MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
PERSIAPAN


__ADS_3

Dan akhirnya, selalu ada batas untuk setiap perjalanan, dan selalu ada kata selesai untuk setiap yang dimulai.




“Nes, jangan lupa hari ini kamu ikut denganku ke pesta perkumpulan itu ya?” ucap Elvan mengingatkan.



“Oh iya, Aneska lupa kalau malam ini kak Elvan mengajakku ke pesta perkumpulan para pebisnis itu, padahal aku sudah berjanji kepada Gavin kalau aku akan ikut dengannya ke bandara.” Ucap Aneska.



“Jadi kamu lupa kalau malam ini kamu harus ikut denganku?” tanya Elvan.



“Iya kak hehe, aku akan bicara kepada Gavin kalau aku tidak jadi ikut dia menjemput Kanaya.” Ucap Aneska yang langsung mengambil hpnya dari saku celananya.



“Baiklah, aku akan pergi ke atas untuk beristirahat lebih dulu ya.” ucap Elvan yang di balas anggukan kepala oleh Aneska.



Melihat Elvan yang sudah meninggalkannya menaiki tangga, Aneska segera menghubungi Gavin untuk berbicara kepadanya.



“Halo Gavin?” ucap Aneska.



“Halo kak, ada apa?” tanya Gavin dari sebrang telfon.



“Gavin, maafkan aku ya sepertinya aku tidak bisa ikut menjemput Kanaya karena aku lupa kalau ternyata aku sudah berjanji untuk ikut ke pesta bersama kak Elvan.” Ucap Aneska.



“Tidak masalah kak, lagipula kak Naya masih belum ada kabar.” Ucap Gavin.



“Baiklah, kamu jaga diri baik-baik ya, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku.” Ucap Aneska yang langsung mematikan telfonnya.



Setelah menghubungi Gavin, Aneska lagsung pergi ke atas untuk memilih gaun yang akan di pakai saat pesta nanti.



“Ada banyak pebisnis, berarti ada om Alex dan kak Belvina bukan? Jadi aku harus menyapa mereka dengan gaun yang sangat indah nanti.” Gumam Aneska sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.



Aneisha yang sedang berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan hpnya melihat ke arah kakaknya yang sedang kebingungan mencari gaun untuk dia pakai nanti malam.



“Kak, kakak kenapa bingung banget gitu sih gara-gara gaun?” tanya Aneisha.



“Tentu saja! aku harus memilih gaun yang sangat indah untuk malam ini karena aku akan bertemu dengan om dan kakak sepupu kita Nei.” Ucap Aneska dengan senyum yang penuh dengan amarah.



“Jadi mereka berdua akan datang ke pesta besar itu? Hah! Mereka tidak pantas di sebut pebisnis kak! Om Alex hanya menggantikan posisi papa, dia bukan pebisnis!” ketus Aneisha.



“Kamu benar, aku tidak akan membiarkan om Alex menggantikan posisi papa terlalu lama, aku hanya membiarkannya merasakan bahagia terlebih dulu sebelum aku menjatuhkannya.” Ucap Aneska.


__ADS_1


Tok,,tok,,tok..



Di tengah-tengah pembicaraan Aneska dan Aneisha, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar mereka, Aneska segera membuka pintu kamarnya dan melihat mama Mala di hadapannya.



“Mama Mala? Ada apa?” tanya Aneska.



“Mama bawain ini buat kamu.” Ucap mama Mala sambil menunjukkan gaun berwarna merah yang sangat indah.



“Yaampun mama, tau dari mana kalau Aneska lagi kesulitan mencari gaun untuk di pakai ke pesta itu?” tanya Aneska dengan senyum yang mengembang di wajahnya.



“Tentu saja mama tau, mungkin ini yang di namakan ikatan batin antara anak dan ibunya.” Ucap mama Mala.



Mendengar ucapan mama Mala, membuat Aneska tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menandakan kalau dirinya setuju dengan ucapan mama Mala tersebut.



“Maukan mama masuk dan ikut mendandaniku?” tanya Aneska.



“Bolehkah mama mendandanimu?” tanya mama Mala yang terkejut mendengar ucapan Aneska.



“Tentu saja boleh ma! Aneska akan sangat senang kalau mama mau mendandani Aneska.” Jawab Aneska.



Akhirnya mama Mala masuk ke dalam kamar Aneska dengan senang hati, Aneisha yang melihat kedatangan mama Mala langsung bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri mama Mala.




