MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 90


__ADS_3

“Kak Gavin! Kakak kenapa diem aja? Aku nanya loh, kenapa kak Gavin ke sini sambil buru-buru gitu?” tanya Aneisha untuk kedua kalinya.


“Eh,, aku nganter pakaian kamu Nei, katanya kamu akan menginap di sini.” Ucap Gavin.


“Oh, terimakasih banyak ya kak… Bisa minta tolong taruh di sofa situ aja? Aku mau lanjut ngupasin buah buat kak Jody.” Ucap Aneisha.


“Yaampun Nei tangan kamu udah luka kayak gini masih mau ngupas buah? Sini aku aja!” tegas Gavin.


“Kak aku bisa sendiri kok…”


“Jangan ngeyel! Kamu ini sedang sakit, kamu juga pasien dan harusnya kamu juga berbaring di tempat tidur itu!”


“Kak Gavin jangan marah-marah gitu dong…” rengek Aneisha.


“Nei, Gavin benar! Sebaiknya kamu cuci dulu lukamu biar ga infeksi.” Sambung Jody.


“Hm,, baiklah kalau begitu.”


Aneisha akhirnya pasrah dan segera berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan lukanya. Sedangkan Gavin melanjutkan kegiatan Aneisha memotong buah untuk Jody.


“Aku tau kamu begitu menyukainya, tapi aku juga tidak akan mengalah untuk merebutnya darimu.” Ucap Jody tiba-tiba hingga membuat Gavin menghentikan aktifitas memotongnya.


“Lalu? Aku juga tidak perduli kalau kamu mau merebutnya dariku, aku tidak perduli jika akhirnya Aneisha lebih memilih orang lain dari pada aku, selama itu membuat Aneisha bahagia.” Ucap Gavin sambil tersenyum tipis.


“Baguslah kalau begitu, setidaknya aku sudah mengatakan padamu dan kita bisa bersaing secara sehat.” Ucap Jody yang di balas anggukan oleh Gavin.


Tidak lama kemudian, Aneisha keluar dari kamar mandi dan dia sudah membersihkan bahkan membalut lukanya dengan plester.


“Kamu ngobatin lukamu sendiri Nei?” tanya Gavin yang melihat plester terbalut di jari telunjuk Aneisha.


“Iya kak, ada kotak p3k di dalam jadi sekalian aja aku obtain.” Ucap Aneisha.


“Duduklah di sana, biar aku periksa lukamu.” Ucap Gavin sambil menunjuk ke arah sofa.


Aneisha hanya mengangguk dan segera menuruti perintah Gavin yang menyuruhnya untuk duduk di sofa.

__ADS_1


Setelah melihat Aneisha duduk di sofa, Gavin segera berjalan mendekati Aneisha dan berlutut tepat di hadapannya sambil memeriksa balutan plester di tangan Aneisha.


Cemburu? Tentu saja Jody merasa cemburu, namun dia juga tidak bisa melakukan apa-apa saat itu karena tubuhnya terasa sakit semua dan dia hanya bisa melihat wanita yang dia sukai sedang di pegang oleh laki-laki


lain yang juga menyukainya.


“Haah,, nasibku menyedihkan sekali karena harus melihat adegan ini.” Gumam Jody dengan pasrah.


“Bagaimana? Rapih kan? Aku ini bisa mengobati lukaku sendiri kak tenang saja.” Ucap Aneisha membanggakan dirinya sendiri.


“Apanya yang rapih! Kamu harunya ngasih perban dulu baru di plester, kalo kayak gini darahnya ga akan meresap terus yang ada lukamu selalu basah.” Ucap Gavin.


“Ih kak Gavin tuh ribet amat sih! Kaya gini aja udah bener tau!”


Gavin tidak mendengarkan ucapan Aneisha, dia segera berdiri dan mengambil perban di kotak p3k yang ada di dalam kamar mandi, lalu Gavin kembali dan memperbaiki balutan perban di tangan Aneisha.


“Udah! Kayak gini baru bener, kamu ini masih belum bisa melakukan apa-apa tau!” ucap Gavin sambil mengacak-acak rambut Aneisha.


“Kamu yakin mau menginap di sini?” tanya Gavin memastikan.


Gavin hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan Aneisha, lalu dia berpamitan kepada Aneisha dan juga Jody.


