
“Stop! Aku bilang aku tidak perduli!” tegas Jody dengan suara tinggi.
Aneisha yang mendengar ucapan Jody hanya bisa mematung di tempatnya sampai kedua matanya berkaca-kaca sangking terkejutnya dengan teriakan Jody.
Jody juga terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba tidak terkendali itu, dia juga semakin terkejut saat melihat Aneisha yang sudah brkaca-kaca.
“M-maafkan aku Nei.. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membentakmu..” ucap Jody yang merasa bersalah.
“Kenapa kamu membentakku? Padahal aku cuma mau cerita aja, aku kira kita teman dan kamu mau mendengarkan ceritaku, tapi ternyata kamu tidak menganggapku sebagai temanmu.” Ucap Aneisha lalu berlari masuk ke dalam hutan tanpa memikirkan traumanya.
“Aneisha, kamu mau kemana!?” teriak Jody yang ikut berlari mengikuti Aneisha.
Namun saat berada di tengah-tengah hutan tiba-tiba Jody kehilangan Aneisha, dia tidak tau kemana Aneisha berlari karena dia sendiri juga terlalu sibuk berlari tanpa melihat kemana perginya Aneisha.
“Sh*t! Kenapa aku bisa kehilangannya? Bagaimana jika dia tersesat.” Gumam Jody yang melihat sekeliling hutan untuk memilih ke arah mana Aneisha pergi lalu memutuskan untuk berlari ke arah Kanan.
***
Di sisi lain, Aneska yang sedang bergulat dengan berkas-berkas di atas mejanya tiba-tiba terkejut karena suara bingkai foto yang terjatuh karena angina hari itu terlalu kencang.
“Astagfirullah.. Anginnya kencang sekali hari ini, sepertinya akan hujan.” Gumam Aneska yang sudah berjalan untuk menutup jendela kantornya.
__ADS_1
Setelah memastikan jendela terkunci, Aneska mengalihkan pandangannya ke arah bingkai foto yang terjatuh itu. Itu adalah foto Aneska dan Aneisha yang di potret oleh orang tua mereka saat mereka berpiknik ke hutan.
“YaAllah Aneisha! Bagaimana keadaannya, kenapa tidak ada yang mengabariku?” gumam Aneska yang mulai merasa khawatir.
Dengan segera Aneska mengambil hp di atas meja kerjanya dan mencoba untuk menghubungi adiknya tapi tidak ada yang menjawab, bahkan nomernya tidak aktif.
“Kenapa tidak di angkat? Kemana dia sebenarnya?” gumam Aneska.
Akhirnya Aneska segera mencari nomer Jody dan menghubunginya, syukurnya nomernya bisa di hubungi dan setelah menunggu beberapa detik akhirnya Jody mengangkat telfon dari Aneska.
“Halo Jody?! Jody kenapa nomer Aneisha tidak bisa di hubungi? Di mana dia? Semuanya baik-baik saja kan?” ucap Aneska dengan panik.
“Kak, kak Jody mohon tenang dulu ya.. Tadi Jody dan Anei sempat berdebat sedikit lalu Aneisha lari begitu saja entah kemana, tadi Jody ikutin tapi kok tiba-tiba dia hilang.” Jelas Jody.
Elvan yang kebetulan mau mengajak Aneska makan siang bersama langsung terkejut saat mendengar suara Aneska yang meninggi.
Dengan segera Elvan menerobos pintu ruangan Aneska dan melihat Aneska yang sedang berbicara dengan seseorang di telfon.
“Maaf kak Anes, aku akan berusaha untuk mencari Aneisha.” Ucap Jody.
“Maaf? Aku tidak akan memaafkanmu sampai kamu menemukan adikku!” teriak Aneska yang mulai memegangi kepalanya karena merasa pusing.
__ADS_1
Elvan yang mengetahui hal itu dengan sigap segera berjalan menghampiri istrinya dan mengambil hpnya tanpa permisi.
“Halo? Jody? Apa maksud dari menemukan Aneisha? Apa kamu kehilangannya?” tanya Elvan dengan nada dinginnya.
Akhirnya Jody langsung menjelaskan semua yang terjadi kepada Elvan hingga dia bisa kehilangan Aneisha.
“Kalau begitu tolong cari Aneisha dengan benar, aku akan segera ke sana untuk membantumu mencari Aneisha.” Ucap Elvan.
“Maaf karena Aneska terbawa emosi karena dia sedang sensitif.” lanjutnya dan langsung mematikan telfonnya.
“Kenapa kamu mematikannya kak?” tanya Aneska saat Elvan memberikan hp Aneska kembali kepadanya.
“Tenanglah Aneska, jangan khawatir dulu aku yakin Anei sangat pintar dan dia tidak akan kenapa-kenapa.” Ucap Elvan.
“Tapi…”
“Sudah, lagipula jika kamu terus menghubunginya dia tidak akan fokus mencari Aneisha.”
Mendengar ucapan Elvan membuat Aneska terdiam dan berfikir jika ucapan Elvan benar adanya.
“Baiklah kalau begitu aku akan menghubungi Gavin untuk membantu mencari Anei.” Ucap Aneska.
__ADS_1
“Hm boleh juga, lebih banyak orang yang mencarinya akan lebih baik.” Ucap Elvan.
Aneska tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya dan segera menghubungi Gavin untuk membantu mencari Aneisha.