MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 92


__ADS_3

Alisa yang mendengar teriakan seseorang segera terbangun dari tidurnya dan terkejut saat melihat Kanaya sudah berada di hadapannya.


“M-maaf, anda siapa?” tanya Alisa dengan polosnya.


“Apa?! Bahkan sekarang adikku sudah tidak mengenaliku lagi!!” teriak Kanaya.


Gavin yang berada di bawah segera terbangun saat mendengar teriakan sang kakak, Gavin berjalan dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.


“Yaampun kakak!” ucap Gavin saat melihat sang kakak sedang terkejut karena melihat Alisa.


Kanaya yang mendengar suara adiknya langsung menoleh dan melihat Gavin yang sedang berdiri di ambang pintu.


“Gavin!? Adikku sayang..” ucap Kanaya sambil memeluk tubuh adiknya dengan erat.


“Ih apaan sih kak! Malu di liat orang!” ketus Gavin.


Kanaya segera melepaskan pelukannya dari Gavin lalu kembali menoleh ke arah Alisa yang masih terkejut karena Kanaya.


“Gavin, kamu ada di sini? Terus dia siapa?” tanya Kanaya sambil menunjuk ke arah Alisa.


“Dia Alisa kak, semalam pulang dari rumah sakit aku tidak sengaja menabraknya, untung saja dia hanya luka sedikit.” Jelas Gavin.


“Yaampun serius Gavin?! Kamu harusnya membawa dia ke rumah sakit bukan ke rumah Gavin!” ketus Kanaya.


“Kak, dia ga mau aku bawa ke rumah sakit, dia cuma mau pergi dari tempat itu jadi aku bawa dia ke sini.” Jelas Gavin.


“Yaampun, apa kamu baik-baik saja Alisa? Kenalkan aku Kanaya, aku adalah kakaknya Gavin.” Ucap Kanaya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Alisa yang sedang menutupi tubuhnya dengan selimut itu langsung melepaskan selimutnya dan membalas uluran tangan Kanaya. Namun perhatian Kanaya dan Gavin bukanlah ke tangan Alisa, tapi ke bagian gunung kembar Alisa


yang tidak memakai pakaian dalam dan terlihat jelas.


Kanaya yang melihat hal itu langsung menoleh ke arah adiknya dan segera menutup mata sang adik yang fokus ke gunung kembar Alisa.


“Gavin keluar sekarang!!” teriak Kanaya yang langsung menarik Gavin keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya.


Setelah menutup pintu kamarnya, Kanaya segera menyelimuti Alisa agar menutupi kedua gunung kembarnya.


“Yaampun Alisa kamu ga pake pakaian dalam?” tanya Kanaya.


“Maaf kak, soalnya aku ga punya pakaian dalam lagi..” balas Alisa.


“Kenapa ga bilang, aku kan bisa pinjemin.”


“Semalem udah malem banget kak, aku ga mau ganggu kak Naya tidur jadi aku ga pinjem deh.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Alisa membuat Kanaya menggelengkan kepala dan langsung pergi ke kamarnya untuk mengambilkan pakaian untuk Alisa.


“Kamu ngapain masih di sini Gavin?” tanya Kanaya yang baru saja keluar dari kamar Gavin.


“Eh, nungguin kakak lah.” Jawab Gavin.


“Heleh, kamu bukan nungguin kakak, tapi mau liat gunung kembar lagi ya?!” ketus Kanaya.


“Eh, e-engga kak! Sotau lu!” balas Gavin.


“Engga, ga salah lagi kan?! Macem-macem awas aja lu!” tegas Kanaya yang langsung masuk ke dalam kamarnya dan mencari pakaian untuk di pakai Alisa.


Setelah selesai menyiapkan pakaian, Kanaya segera keluar dari kamarnya dan kembali ke kamar Gavin untuk memberikan pakaiannya.


“Pakailah ini untuk sementara, mungkin masih kebesaran karena tubuhmu lebih kecil di bandingkan diriku.” Ucap Kanaya sambil memberikan pakaiannya dan juga pakaian dalam untuk Alisa.


“Terimakasih kak…” ucap Alisa sambil mengambil pakaian yang di berikan oleh Kanaya.


“Kamu mandi dulu, setelah itu turunlah karena Gavin sudah menyiapkan sarapan untuk kita semua.” Ucap Kanaya.


“Hah? Laki-laki itu bisa memasak?” tanya Alisa tidak percaya.


“Namanya Gavin bukan laki-laki itu Alisa, dan Gavin bisa memasak karena sejak kecil kami terbiasa hidup berdua karena orang tua kami terlalu sibuk.” Jelas Kanaya.


“Maaf kak, masih belum terbiasa.” Ucap Alisa sambil memamerkan gigi putihnya.


“Sudahlah, kamu cepat mandi dang anti pakaian, aku juga akan mandi dan bersiap juga.” Ucap Kanaya.


