
Kanaya dan Roy sudah berada di rumah sakit, Kanaya segera berlari menuju ruangan VVIP yang sudah di beritahu oleh Elvan.
"Aneska!" panggil Kanaya sambil membuka pintu kamar Aneska.
"Yaampun Nay, kamu berisik deh nanti anak-anakku bangun semua!" ucap Aneska yang saat itu sudah sadar dan melihat sahabatnya masuk ke dalam ruangannya.
"Huaaa sahabatku sayang... Kenapa kamu sudah besar sekarang? Kenapa kamu sudah melahirkan keponakan yang lucu untukku sekarang? Huaaa..." rengek Kanaya yang membuat Aneska dan Elvan menggelengkan kepalanya.
"Oeekkk,, oeekkk..." suara tangis keluar dari bibir mungil ketiga anak Aneska dan Elvan.
Kanaya terkejut mendengar suara tangisan si kembar, sedangkan Aneska dan Elvan langsung memberikan tatapan tajam bak sinar laser kepada Kanaya.
"Hehe,, ampun tuan dan nyonya saya tidak sengaja.." ucap Kanaya dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Kamu menghilang tiba-tiba, dan sekarang dateng cuma nyari ribut?" tanya Aneska.
"Kamu masih marah gara-gara aku ga pamit sama kamu ya?" tanya Kanaya dengan wajah memelas.
"Tidak usah menunjukkan wajah seperti itu karena sudah tidak mempan kepadaku sekarang!" ketus Aneska.
"Hei! Kamu ini baru saja di operasi dan mengeluarkan tiga makhluk hidup yang menggemaskan ini! Bagaimana bisa kamu masih punya kekuatan buat marah-marah!?" tanya Kanaya dengan kesal.
"Karena kamu membuatku naik darah! Lihat bagaimana caramu membuat ketiga anakku berhenti menangis?" tanya Aneska.
Kanaya hanya diam sambil melihat ke arah anak-anak Aneska yang masih menangis.
"Hehe, kalo masalah ini aku juga ga pengalaman Nes..." ucap Kanaya sambil memamerkan gigi putihnya.
Aneska hanya menggelengkan kepalanya sambil menarik nafas dalam-dalam, sedangkan Elvan hanya melihat kedua sahabat itu berdebat.
"Bisakah kalian berdua diam? Apa begini cara menyapa kalian setelah berbulan-bulan tidak bertemu?" tanya Elvan.
Mendengar ucapan Elvan membuat Aneska dan juga Kanaya terdiam, saling menatap satu sama lain lalu akhirnya Kanaya berjalan ke arah sahabatnya dan memeluk tubuhnya dengan erat.
"Hikss,, hikss, sahabatku maafkan aku yang membuatmu khawatir dengan pergi secara tiba-tiba.." ucap Kanaya sambil menangis.
Begitu juga dengan Aneska yang ikut menangis sambil memukuli punggung sahabatnya beberapa kali.
"Kamu ini nakal sekali! Kamu tau bukan kalau aku selalu menghubungimu tapi nomermu tidak pernah aktif!" ucap Aneska.
"Maaf, aku hanya fokus membantu Gavin di sana jadi aku ga liat hp."
__ADS_1
"Bohong! Mana mungkin orang yang gila hp sepertimu akan tahan tanpa memegang hp!" ketus Aneska.
Yap, Kanaya memang tidak bisa berbohong kepada sahabatnya itu, karena hampir setengah hidupnya dia habiskan bersama Aneska dan tidak mungkin jika Aneska tidak tau tentang kebiasaan Kanaya.
"Sudahlah jangan membahas tentang aku, hari ini aku di sini untuk melihat anak-anakku!" ucap Kanaya.
"Anak-anakmu? Mereka anakku Nay!" ketus Aneska.
"Aku tau, tapi aku mau mereka memanggilku mama angkat karena aku tidak mau di panggil aunty." jelas Kanaya.
"Kenapa kamu malah mau di panggil mama? Kamu ga tau kalo nanti laki-laki yang mau mendekatimu mendengar kamu di panggil mama oleh seseorang pasti mereka kabur karena mengira kamu sudah menikah!" ucap Aneska.
"Biarkan saja! Aku hanya akan menikah dengan orang yang benar-benar mengenalku."
"Seperti Evano misalnya?" sahut Aneska.
Kanaya terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu, Kanaya langsung menatap ke arah Aneska dengan tatapan mematikan.
