
Setelah menunggu cukup lama, dokter yang menangani Aneska segera keluar dan menghampiri Elvan yang masih duduk di kursi tunggu sambil menundukkan kepalanya.
“Tuan..” panggil dokter wanita tersebut.
“mendengar panggilan dari dokter tersebut, Elvan segera menoleh ke atas dan berdiri sambil menghapus sisa air matanya yang sudah membasahi pipinya.
“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Elvan.
“Sabar tuan, saya mau memberitahu kalau nyonya Aneska harus segera di operasi.” Ucap dokter tersebut.
“Tapi dok, usia kandungannya baru 8 bulan, bagaimana bisa istri saya di operasi? Apa aka nada masalah kepada istri dan anak-anakku?” tanya Elvan.
“Usia 8 bulan itu sudah termasuk kuat untuk kandungan seseorang, hanya saja karena bayi tuan kembar tiga jadi kami harus memasukkan mereka ke incubator setelah di lahirkan.” Jelas dokter tersebut.
“Kalau begitu segera di operasi dok, aku juga mau memesan tiga incubator untuk di bawa ke rumah karena aku ga mau sampai istriku pulang tapi anak-anakku masih berada di rumah sakit.” Ucap Elvan.
“Baik tuan, akan saya usahakan untuk memberi incubator khusus untuk anda.” Ucap dokter tersebut.
“Baiklah kalau begitu, silahkan anda ke receptionist untuk menandatangani kertas persetujuan operasi istri anda tuan.” Lanjut dokter tersebut.
Mendengar ucapan dokter tersebut membuat Elvan segera menganggukkan kepala dan segera pergi ke lantai pertama untuk mengurus semua prosedur sebelum operasi.
***
Di sisi lain, kediaman Bagaskara saat itu hening karena tidak ada Aneska yang selalu mengajak Mala bercanda saat itu.
Aneisha yang baru kembali setelah syuting seharian hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri karena merasa aneh dengan keheningan rumah mereka.
“Ma, mama…” panggil Aneisha dari ruang tamu.
“Anei? Kamu sudah pulang sayang? Bagaimana syuting hari ini?” tanya Mala yang baru saja keluar dari dapur.
“Ya begitulah ma, seminggu lagi syuting Anei selesai dan setelah itu Anei akan memiliki jadwal untuk reality show.” Jelas Aneisha.
“Benarkah? Wah hebatnya, anak mama benar-benar jadi artis papan atas sekarang… Teman-teman mama selalu menyanjung mama saat perkumpulan karena memiliki putri seorang artis terkenal.” Ucap Mala dengan bahagia.
“Duh apa sih mama,, Aneisha ga akan bisa jadi seperti ini kalau bukan karena papa, mama, dan kakak-kakak..” ucap Aneisha.
__ADS_1
Mala hanya tersenyum sambil memegang dagu Aneisha karena gemas dengan sikap lucu Aneisha.
“Oh iya ma, kemana kak Anes? Kenapa rumah sepi sekali? Lagipula jam segini bukankah seharusnya kak Elvan dan kak Evano juga sudah pulang?” tanya Aneisha.
“Aneska tadi pagi ikut Elvan ke kantor, mereka belum kembali sejak tadi pagi, sedangkan Evanotadi menghubungi mama kalau dia akan makan malam dengan teman-teman lamanya.” Jelas Mala.
“Oh begitu toh, jadi sekarang mama lagi nyiapi makan malam untuk kita semua?” tanya Aneisha.
“Yap! Betul.” Ucap Mala membenarkan.
“Asikk,, makanan buatan mama emang paling the best!” puji Aneisha dengan semangat.
“Apaan sih ga usah muji mama deh! Udah sana cepat mandi, ganti baju dan istirahat.. Nanti setelah selesai dan semua sudah berkumpul baru mama akan memanggilmu di kamar.” Ucap Mala.
“Siap bosku!” tegas Aneisha dengan sikap hormat layaknya ucapara bendera.
Aneisha segera berlari menaiki tangga menuju kamarnya, sedangkan Mala hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkan anaknya itu.
“Anak itu, sudah terkenal tapi sikapnya masih seperti anak kecil..” gumam Mala yang langsung melanjutkan kegiatan masaknya di dapur.
Mala yang sedang fokus memasak tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya setelah hp miliknya berdering dan Mala segera mengangkat telfon tersebut.
“Ma, cepat ke rumah sakit ya, bawa semua barang Aneska yang sudah di siapkan untuk melahirkan ada di bawah lemari.” Ucap Elvan.
“Hah? Barang gimana maksudnya? Kenapa harus membawa barang untuk melahirkan?” tanya Mala yang masih tidak memahami situasinya.
“Anes tadi hampir tertabrak dan mungkin karena shock jadi perutnya tegang dan sepertinya tadi ada air yang mengalir di pahanya.. Dokter bilang Aneska harus segera di operasi ma, makanya Elvan suruh mama ke sini bawa
barang-barang yang sudah di siapin Aneska.” Jelas Elvan.
Mala yang sudah memahami maksud dari anaknya itu langsung terkejut bukan main, dia bahkan menjatuhkan pisau yang sedang dia pegang hingga menimbulkan bunyi yang membuat pelayan dapur terkejut dan langsung menoleh ke arah Mala.
“Nyonya! Nyonya Mala kenapa?” tanya salah satu pelayan yang ada di sana.
“Aneska bi, Aneska.”
“Iya nyonya, nona Aneska kenapa?” tanya bibi tersebut.
__ADS_1
“Aneska mau melahirkan! Cepat sekarang juga kalian semua berhenti memasak dan siapkan kamar yang akan di pakai ketiga cucuku nanti! Biarkan kamarnya kosong karena bayinya pasti membutuhkan incubator, biar Elvan yang
mengurus masalah incubator.” Ucap Mala yang langsung berlari ke kamar Aneisha untuk memberitahunya.
“Anei! Anei!!” teriak Mala namun tidak di gubris sampai akhirnya Mala mengetuk untuk ke sekian kalinya dan Aneisha membuka pintu kamar dalam keadaan memakai handuk di tubuhnya.
“Yaampun ma sabar, Aneisha baru aja masuk kamar mandi mama udah ngetok-ngetok gitu..” ucap Aneisha saat membuka pintu kamarnya.
“Duh pakai lagi baju kamu cepetan, kita harus ke rumah sakit sekarang juga!” tegas Mala.
“Hah? Rumah sakit ma? Kenapa? Ada apa?!” tanya Aneisha yang mulai panik.
Mala lupa kalau Aneisha sedikit merasa takut dengan rumah sakit setelah dirinya membuat Jody terluka sampai harus di rawat di rumah sakit.
“M-maaf Nei mama ga bermaksud membuat kamu panik sayang…” ucap Mala yang langsung memeluk tubuh putrinya.
“Ga apa-apa ma, Anei udah baik-baik saja sekarang kok..” balas Aneisha.
“Kakak kamu sekarang berada di rumah sakit, dan harus segera di operasi karena tadi dia mengalami insiden.” Jelas Mala secara perlahan.
“Apa?! Kalau begitu aku siap-siap dulu ma, mama juga siap-siap ya, kak Anes udah nyiapin semua keperluan untuk di rumah sakit kok ada di tas di bawah lemari.” Ucap Aneisha.
“Iya sayang tadi Elvan udah ngomong sama mama, kalo gitu kamu cepetan ya mama akan menyiapkan semuanya.” Ucap Mala yang langsung di balas anggukan oleh Aneisha.
Mala yang masuk ke dalam kamarnya dengan buru-buru itu membuat Bagas yang sedang membaca Koran di balkon kamar mereka menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.
“Kamu ini lagi olahraga ma? Kenapa lari sana lari sini sih?” tanya Bagas yang masih belum mengetahui apapun.
“Duh diem deh pa! Mendingan papa sekarang cepat ganti baju dan siapin mobil ayo!” tegas Mala.
“Hah? Mau kemana sih buru-buru gini, orang Elvan sama Aneska aja belum pulang.” Ucap Bagas.
“Justru itu! Kita harus pergi karena mereka tidak akan pulang malam ini!” balas Mala.
“Hah? Apa maksudnya ma? Kenapa mereka tidak akan pulang?” tanya Bagas yang mulai berfikir macam-macam.
“Duh ayo deh pa jangan banyak tanya! Cucu-cucu kita akan segera lahir dan kita harus segera ke rumah sakit sekarang!” ucap Mala.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya membuat Bagas langsung lompat dari tepat duduknya dan berlari mengambil pakaian di lemarinya membuat Mala juga ikut terkejut karenanya.
“Duh dia malah lebih parah di bandingkan aku! Aku cuma lari-larian, lah dia udah kayak kodok aja loncat-loncat ga jelas!” gumam Mala sambil menggelengkan kepalanya dan melanjutkan merapihkan pakaiannya untuk menginap di rumah sakit.