“Kalau begitu aku pamit dulu, kalian berdua hati-hati, kamu juga harus hati-hati Nei karena aku tidak bisa menitipkanmu kepada laki-laki yang hanya berbaring di atas tempat tidur pasien.” Sindir Gavin sambil melirik ke arah Jody.


Jody yang mendengar sindiran Gavin langsung menatap tajam ke arah Gavin.


“Sialan kau! Aku ini masih bisa menjaga Aneisha walaupun sedang berbaring seperti ini!” ketus Jody.


“Sudahlah jangan sok kuat! Kamu ini pasien dan Aneisha yang akan menjagamu.” Ucap Gavin yang langsung pergi dari ruangan Jody, membiarkan keduanya bersama malam itu.


Setelah kepergian Gavin, suasana di ruangan Jody seketika menjadi hening dan keduanya kembali canggung satu sama lain.


“Kamu ga bisa ya bersikap biasa aja sama aku? Bisa ga kita sedekat kamu dan Gavin?” tanya Jody.


“Tentu saja tidak bisa! Kak Gavin adalah teman, sahabat, first love aku, sedangkan kamu hanyalah anak dari bosku tidak lebih.” Ucap Aneisha.

__ADS_1


“Kalau begitu aku bisa jadi last love kamu, aku ga mau jadi yang pertama, aku mau jadi yang terakhir buat kamu.” ucap Jody yang membuat Aneisha terkejut dan sedikit geli mendengarnya.


“Apaan sih kak, kamu ini sedang ngigo gara-gara di seruduk binatang buas ya? Apa perlu aku panggilin dokter?” tanya Aneisha.


“Aku ga bercanda Nei, aku serius… Emang salah kalau aku mau kita lebih dekat lagi?” tanya Jody.


“Ya aku ngerasa aneh aja, soalnya kan kita juga baru kenal kak, liat nanti aja deh ya… Aku ga gampang deket sama seseorang.” Ucap Aneisha.


Jody yang mengerti pun akhirnya menganggukkan kepala, walaupun kecewa tapi dia juga tidak boleh memaksakan perasaan Aneisha.


“Baiklah kalau begitu, setelah sembuh nanti aku akan membuatmu menyukai aku!” tegas Jody dengan yakin.


Aneisha hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas panjang melihat sikap Jody yang seperti itu.


Sedangkan di sisi lain, Gavin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil melamun memikirkan ucapan Jody. Jujur saja Gavin terkejut mendengar ucapan Jody, namun dia berusaja untuk bersikap santai walaupun hatinya sebenarnya sediit was-was karena takut kalau Aneisha akan menyukai Jody.


“Sial! Kenapa aku bilang seperti itu tadi? Mana mungkin aku rela melihat Aneisha dengan laki-laki lain nantinya?” gumam Gavin sambil memukul kemudi mobilnya.


Gavin yang terlalu fokus dengan fikirannya membuat dirinya tidak berkonsentrasi dan tanpa sengaja dia menabrak seseorang dan membuatnya terkejut.


“Yaampun! Tadi aku nabrak orang apa hewan ya?” gumam Gavin yang langsung membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya untuk melihat orang yang baru saja dia tabrak.


Gavin melihat seseorang yang sedang merintih kesakitan di samping bumper mobilnya, seorang wanita berambut panjang dengan baju berwarna putih panjang hingga membuat Gavin menelan salvilanya dan merinding seketika.


“Yaampun, ini orang apa bukan sih?” gumam Gavin sambil berjalan selangkah demi selangkah mendekati wanita itu.


Tentu saja Gavin merasa ketakutan karena wajah wanita yang dia tabrak tertutup dengan rambut panjangnya dan merintih layaknya hantu.


“M-mbak…” panggil Gavin dengan ragu-ragu.


Ingin sekali Gavin mendekati wanita itu dan memeriksa keadaannya, namun di sisi lain dia merasa sangat ketakutan, takut jika wanita itu bukanlah manusia.


“M-mbak,, baik-baik saja kan?” tanya Gavin kembali yang saat itu sudah berada tepat di sebelah sang wanita.


Tiba-tiba saja wanita tersebut menoleh, dan terlihat jelas wajah sang wanita dan membuat Gavin kaget bukan main.

__ADS_1


“SETANN!!!” teriak Gavin sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


__ADS_2