Setelah mendapat anggukan dari Alisa, Kanaya segera keluar darii kamar Gavin dan segera bersiap.


Hingga beberapa menit kemudian, semua orang sudah berada di meja makan dan bersiap untuk sarapan bersama.


“Jadi Alisa, bagaimana kehidupanmu selama ini? Kenapa kamu bisa sampai di sini dengan memar di wajahmu dan juga sepertinya berada di tubuhmu juga, ini bukan karena adikku menabrakmu bukan?” Ucap Kanaya.


“Kakak! Dia lagi makan jangan di tanya macem-macem dulu lah!” ketus Gavin.


“Tidak apa, aku yakin kalian berdua pasti sangat penasaran kenapa aku sampai ada di sini bersama kalian.” Ucap Alisa.


“Lihat bukan? Alisa bahkan tidak masalah dengan itu! Tapi tunggu dulu ya, aku ambil sesuatu dulu.” Ucap Kanaya yang langsung bangkit dari kursi makannya dan meninggalkan meja makan.


“kalo kamu belum siap bercerita mending ga usah Al, kakakku memang tidak sabaran orangnya, ga usah di ladenin.” Ucap Gavin saat Kanaya meninggalkan meja makan.


“Ga apa-apa kok kak, aku baik-baik saja dan sudah siap untuk bercerita.” Ucap Alisa.


Kanaya kembali ke meja makan dan berlutut di hadapan Alisa dan membuatnya terkejut.

__ADS_1


“Kak? Kenapa kamu berlutut seperti ini?” tanya Alisa yang terkejut melihat Kanaya sudah berlutut di hadapannya.


“Sini ulurkan tanganmu, aku akan mengobatinya..” ucap Kanaya sambil membuka kotak p3k yang sudah dia bawa.


“Yaampun kak jangan seperti ini, aku baik-baik saja kok nanti juga pasti sembuh.” Ucap Alisa.


“Diamlah Alisa! Anak gadis ga boleh punya luka tau nanti membekas!” tegas Kanaya.


Akhirnya Alisa hanya diam memberikan tangannya kepada Kanaya dan membiarkan Kanaya untuk mengobati memar di tubuhnya.


Setelah selesai, Kanaya kembali duduk di tempatnya dan menatap wajah Alisa dengan serius.


“Jadi, mulai lah menceritakan kehidupanmu, apa yang selama ini kamu alami sampai kamu meminta untuk pergi dari tempatmu?” tanya Kanaya.


“Aku, aku di kurung selama ini, aku hanya keluar di antar ke sekolah dan sebelum bel pulang berbunyi orang tuaku sudah ada di depan gerbang sekolah.” Jelas Alisa.


“Apa?! Kita kekurangan kasih sayang orang tua, dan kamu terlalu di kekang orang tuamu.” Sahut Gavin.


“Diamlah Gavin!” ketus Kanaya.


Akhirnya Gavin terdiam dan kembali fokus mendengarkan penjelasan dari Alisa.


“Mereka bukan orang tua kandungku, mereka adalah paman dan bibiku yang tinggal di rumah orang tuaku, mereka mengambil alih semua property kedua orang tuaku dan menjadikanku pembantu di rumahnya.”


“Apa?! Gila tuh orang!” ketus Kanaya.


“Kakak, dengerin dulu jangan langsung teriak!” ketus Gavin membalas perkataan kakaknya.


“Lalu? Kenapa kamu tidak kabur selama ini?” tanya Kanaya.


“Karena aku tidak tau kemana harus pergi, aku juga selalu di kurung di dalam kamar, dan sekarang baru bisa kabur karena penjaga yang menjagaku teridur.” Jelas Alisa.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Jika kamu tidak kembali bagaimana kamu melanjutkan sekolahmu?” tanya Kanaya.


“Aku harus tetap sekolah kak, aku sudah kelas 3 SMA dan sebentar lagi aku akan ujian dan lulus.” Jawab Alisa.


“Tapi kalo kamu sekolah, kamu bisa bertemu lagi dengan keluargamu yang kejam itu.” Sahut Gavin.


“Itu mudah! Aku bisa menyuruh beberapa orang untuk menjaga Alisa selama di sekolahnya.” Ucap Kanaya.


“Kak, tidak perlu… Aku akan mencari tempat tinggal setelah sarapan dan aku akan berpamitan kepada kalian berdua dan juga berterimakasih karena sudah mau memberiku tempat tinggal semalam.” Ucap Alisa.


“Tidak ada yang akan pergi kemanapun Alisa! Aku ingin kamu tetap di sini dan kami akan mengurusmu dengan baik.” Ucap Kanaya.


“Iya kak Naya benar Al, kamu tinggal dengan kami saja di sini, kamu akan baik-baik saja bersama kami.” Sambung Gavin.

__ADS_1


Mendengar ucapan Gavin dan Kanaya membuat Alisa bersyukur karena di pertemukan dengan orang-orang yang baik.


__ADS_2