
Aneska dan Elvan yang sudah sampai di rumahnya segera masuk ke dalam dan menyiapkan makan malam lebih dulu.
“Kamu ga mau nyiapin pakaiannya Anei dulu aja Nes?” tanya Elvan yang melihat Aneska langsung berjalan ke arah dapur.
“Nanti aja kak, biar supir yang anter terus aku suruh Anei turun ngambil bajunya.” Ucap Aneska.
“Okedeh kalo gitu, aku mandi dulu deh ya..
Setelah masak kamu juga mandi, jangan lupa minum susu ya.” Ucap Elvan yang di balas anggukan oleh Aneska.
Setelah melihat Elvan menaiki tangga, Aneska segera meminta pelayan di dapur untuk membantunya menyiapkan makan malam.
“Kok masaknya banyak banget non, mau ada tamu ya?” tanya pelayannya.
“Iya bi, mau ada Gavin sama Kanaya di sini.” Ucap Aneska.
Pelayan tersebut hanya menganggukkan kepala lalu segera kembali bekerja untuk memasak dan menyiapkan makan malam untuk semuanya.
Dengan telaten Aneska menata meja makan dan menyajikan makanan yang sudah dia masak.
Elvan yang sudah selesai mandi dan mengganti pakaian segera kembali turun dan berjalan ke arah dapur untuk membantu Aneska menyiapkan makan malam.
“Ada yang perlu di bantu?” tanya Elvan.
“Loh kamu ngapain di sini kak? Duduk aja di ruang tamu dulu gih, cuma kurang dikit lagi kok.” Ucap Aneska.
“Udah kamu mandi aja dulu, biar aku yang ngelanjutin.” Ucap Elvan.
“Engga usah kak, bentar lagi selesai kok habis itu baru mandi sabil siapin bajunya Anei.” Ucap Aneska.
“Baiklah kalau memang itu mau kamu, aku tunggu di ruang tamu sambil mengabari Gavin ya.” Ucap Elvan yang di balas anggukan oleh Aneska.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, Aneska kembali turun ke bawah dan berjalan ke arah meja makan untuk melihat kembali penataannya.
“Sudah beres, syukurlah…” ucap Aneska sambil menghela nafas panjang.
“Non, di minum dulu susunya udah bibi buatin jangan sampe keinggalan kalo yang ini non..” ucap pelayan rumah tersebut.
Aneska yang memang lupa untuk meminum susu hamilnya segera mengambil gelas yang di berikan oleh pelayannya dan meminumnya sampai habis.
“Terimakasih bi..” ucap Aneska yang di balas anggukan oleh pelayan tersebut.
Tidak lama kemudian sebuah mobil terparkir di depan rumah Bagas, dengan segera Aneska berlari keluar dan tersenyum senang melihat Evano yang keluar dari mobil bersama Kanaya.
“Anes!!” teriak Kanaya setelah turun dari mobil dan memeluk tubuh sahabatnya.
__ADS_1
“Naya!!” balas Aneska dan membalas pelukan sahabatnya.
“Gimana kabarmu selama di sana Nes? Tanteku baik kan?” tanya Kanaya.
“Baik banget, terimakasih karena sudah mengenalkan kami Nay..”
“Sama-sama..”
“Oh iya mana Gavin? Kok dia belum datang?” tanya Aneska yang tidak melihat Gavin keluar dari mobil yang sama dengan Evano dan Kanaya.
“Gavin nyusul Nes.” Jawab Kanaya.
“Kamu ga jemput Gavin Evano?” tanya Aneska dengan tatapan tajam ke arah Evano.
“Kok jadi aku sih? Gavin yang ga mau bareng kita, dia bilang mau naik mobil sendiri soalnya masih ada urusan di luar.” Jelas Evano.
Aneska tidak mengatakan apapun, dia segera menyuruh Kanaya masuk ke dalam tanpa memperdulikan Evano.
“Istri kamu kenapa sih sewot banget.” Ucap Evano kepada Elvan.
“Tau tuh, udahlah ayo masuk aja kita kayak apaan aja di luar.” Ajak Elvan.
Tiinn,, tinn…
Belum saja Elvan dan Evano masuk ke dalam rumah, tiba-tiba ada suara klakson mobil yang berasal dari mobil Gavin.
“Hai Vin, kenapa datang terlambat?” tanya Elvan.
