
"Siapa yang namanya Aneisha di sini?" Tanya salah satu peserta yang ada di sana.
Aneisha yang sedang fokus melihat tab miliknya langsung menoleh ke asal suara dan menyauti ucapan peserta itu.
"Aku Aneisha." ucapnya.
"Kamu di panggil manager dan di suruh untuk ke ruangannya."
"Ada apa ya?"
"Aku juga ga tau, pergi aja dulu."
"Baiklah kalau begitu, terimakasih informasinya."
Aneisha langsung berdiri dari tempat duduknya dan segera pergi ke ruangan manager untuk menemuinya.
"Selamat siang pak, katanya bapak mencari saya?" Tanya Aneisha.
"Iya saya mencari kamu karena ada yang ingin bertemu denganmu." ucap manager tersebut
Aneisha yang tidak mengerti apa yang sedang di ucapkan oleh manager tersebut hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Siapa pak?"
"Dia ini Dio, dia adalah sutradara film termuda dan terkenal di industri perfilman, dia menyukaimu dan menginginkan kamu untuk bermain di film terbarunya." ucap manager tersebut.
"Apa!? T-tapi saya tidak pernah syuting film atau apapun itu, bagaimana bisa saya syuting film." ucap Aneisha.
"Kamu tenang saja, kamu sudah terbiasa di depan kamera, tentu saja kamu juga pasti bisa bermain film." bujuk Dio.
"Tapi tuan, saya tidak bisa memutuskan sesuatu hal begitu saja. Saya butuh waktu untuk memutuskan hal ini." ucap Aneisha.
"Baiklah kalau begitu, ini adalah kartu nama saya, hubungi saya jika kamu sudah memutuskan dan memikirkan hal ini matang-matang." ucap Dio.
"Baik tuan, sekali lagi terimakasih atas tawarannya, dan maaf karena saya belum bisa langsung menjawabnya." ucap Aneisha yang segera pergi dari ruangan tersebut.
Setelah menutup pintu ruangan manager tersebut, dia langsung bersandar di tembok sebelah pintu karena merasa deg-degan karena mendapatkan tawaran seperti itu secara tiba-tiba.
"Bagaimana bisa aku mendapatkan tawaran seperti itu? Aku harus memberitahu orang rumah untuk membahas tentang hal ini." gumam Aneisha yang langsung bergegas untuk pulang ke rumah.
***
Di perusahaan Elvan, Aneska yang masih memantau pekerjaan karyawannya sesekali berjalan ke pojok ruangan karena menahan sakit di perutnya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Evano yang sudah kembali ke ruangan itu.
"Kamu kenapa kemari lagi?" tanya Aneska.
"Aku memanggil kamu, ada Kanaya di kantin tuh nunggu kamu katanya."
"Kanaya? Tapi aku masih ada kerjaan di sini."
"Biar aku aja yang menangani di sini, kamu pergilah temui Kanaya."
Aneska menatap Evano dengan tatapan aneh, dia tidak yakin kalau Evano mau memantau pekerjaan di sana.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba berubah? Bukannya tadi kamu marah-marah?" Tanya Aneska.
"Tidak, sudahlah sana kamu sebaiknya cepat samperin Kanaya!"
Akhirnya Aneska memberikan berkas yang dia bawa kepada Evano, lalu segera pergi menghampiri Kanaya di kantin perusahaan.
"Naya!" teriak Aneska.
"Yaampun Nes! Kata Evano kamu kerja, kok kesini?"
"Tadi dia gantiin aku kerja karena tidak mau tuan putrinya ini menungguku terlalu lama." ucap Aneska.
Drrtt..drrtt..
Hp Aneska berbunyi, tertulis nama Kevin di layar hpnya.
"Bentar ya Nay aku angkat dulu."
"Hm silahkan, pacar memang di nomersatukan!" sindir Kanaya.
Aneska hanya menatap tajam ke arah sahabatnya itu lalu segera mengangkat telfon dari kekasihnya.
"Halo.."
"Halo tuan putriku.. Kamu sedang apa? Apa kamu punya waktu luang?" Tanya Kevin.
"Waktu luang? Ada sampai jam makan siang selesai, ada apa?"
"Aku ingin mengajakmu keluar, gimana bisa? Nanti aku juga akan ijin ke Elvan kok."
"Baiklah, nanti kalo udah sampe depan kabarin aja ya." ucap Aneska yang langsung mematikan telfonnya.