“Mama Mala membawakan gaun untuk kakak, lihatlah bukankah ini sangat cantik?” ucap Aneska sambil memamerkan gaun merahnya kepada sang adik.



“Bagus sekali kak, kalau nanti aku ada acara, mama Mala juga harus memberiku gaun yang lebih bagus dari milik kakak ya..” rengek Aneisha.



“Nei, jangan begitu kamu ini ga sopan deh!” Tegas Aneska.



“Jangan memarahi adikmu seperti itu, dia berhak untuk meminta sesuatu kepada mama.” Ucap mama Mala.



Mendengar ucapan mama Mala yang membelanya, Aneisha segera memeluk tubuh mama Mala sambil menjulurkan lidahnya ke arah Aneska.



“Cih, jangan terlalu memanjakannya ma, dia akan semakin ngelunjak lama-kelamaan.” Ketus Aneska sambil menatap tajam ke arah adiknya itu.



“Sudahlah jangan berdebat, kamu sudah mandi Nes? Kalau sudah mama akan langsung mendandanimu.” Ucap mama Mala.



“Aneska sudah mandi kok ma, mama bisa langsung mendandani Aneska kok, jangan terlalu tebal ya ma Aneska ga suka kalau muka Aneska di penuhi oleh bedak.” Ucap Aneska yang di balas anggukan oleh mamanya.


__ADS_1


Akhirnya mama Mala segera mendandani Aneska dengan sepenuh hati, dia sangat senang karena bisa mendandani seorang putri yang memang sangat dia impikan sejak dulu.



“Mama senang sekali bisa mendandani kamu, impian mama sejak dulu adalah mendanani putri mama, dan sekarang semuanya sudah terwujud.” Ucap mama Mala.



“Bolehkah Aneska bertanya kepada mama?” tanya Aneska.



“Tentu saja! ada apa sayang?”



“Kenapa mama tidak memiliki anak lagi? Bukankah mama sangat menginginkan anak perempuan?” tanya Aneska yang membuat mama Mala menghentikan aktifitasnya.



“Ma, kenapa mama diam saja?” tanya Aneisha yang juga sama penasarannya dengan Aneska.



“Karena mama sudah tidak bisa hamil setelah melahirkan Elvan.” Ucap mama Mala.



Mendengar ucapan mama Mala membuat Aneska dan Aneisha terkejut, mereka berdua sangat merasa bersalah karena sudah bertanya hal yang tidak berguna.



“M-maaf ma, Aneska sudah menanyakan hal yang tidak-tidak.” Ucap Aneska.



“Tidak apa-apa sayang, kenapa kamu harus meminta maaf?” ucap mama Mala dengan ramah.



“Ma, mama tenang saja, Aneisha akan selalu jadi anak perempuan mama yang paling cantik di dunia ini.” ucap Aneisha sambil memeluk erat mama Mala.



“Iya ma, Aneisha benar, ada Aneska dan Aneisha yang akan selalu menjadi anak perempuan mama.” Sambung Aneska yang ikut memeluk mama Mala.



“Terimakasih sayang, mama akan selalu menyayangi kalian berdua sama seperti mama meyayangi anak kandung mama sendiri.” Ucap mama Mala sambil mencium kening Aneska dan Aneisha satu per satu.



Setelah semua selesai berpelukan, mama Mala segera melanjutkan untuk mendandani wajah Aneska.



“Jangan sampai menangis dan membuat riasan wajahmu luntur ya sayang.” ejek mama Mala.



“Mama bisa aja deh, walaupun luntur Aneska tetap cantik loh.” jawab Aneska.



“Ma, apa mama tidak lapar? Ayo kita makan saja, kak Aneska pasti bisa mengatasi sisanya.” Ajak Aneisha.



“Kamu bisa mengatasi sisanya Neska?” tanya mama Mala.



“Bisa ma, kan Cuma tinggal pakai lipstick dan ganti baju aja kok, mama turun aja sama Aneisha untuk menyiapkan makan malam, pasti papa Bagas dan kak Elvan sudah kelaparan.” Ucap Aneska.



“Baiklah kalau begitu, setelah selesai cepat turun ke bawah ya, kamu juga harus makan sebelum datang ke pesta itu.” Ucap mama Mala yang di balas anggukan oleh Aneska.

__ADS_1



Setelah memastikan Aneska bisa mengatasinya sendiri, akhirnya mama Mala keluar dari kamar Aneska bersama dengan Aneisha yang merangkul tangan kanan mama Mala dengan manja membuat Aneska tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya.


__ADS_2