
Aneska berjalan menuruni tangga setelah memastikan kalau adik perempuannya sudah tertidur pulas.
“Nes, gimana keadaan Anei?” tanya Mala saat melihat Aneska turun.
“Dia sudah tertidur ma, dan sepertinya dia akan baik-baik saja setelah beristirahat.” Ucap Aneska.
“Baguslah kalau begitu, mama khawatir sekali dengan keadaannya, terutama saat tau kalau dia punya trauma dengan hutan.” Ucap Mala.
Aneska duduk di sebelah Mala dan merangkulnya sambil mengelus pundak Mala sesekali untuk menenangkannya.
Aneska tau betul bagaimana khawatirnya kedua orang tua sambungnya itu.
“Mama jangan khawatir lagi ya,, Anei pasti akan baik-baik saja kok karena Anei adalah anak yang kuat.” Ucap Aneska.
Mala menoleh ke arah Aneska dengan kening yang di kerutkan, menatap ke arah Aneska dengan tatapan aneh.
“Kenapa mama ngeliat Aneska kayak gitu?” tanya Aneska.
“Kamu sok-sokan menghibur mama, padahal kamulah yang paling khawatir di sini!” ucap Mala.
“Apaan sih ma, Anes tau mama juga pasti khawatir sekali saat mendengar kabar tentang Aneisha tadi.. Padahal Anes udah bilang kak Elvan untuk tidak menghubungi mama sebelum Anei ketemu, eh dia udah ngomong duluan ternyata.” Jelas Aneska.
“Bagaimana bisa kamu ngomong kayak gitu?! Mama adalah orang pertama yang harus tau tentang kondisi anak-anak mama!” tegas Mala.
“Siap mama siap! Mama adalah orang pertama yang akan tau kabar anak-anaknya!” tegas Aneska sambil bersikap hormat.
Mala tertawa mendengar ucapan Aneska lalu menoel hidung mancung Aneska karena gemas melihat sikap menantu kesayangannya itu.
“Tapi kamu pernah tidak memberitahu mama tentang kabarmu bukan?” ucap Mala.
Aneska hanya memamerkan gigi putihnya mendengar ucapan mama mertuanya, dia mengaku kalau dia salah karena sudah pergi begitu saja tanpa memberitahu siapapun dan membuat semua orang mengkhawatirkannya.
__ADS_1
“Ini semua karena anak kita yang tidak bisa menahan hasratnya ma!” ketus Bagas hingga membuat Elvan yang saat itu sedang minum tersedak.
“Papa! Lihat anak kita jadi tersedak karena ucapanmu.” Sambung Mala.
“Kalian sedang mengeroyok aku bukan? Saat itu aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu.” Timpal Elvan.
“Sudah jangan di bahas lagi, Aneska juga salah kok karena tidak mendengar penjelasan kak Elvan lebih dulu dan kabur begitu saja.” Ucap Aneska.
“Sudah jangan saling menyalahkan, kalau begitu mama akan menyuruh bibi menyiapkan makan malam untuk semuanya.” Ucap Mala.
“Oh iya, ajak Kanaya dan Gavin juga makan malam di sini ya, pasti menyenangkan berkumpul bersama.” Lanjutnya.
Aneska menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Mala.
“Kalau begitu, Elvan dan Aneska bersiap dulu ya, kita mau menjenguk Jody di rumah sakit dan meminta maaf secara langsung karena sedikit banyak Anisha yang sudah menyebabkan Jody seperti itu.” Ucap Elvan.
“Iya, titipkan salam papa kepada mereka.. Kalau Aneisha bangun kami akan menyusul ke rumah sakit.” Ucap Bagas.
“Jangan lupa juga untuk membawa buah ke sana, jangan sampai kalian menjenguknya dengan tangan kosong.” Ucap Bagas lagi.
“Siap papa siap! Elvan juga tau diri kali.”
Aneska tertawa mendengar ucapan papa mertuanya, walaupun terkenal garang tapi jika bersama keluarganya seorang Bagaskara adalah orang yang sangat hangat dan humoris.
“Udah jangan berdebat lagi, ayo ke atas kak biar aku yang memesan buahnya nanti, jadi kita tinggal ambil sekalian berangkat.” Ucap Aneska.
Elvan menganggukkan kepalanya lalu segera berjalan menaiki tangga lebih dulu, sedangkan Aneska masih di tempatnya dan menatap ke arah Bagas.
“Papa, jangan meledek kak Elvan terus dong, kasian tau..” ucap Aneska.
“Biar saja! Salah siapa dia sudah membuat anak perempuan papa kabur dari rumah.” Jawab Bagas.
__ADS_1
“Oh iya, kapan pemeriksaan cucu papa Nes?” tanya Bagas.
“Lusa pa, kenapa? Papa mau ikut?” tanya Aneska.
“Nanti aja, kalau kandunganmu sudah besar dan jenis kelaminnya sudah kelihatan baru papa ikut, pokoknya papa harus jadi orang pertama yang tau jenis kelamin ketiga cucu papa.” Ucap Bagas.
“Pasti pa, papa tenang saja.. Papa akan menjadi orang pertama yang mengetahui jenis kelamin cucu-cucu papa.” Ucap Aneska lalu segera berpamitan untuk menyusul Elvan ke kamar mereka.
Sesampainya di depan kamar, Aneska segera membuka pintu tanpa mengetahui apa yang sedang di lakukan Elvan.
Sampai Aneska terkejut saat melihat Elvan yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggangnya.
"Aaaa!!" teriak Aneska tanpa sadar sambil menutup kembali pintu kamarnya.
Sedangkan Elvan yang berada di dalam kamar ikut terkejut mendengar suara teriakan Aneska.
"Hah,, hah,, hah,,, gila aduh gila ini jantung mau copot rasanya liat roti sobek macam begitu!" gumam Aneska sambil mengelus dadanya untuk membuat jantungnya kembali normal.
Ceklek.. Suara pintu kamar yang terbuka membuat Aneska seketika langsung mematung tidak bergerak sama sekali.
"Nes, kamu ngapain teriak sih? Kalo sampe papa denger bisa-bisa dia ngira aku ngapa-ngapain kamu tau!" ucap Elvan.
"Maaf kak, aku kaget belum terbiasa liat kak Elvan ga pake baju begitu." ucap Aneska malu-malu.
"Ngapain malu-malu, kamu kan juga pernah liat Nes.." ucap Elvan yang membuat Aneska semakin malu dan wajahnya semakin memerah.
"Ya nuansanya beda kak, makanya ekspresinya juga beda!" ucap Aneska yang langsung masuk ke dalam kamar melewati Elvan begitu saja.
Elvan hanya tersenyum gemas melihat tingkah istrinya yang malu-malu itu, bari kali ini Elvan melihat sisi Aneska yang seperti itu.
Selama ini Elvan hanya melihat sisi Aneska yang dingin dan canggung. Entah Aneska berubah karena bawaan bayi atau apa, tapi yang jelas Elvan sangat menyukai Aneska yang seperti sekarang.
__ADS_1