"Pasti mau keluar sama kak Kevin kan? Ah elah udah ketebak!" ucap Kanaya.
"Hehe maaf ya Nay, lagian aku kan bakan nginep di rumah kamu seminggu, kurang apa coba?"
"Iya iya iya..."
Drrtt,, drrtt..
Hp Aneska kembali berdering, namun bukan Kevin yang menelfonnya melainkan Aneisha.
"Halo Nei?"
"Kak, bisa jemput aku ke tempat tadi ga? Aku mau ngomong sesuatu nih." ucap Aneisha dari sebrang telfon.
"Jemput? Ga bisa Nei, kamu kan tau kakak ga bawa mobil.."
"Aku akan menjemputnya." sahut Kanaya.
"Kamu yakin Nay?" Tanya Aneska yang di balas anggukan oleh Kanaya.
"Kanaya akan menjemputmu, share lokasi kamu ke Kanaya biar dia bisa jemput kamu." ucap Aneska.
"Baiklah kak, bye.."
Tepat setelah telfon di matikan, Kevin datang dan langsung menghampiri Aneska yang berada di kantin rumah sakit.
__ADS_1
"Hai tuan putri.."
"Kamu kenapa harus manggil aku tuan putri sih kak!"
"Kenapa? Elvan selalu bilang kalau kamu dan Aneisha adalah tuan putri di rumahnya, jadi aku akan memanggilmu tuan putri juga." jawab Kevin.
"Sudahlah ayo berangkat!" ajak Kevin.
Aneska menoleh ke arah Kanaya untuk meminta persetujuannya.
"Sudah sana pergi! Lagian aku kan mau jemput Aneisha, sana pergi." ucap Kanaya.
Akhirnya Aneska dan Kevin berpamitan kepada Kanaya lalu pergi meninggalkan Kanaya sendirian.
"Ah senangnya kalau memiliki pasangan." gumam Kanaya sambil memandangi Aneska dan Kevin dari kejauhan.
***
"Ayo kita sudah sampai!" ucap Kevin yang sudah memarkirkan mobilnya di depan l sebuah butik.
"Butik? Ngapain kita ke butik kak?"
"Untuk mencari gaun untukmu."
"Gaun? Tapi aku tidak membutuhkan gaun, aku punya banyak gaun dirumah."
"Sudah jangan banyak bicara sayang, ayo ikut aku masuk ke dalam."
Kevin mengulurkan tangannya kepada Aneska, dengan segera Aneska menggenggam tangan Kevin dan masuk ke dalam butik bersama.
Di dalam mereka di sambut dengan sangat hangat, Kevin memakai jas rapih sedangkan Aneska menmakai gaun berwarna putih.
Jujur saja Aneska sangat bingung dengan apa yan sedang di lakukan oleh Kevin, namun setiap bertanya Kevin selalu bungkam tidak mengatakan apapun.
Kevin bahkan menutup mata Aneska menggunakan kain berwarna hitam hingga membuat Aneska tidak bisa melihat apapun.
Setelah melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah lapangan luas. Kevin menggenggam tangan Aneska dengan sangat erat dan menuntunnya berjalan.
Kevin membuka penutup mata Aneska, dan membuat Aneska terkejut menatap ke sekelilingnya.
"Kita ngapain di sini kak?" Tanya Aneska.
Bukannya menjawab, Kevin justru berlutut dengan satu kaki di hadapan Aneska hingga membuat Aneska semakin terkejut.
"Kak, kak Kevin ngapain?" Tanya Aneska.
"Maukah kamu menjadi istriku Aneska?" Tanya Kevin sambil mengeluarkan sekotak cincin dari balik kantung celananya.
Aneska terkejut, dia terpaku melihat perlakuan Kevin kepadanya, bahkan air mata menetes di pipinya karena perlakuan Kevin.
"Kenapa kamu malah menangis? Bukannya jawab?"
"Mau ga?" Tanya Kevin kembali.
Aneska menganggukkan kepalanya perlahan, dia setuju untuk menikah dengan laki-laki yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Kevin segera memeluk tubuh Aneska, dia sangat bahagia karena Aneska mau menerima lamarannya.
Walaupun awalnya merasa risih akan sikap Kevin, namun perjuangan Kevin selama ini sudah membuat Aneska akhirnya luluh dan mau membuka hatinya untuk Kevin.