan untuk pulang ke rumah Irma.


__ADS_2