“Aku tadi masih ngasih tugas ke temanku kak.” Jawab Gavin.
“Yasudah ayo masuk ke dalam, Aneska dan Kanaya sudah menunggu kita.” Ajak Elvan yang di balas anggukan oleh Evano dan Gavin.
Elvan, Evano dan Gavin langsung masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah meja makan unuk bergabung bersama Aneska dan Kanaya yang sudah duduk di sana.
“Hai kak Anes..” sapa Gavin dengan ramahnya.
“Gavin? Akhirnya kamu datang juga,, duduklah sini aku sudah membuatkan banyak sekali makanan untukmu.” Ucap Aneska yang seperti senang sekali melihat kehadiran Gavin.
“Kamu ga menyapa kakakmu Gavin? Dasar tidak sopan!” ketus Kanaya yang di balas awa oleh Aneska.
Sedangkan Gavin hanya menjulurkan lidah mengejek kakaknya yang sedang protes kepadanya, lalu duduk di sebelah kursi Aneska.
Gavin seperti sedang kebingungan melihat ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari seseorang.
“Kamu nyari apa Gavin, kok kebingungan gitu?” tanya Aneska.
__ADS_1
“Oh engga kok kak hehehe..” jawab Gavin berbohong.
“Santai Gavin, mungkin Anei masih tertidur atau sedang bersiap.” Batin Gavin yang ternyata sejak tadi sedang menunggu kehadiran Aneisha.
Tidak lama kemudian, datanglah supir pribadi mereka yang berjalan menghampiri meja makan.
“Non Anes, bajunya non Aneisha mau di antar kapan ya? Takutnya non Anei butuh.” Ucap supir tersebut.
“Oh yaampun iya aku lupa! Maaf pak, bisa antar sekarang saja nanti aku hubungi Anei untuk mengambilnya di depan rumah sakit.” Ucap Aneska yang di balas anggukan oleh supir tersebut.
Belum saja supir tersebut berbalik, tiba-tiba Gavin berbicara hingga menghentikan supir tersebut.
“Tunggu pak! Ini maksudnya nganter baju Anei gimana ya kak Anes? Emang Aneska ke mana?” tanya Gavin.
“Oh, Anei di rumah sakit, dia bilang mau bertanggung jawab dengan cara menjaga Jody di sana.” Jelas Aneska.
“Apa?! Serius kak? Jadi maksudnya Aneisha menginap di sana?” tanya Gavin yang di balas anggukan pelan oleh Aneska.
“Hmm,, kenapa Gavin?” tanya Aneska.
“Kalau gitu biar Gavin aja yang anter ke rumah sakit kak!” tegas Gavin.
“Kok kamu? Kamu kan belum makan.”
“Gampang kalo masalah makan bisa nanti, aku juga udah kenyang kok… Aku mau anter dulu kak bye…” ucap Gavin yang langsung mengambil tas yang ada di tangan supir dan membawanya ke mobil.
Semua orang yang ada di sana melihat ke arah Gavin dengan tatapan aneh karena melihat Gavin yang pergi begitu saja hanya karena Aneisha berada di rumah sakit bersama Jody.
Setelah Gavin pergi, semua orang segera memulai makan malam dengan tenang karena hari semakin malam.
Sedangkan Gavin segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit agar segera sampai.
Benar saja, baru beberapa menit Gavin sudah sampai di rumah sakit dan segera menuju ke ruangan Jody.
“Anei!” teriak Gavin saat membuka pintu ruangan Jody.
Jody yang sedang berbaring terkejut mendengar teriakan Gavin yang begitu tiba-tiba, begitu juga dengan Aneisha yang sedang mengupas apel dan melukai sedikit tangannya.
“Aw!” teriak Aneisha.
“Nei!” teriak Jody dan Gavin secara bersamaan.
Sayangnya Jody tidak berdaya untuk segera bangun dari tidurnya, sedangkan Gavin segera mengambil pisau di tangan Aneisha dan menggenggam tangannya erat-erat.
“Nei maafkan aku..” ucap Gavin.
__ADS_1
“Tidak apa kak, kenapa kak Gavin teriak begitu sih? Bikin jantungan tau.” Protes Aneisha dengan manjanya.
Jody yang melihat Aneisha terlihat sangat manja kepada Gavin hanya bisa terdiam sambil tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya.