MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 74


__ADS_3

Sesampainya di rumahnya, Elvan, Aneska dan Aneisha segera masuk ke dalam rumah untuk memberi kejutan kepada orang tua mereka.


Namun sebelum mereka bertiga memberi kejutan, mereka lebih dulu di beri kejutan oleh kedatangan seseorang di rumahnya.


"Kamu!? Apa yang kamu lakukan di sini!?" Tanya Aneisha dengan ketus.


"Hai adik-adikku tercinta!" sapa Belvina sambil melambaikan tangannya ke arah Aneska, Elvan dan Aneisha.


"Adik? Hahaha, siapa yang sudi menjadi adikmu!" ketus Aneisha.


Aneska menggenggam tangan Aneisha dan memberi tanda kepadanya untuk berhenti bicara.


"Kenapa aku harus berhenti dengan orang sepertinya kak!? Dia orang yang pernah melukaimu dan aku juga yakin kalau dia dan om Alex juga ada campur tangan mengenai kecelakaan orang tua kita!" ucap Aneisha.


"Kak Belvina, siapa yang menyuruhmu masuk ke dalam rumah?" Tanya Aneska dengan santai.


"Aku sendiri!" ketus Belvina.


"Setelah keluar dari penjara ternyata sopan santun kak Belvina sudah hilang ya? Bukankah seharusnya kalau tidak ada tuan rumah lebih baik pulang atau menunggu di luar?" Tanya Aneska.


Yap! Aneska sangat santai tetapi kata-katanya menusuk sampai ke jantung lawannya.


"Aku masuk penjara juga karena dirimu Aneska! Aku berjanji tidak akan pernah membiarkanmu bahagia!" ketus Belvina.

__ADS_1


Elvan yang dari tadi hanya melihat seketika langsung memberi kode kepada satpam di depan rumah untuk membawa Belvina pergi dari rumahnya.


"Apa-apaan ini!?" teriak Belvina saat kedua tangannya di pegang oleh satpam rumah Elvan.


"Maaf, tapi tamu yang tidak di sukai oleh adikku dan istriku tidak bisa berada di dalam rumah ini!" tegas Elvan dengan ketus.


"Kalian semua! Aku tidak akan pernah membiarkan kalian semua bahagia!" teriak Belvina sebelum akhirnya dia tidak terlihat lagi karena sudah di lempar ke luar rumah.


"Aku benar-benar sial memiliki sepupu sepertinya!" ketus Aneisha.


"Anei sudahlah, meladeninya hanya akan membuatmu kehabisan tenaga." ucap Aneska.


"Kenapa sih kak Anes selalu membela kak Belvina? Dia sudah mencelakaimu kak!"


Mendengar ucapan kakaknya membuat Aneisha terdiam seketika, di fikir lagi memang benar kata kakaknya itu.


"Ah sudahlah... Oh iya, kemana papa dan mama? Kenapa tidak ada orang di sini?" Tanya Aneisha sambil melihat sekeliling rumahnya.


"Uekk!!" tiba-tiba saja Aneska merasakan mual yang sangat hebat hingga membuatnya berlari ke kamar mandi yang ada di dapur untuk mengeluarkan isi di dalam perutnya.


"Kak Anes? Kakak kenapa?" Tanya Aneisha yang langsung berlari menyusul Aneska ke kamar mandi.


Elvan yang ikut khawatir juga segera menyusul Aneska ke belakang.

__ADS_1


"Kakak!" panggil Aneisha.


"Ada apa Nes? Kamu sakit?" sambung Elvan.


"Jangan kesini! Lagi muntah begini kalian jangan kesini." ucap Aneska sambil memberi isyarat untuk meminta mereka berhenti.


"Kak, kakak kenapa? Kakak sakit?" Tanya Aneisha lagi.


"Tidak apa-apa, mungkin masuk angin."


"Kalau begitu aku ambilkan obat ya." ucap Elvan.


"No! Jangan kak, aku tidak mau minum obat! Minta tolong buatkan aku teh hangat buatanmu bukan buatan yang lain!" tegas Aneska.


Mendengar ucapan Aneska akhirnya Elvan menganggukkan kepalanya dan segera membuatkan teh hangat untuk istrinya itu.


Elvan mulai mengambil panci dan mengisinya dengan air untuk merebusnya.


"Tuan, biar bibi saja yang membuatkan teh hangat untuk nona Aneska." ucap pelayan rumahnya.


"Tidak apa bi, Aneska ingin aku yang membuatnya jadi biarkan aku membuatkan teh hangat untuknya." ucap Elvan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Tidak terlihat rasa lelah setelah perjalanan jauh di wajah Elvan, bahkan saat ini Elvan sangat bahagia karena istrinya yang selama ini pergi bisa kembali ke sisinya.

__ADS_1


__ADS_2