MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 64


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Aneska duduk di tepi tempat tidur sambil menatap alat kehamilan yang sedang dia pegang.


"Tidak mungkin bukan? Hari itu hanya kesalahan dan aku tidak mungkin akan langsung hamil." gumam Aneska yang berdebat dengan pikirannya.


"Tapi gaada salahnya kan mencoba? Baiklah, aku akan mencobanya." tegas Aneska yang langsung masuk ke dalam kamar mani.


Aneska mengikuti semua peraturan yang ada di bungkus alat tersebut, dengan hati-hati dan perasaan yang tidak karuan.


***


Seminggu sudah berlalu, di apartmentnya, Elvan sedang frustasi sambil menghubungi seseorang.


"Halo? Kalian belum menemukannya juga!? Sial! Lalu apa yang bisa kalian lakukan selama ini hah??!" teriak Elvan.


"Aku tidak mau tau! Aku hanya memberi kalian waktu seminggu, seminggu adalah waktu yang lama untuk kalian menemukan istriku!" lanjutnya lalu segera mematikan telfonnya.


Elvan melempar hpnya ke atas tempat tidurnya, dia benar-benar kesal dengan dirinya sendiri karena sudah membuat Aneska kecewa padanya bahkan membencinya.


"Maafkan aku Aneska, maaf.." gumam Elvan sambil menarik rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.


Tok,,tok,,tok.. tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu apartment Elvan.


Dengan segera Elvan berjalan ke arah pintu dan membuka pintu apartmentnya.

__ADS_1


"Aneisha, Gavin? Kenapa kalian berdua kemari?" Tanya Elvan.


"Hai kak, aku dan Aneisha membawakanmu makanan." ucap Gavin sambil menenteng bungkusan plastik di tangannya.


Elvan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Gavin.


"Masuklah ke dalam." ucap Elvan mempersilahkan keduanya untuk masuk.


Semenjak kejadian kaburnya Aneska, hubungan keluarga mereka semakin lama semakin dekat, Gavin menjadi lebih dekat dengan Aneisha dan Elvan.


Evano dan Elvan yang awalnya bersaing untuk mendapat pengakuan siapa yang terbaik di bidang bisnis, justru saling membantu satu sama lain memajukan perusahaan Elvan yang saat ini di alihkan kepada Evano sementara waktu.


"Kalian kemari cuma mau membawakanku makanan?" Tanya Elvan.


"Kalian ini, bukankah kamu harus kuliah Gavin? Dan kamu Nei, kamu harusnya istirahat karena besok adalah syuting perdanamu!" ucap Elvan.


"Duh kak Elvan jangan bawel deh, sudah makan aja biar punya tenaga buat nyari kak Anes." tegas Aneisha.


Akhirnya dengan terpaksa Elvan memakan makanan yang sudah di berikan kepadanya.


"Bagaimana kegiatan kalian berdua?" Tanya Elvan yang sudah selesai makan dan mencoba mengambil rokok dari kantung celananya.


"Kak Elvan! Sejak kapan kak Elvan merokok?!" Tanya Aneisha.

__ADS_1


"Ah, dua hari setelah Aneska pergi mungkin." jawab Elvan dengan santai.


"Kak! Kak Anes ga akan menyukai hal ini! Dia akan memarahimu." ucap Aneisha.


"Sengaja, setidaknya dia akan berada di sampingku walaupun hanya untuk memarahiku." ucap Elvan dengan tatapan kosong dan senyum yang mengembang di wajahnya.


Sedih, sedih rasanya melihat kakaknya seperti itu, walaupun kakak perempuannya kabur karena Elvan, namun Aneisha tau kalau Elvan tidak bermaksud melakukan hal itu.


"Kak Elvan, bolehkah aku mengatakan sesuatu?" Tanya Gavin.


"Kak Gavin dari tadi ngomong juga ga ijin dulu tuh!" sahut Aneisha.


Gavin menatap tajam ke arah Aneisha lalu kembali mengalihkan pandangannya kepada Elvan.


"Tentu saja, bicaralah." ucap Elvan.


"Sebenarnya aku sedikit curiga dengan kakakku, dia sepertinya tau keberadaan kak Anes, tapi aku masih belum bisa menemukan bukti apapun." jelas Gavin.


"Kanaya? Dia tau sesuatu?" Tanya Elvan.


"Hm,, kak apa menurutmu kak Anes akan pergi begitu saja tanpa memberitahu siapapun?" Tanya Gavin yang di balas gelengan kepala oleh Elvan.


"Jika dia tidak memberitahu Anei, maka kak Anes pasti memberitahu kak Naya."

__ADS_1


Mendengar ucapan Gavin membuat Elvan sedikit berfikir, karena apa yang di katakan oleh Gavin ada benarnya juga.


__ADS_2