
Bab 9
Aneska dan Elvan sudah berada di rumah, Elvan segera mengajak Aneska ke ruang kerjanya untuk membaca laporan perusahaan.
Mama Mala yang melihat kedatangan mereka tersenyum dan ingin memanggilnya, namun mereka tidak memperdulikan keberadaan mama Mala dan tetap berjalan ke ruang kerja Elvan.
“Yaampun mereka ini kesambet apaan sih kok serius amat kayaknya.” Gumam mama Mala.
Elvan dan Aneska sudah berada di depan pintu kecil yang ada di sudut ruangan yang sulit di lihat orang, Elvan memasukkan kata sandinya dan membuka pintu kecil tersebut.
Aneska terkejut melihat betapa besarnya ruangan yang di tunjukkan oleh Elvan itu.
“Kak, ruangan ini besar sekali padahal awalnya aku kira ruangan ini kecil.” Ucap Aneska.
“Ini adalah ruang bacaku dan ruang kerjaku, sebenarnya tidak ada yang boleh masuk ke ruangan ini selain aku. Baru kamu satu-satunya orang yang boleh masuk ke dalam ruangan ini.” jelas Elvan.
“Benarkah kak? Tante Mala dan om Bagas juga tidak pernah masuk ke sini?” tanya Aneska yang di balas anggukan oleh Elvan.
"Wah berarti aku orang yang beruntung bisa masuk ke dalam ruang rahasia kak Elvan." Ucap Aneska yang di balas senyuman oleh Elvan.
Elvan mempersilahkan Aneska untuk duduk di mana saja yang membuat Aneska nyaman, sedangkan Aneska hanya mengikuti ucapan Elvan dan duduk di sofa yang ada di sana.
“Apa kamu bisa membaca grafik keuangan perusahaan Nes?” tanya Elvan.
“Hm, aku bisa membaca grafiknya kak.”
“Baiklah, kemari dan lihatlah ini agar kamu bisa mempelajari baik-baik. Aku akan membaca laporan perusahaan yang lainnya dan ingin melihat data-data pemegang saham di perusahaan.” Jelas Elvan.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Aneska segera menghampiri Elvan dan membaca laporan keuangan perusahaan.
Aneska sedang membaca laporan keuangan tersebut dengan sangat teliti dan serius.
“Kak, bisa ke sini dulu ga?” tanya Aneska.
“Ada apa Nes?” tanya Elvan sambil menghampiri Aneska.
“Lihatlah ini, ini adalah laporan pengeluaran pembelian kain sutra untuk pembuatan pakaian. Di sini harga satu gulungnya 3,5 juta, tapi setauku harga per gulung itu hanya sekitar 1,9 – 2 juta.” Jelas Aneska.
“Bagaimana kamu tau jika harga per gulungnya segitu?” tanya Elvan penasaran.
__ADS_1
“Kak, aku itu mendesain sebagian pakaianku sendiri dan aku sendiri juga yang memilih bahan untuk pakaianku. Untuk harga segitu, kita sudah bisa mendapatkan kualitas yang bagus.” Jelas Aneska.
“Baiklah jika begitu, aku akan mengadakan rapat untuk seluruh karyawanku besok. Aku akan membasmi orang-orang yang berani korupsi uang perusahaan, aku mau kamu mengumpulkan bukti-bukti untuk di tunjukkan saat rapat besok.” Ujar Elvan.
“Baik kak, aku akan berusaha untuk mengumpulkan bukti-bukti kecurangan para karyawan.”
Setelah lama membaca laporan-laporan perusahaan, Aneska dan Elvan memutuskan untuk keluar untuk mandi dan beristirahat sejenak.
“Kalian ini baru dateng sudah masuk tanpa menyapa mama.” Protes Mala.
“Maaf tante, tadi Aneska buru-buru ngikutin kak Elvan sampe ga lihat tante Mala.” Ucap Aneska yang merasa bersalah dengan Mala.
“Kita tadi terlalu bersemangat untuk bekerja ma.” Ucap Elvan.
“Sudahlah, kalian sudah makan siang?” tanya Mala.
“Sudah tante.” Jawab Aneska.
“Baiklah kalau begitu, kalian segera mandi dan beristirahat nanti mama akan membangungkan kalian saat waktunya makan malam tiba.”
“Oh iya Nes, kapan Aneisha pulang kuliah?” tanya Mala.
Aneska melihat jam yang ada di tangannya.
Tinn..tinn..
Mereka semua terkejut karena suara klakson mobil yang sangat kencang itu, mereka menoleh ke arah asal suara dan melihat ada laki-laki yang turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Aneisha.