"Jangan sebut namanya lagi! Aku tidak suka!" ketus Aneska.
"Kenapa tidak suka? Evano benar-benar gila karena kepergianmu!" ucap Aneska.
"Cih! Dia hanya berlagak gila aja Nes."
"Bahkan Tante Cherry sudah mengatur banyak sekali perjodohan untuknya tapi dia selalu ngamuk dan menolak perjodohan itu." lanjut Aneska.
Mendengar ucapan Aneska membuat Kanaya terdiam dan tidak mengatakan apapun lagi tentang Evano.
***
"CUT!!! Bagus sekali Aneisha, kamu selalu menyelesaikan syuting dalam sekali take saja!" puji sutradara film yang sedang di kerjakan oleh Aneisha.
"Terimakasih pak sutradara, terimakasih semuanya, terimakasih..." ucap Aneisha sambil menundukkan kepalanya 90° kepada semua staff yang ada di sana.
Anthony berjalan mendekati sutradara tersebut dan bertanya tentang hasil syuting hari ini.
"Bagaimana?" tanya Anthony.
"Sangat bagus tuan! Walaupun Aneisha sudah membuat kita menunggu dan syuting bagiannya tertunda, tapi dia menyelesaikan syuting dengan singkat, dia menyelesaikan semua adegannya dengan sekali take saja." jelas sutradara tersebut.
Anthony tersenyum senang mendengar pujian sutradara tersebut kepada salah satu artisnya.
__ADS_1
"Semuanya! Besok saya akan mengadakan party untuk merayakan selesainya syuting hari ini, sekaligus saya akan merayakan ulang tahun anak saya.." teriak Anthony kepada seluruh staff dan artis.
Semuanya bersorak mendengar kata party, tentu saja party artinya pekerjaan mereka telah selesai, mereka bisa beristirahat di rumah dan tidak harus bergadang menunggu take selanjutnya.
Sedangkan Aneisha yang mendengar kata ulang tahun hanya terdiam sambil berfikir.
"Anaknya om Anthony cuma kak Jody kan? Berarti besok adalah hari ulang tahunnya!?" gumam Aneisha sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
Dengan segera Aneisha berjalan cepat masuk ke dalam ruangannya dan menghampiri Lita yang sedang bermain hp.
"Kak Lita!" Teriak Aneisha hingga membuat kita terkejut.
"Aku kira kemarin kamu hanya kerasukan memanggilku kakak, ternyata kamu benar-benar memanggilku kakak?" tanya Lita.
"Karena aku baru sadar kalau kamu lebih tua dariku hehe, maafkan aku kak Lita..." ucap Aneisha.
"Tapi itu bukan hal penting sekarang! Aku ingin mengatakan kalau kak Lita harus mengantarku membeli hadiah untuk kak Jody!" seru Aneisha.
"Hadiah? Emangnya ada acara apa dia di beliin hadiah?" tanya Lita.
"Ternyata dia ulang tahun besok kak! Benar-benar penghianat, dia bahkan tidak mengatakan apapun tentang hari ulang tahunnya!" ketus Aneisha dengan kesal.
"Hemm, jangan marah-marah... Lebih baik kamu ganti pakaianmu setelah itu aku akan mengantarmu mencari hadiah untuknya." ucap Lita.
Aneisha yang senang langsung memeluk tubuh Lita dengan erat lalu segera membawa baju gantinya ke ruang ganti.
Di sana Aneisha tiba-tiba saja teringat dengan kata-kata artis lain yang sebenarnya tidak menyukainya, orang yang selama ini dia anggap baik kepadanya ternyata membicarakan dirinya di belakangnya.
"Tidak Aneisha, jangan memikirkan hal itu! Mereka hanya iri karena aku lebih baik dari mereka, jangan merasa bersalah!" gumam Aneisha berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah itu barulah Aneisha mengganti pakaiannya dan segera kembali ke ruangannya.
"Ayo kak!" ajak Aneisha yang sudah siap untuk berangkat.
Lita melihat Aneisha lalu tersenyum ke arah ya.
"Tidak di ragukan lagi, kamu memang yang paling cantik!" puji Lita saat melihat penampilan Aneisha.
"Apaan sih kak, jangan terlalu sering memujiku, tidak baik!" ucap Aneisha.
__ADS_1
Lita hanya tertawa lalu merangkul tangan Aneisha dan berjalan bersama menuju mobil mereka.