“Yaampun Nes, siapa laki-laki itu?” tanya Mala yang merasa khawatir.
“Tenang tante, dia Gavin adik sahabat baik Aneska, dia sangat dengan dengan Aneisha sejak kecil.” Aneska berusaha untuk menjelaskan kepada Mala agar tidak merasa khawatir.
“Assalamualaikum..” ucap Aneisha dan Gavin secara bersamaan.
“Waalaikumsalam..” ucap semua orang yang berada di rumah.
“Hai mama Mala, ini kak Gavin dia sudah seperti kakak untuk Anei.” Jelas Aneisha dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
“Selamat siang tante, maaf nganterin Aneisha terlambat soalnya tadi masih makan siang dulu di luar.” Ucap Gavin.
__ADS_1
“Syukurlah ternyata kamu adalah laki-laki yang sopan.” Ucap Mala.
“Tante, terimakasih karena sudah menerima Aneisha dan kak Aneska di rumah ini. Gavin yakin kalau tante tidak akan menyesal telah merawat Aneisha dan kak Aneska, mereka adalah orang baik Gavin bersyukur karena ada orang yang lebih baik yang membantu mereka.” Ujar Gavin.
“Kebiasaan deh Gavin sok dewasa kamu tuh. Sudah pulang sana kakakmu pasti sedang mencarimu.” Ejek Aneska.
“Ih kak Aneska selalu ngeledek Gavin. Yaudah deh Gavin pulang dulu tante, kak.” Ucap Gavin yang berpamitan kepada mereka semua.
“Hati-hati ya kak Gavin.” Ucap Aneisha sambil melambaikan tangannya.
“Iya Nei kamu juga jaga diri baik-baik ya.” ucap Gavin sambil mengelus rambut Aneisha dan kembali masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah keluarga Bagaskara.
Setelah melihat kepergian Gavin, Aneisha menggandeng tangan Mala dengan manjanya.
“Ma, jangan marah gara-gara Anei pulang sama cowo ya ma.” Ucap Aneisha dengan nada manjanya.
“Lain kali kabarin mama dulu kalo mau pulang sama cowo ya.” ucap Mala yang di balas anggukan oleh Aneisha.
“Sudahlah sekarang kamu cepat mandi dan beristirahat.” Ucap Mala sambil tersenyum.
Aneisha segera masuk ke dalam rumah dan naik ke kamarnya, Mala yang melihat tingkah anak angkatnya itu hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Maaf ya tante, Anei emang udah deket banget sama Gavin.” Ucap Aneska yang merasa tidak enak.
“Tenang saja Nes, mama tidak sekolot itu yang tidak membolehkan anak perempuannya main dengan para laki-laki. Mama hanya khawatir saja kalau belum mengenal laki-laki tersebut.” Ujar Mala.
“Terimakasih tante, Aneska dan Aneisha beruntung sekali mendapatkan keluarga seperti tante, om dan kak Elvan.” Ucap Aneska sambil tersenyum manis kepada Mala.
Mala memeluk Aneska dan mengusap lembut punggungnya.
“Mama juga beruntung mendapatkan anak-anak perempuan yang sangat cantik dan baik seperti kalian.” Ucap Mala.
“Sudahlah adegan berpelukannya kayak teletubies aja kalian ini.” ejek Elvan.
“Kamu ini Van, gangguin mama pelukan sama anak mama aja, kamu juga mau mama peluk sini.” Ucap Mala yang ingin menghampiri Elvan.
Elvan yang melihat mamanya perlahan mendekat itu segera kabur naik ke kamarnya untuk menjauhi mamanya. Aneska dan Mala tertawa terbahak-bahak melihat Elvan kabur ke kamarnya.
“Dia lucu bukan Nes? Sebelum kamu dan Aneisha datang ke rumah ini, dia jarang sekali bercanda dengan orang tuanya, tapi semenjak kalian berdua datang Elvan jadi lebih terbuka dan lebih bahagia. Mama harap kamu bisa menemani Elvan terus ya sayang, karena terkadang dia suka terlalu gegabah untuk memutuskan sesuatu.” Ucap Mala.
__ADS_1
“Iya tante tenang aja, Aneska akan mendampingi kak Elvan dan akan selalu mengingatkan kak Elvan agar tidak terlalu ceroboh memutuskan sesuatu.” Ujar Aneska.
Mala sangat bahagia karena kedatangan Aneska dan Aneisha, rumah mereka menjadi lebih berwarna dan keluarganya menjadi penuh dengan canda tawa.