
"Nah kan benar kataku, kalau kamu pasti bisa Aneisha." puji Jody saat mereka berdua sudah berada di ujung hutan.
Aneisha melihat ke arah depannya, dia benar-benar tidak menyangka jika dirinya berhasil melewati hutan yang selama ini sangat dia takuti.
"Aku berhasil Jo! Aku berhasil!!" teriak Aneisha sambil melompat-lompat kegirangan.
Jody yang melihat wajah Aneisha yang tertawa bahagia hanya bisa tersenyum tipis.
"Indah sekali.." gumam Jody yang masih bisa di dengar oleh Aneisha.
"Iya, indah sekali bukan pemandangannya Jo!" ucap Aneisha yang mengira jika Jody memuji pemandangannya.
Jody yang menyadari hal itu hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi ngomong-ngomong, aku ini jauh lebih tua darimu tau! Kenapa kamu manggil aku dengan namaku?" Tanya Jody sambil mengerutkan keningnya.
Mendengar hal itu membuat Aneisha sedikit terkejut dan langsung menutup mulutnya.
"Maaf, terus kamu mau aku panggil apa? Kakak? Mas? Abang? Oppa?" Tanya Aneisha.
"Oppa?! Kamu pikir aku setua itu kamu panggil oppa?" ketus Jody.
"Ih, oppa itu panggilan kakak dalam bahasa Korea tau.." Jelas Aneisha.
"Hah, aku tidak suka di panggil seperti itu karena tidak semua orang Indonesia mengerti bahasa Korea." ucap Jody.
Drrtt,, drrtt..
__ADS_1
Tiba-tiba saja hp Aneisha berdering hingga membuat keduanya terkejut bahkan Aneisha sampai melompat dan menginjak kaki Jody.
"Aw! Sakit Anei!" ucap Jody sambil mengangkat kaki yang di injak Aneisha tadi.
"M-maaf, aku kaget soalnya." ucap Aneisha.
"Bagaimana bisa kamu kaget mendengar suara hpmu sendiri." ucap Jody sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya kan suasananya lagi di hutan menegangkan,, bentar aku angkat dulu." ucap Aneisha yang mengambil hpnya di saku celananya.
Seketika wajah Aneisha yang awalnya terkejut langsung tersenyum saat membaca nama yang ada di layar hpnya.
"Halo kak Gavin.." ucap Aneisha dengan wajah cerianya.
Jody yang melihat perubahan sikap Aneisha langsung tau jika Aneisha sedang berbicara dengan seorang laki-laki.
"Apa!? Hutan? Kamu tersesat? Cepat kirim lokasimu saat ini biar aku menjemputmu!" ucap Gavin dengan nada panik.
Tentu saja itu sangat jelas karena suara teriakan Gavin sampai terdengar oleh Jody yang berada di sebelah Aneisha.
"Tidak kak aku tidak tersesat kok, aku lagi proses penyembuhan traumaku.. Aku sama kak Jody kok." ucap Aneisha.
"Jody? Siapa Jody?"
"Oh iya aku lupa bilang ya.. kak Jody itu anaknya CEO agensiku kak, dia di suruh untuk membantuku menyembuhkan traumaku." jelas Aneisha.
"Ah begitu,, apa aku tidak perlu kesana untuk menjemputmu?"
__ADS_1
"Tidak perlu kak, kak Gavin fokus saja dulu sama skripsinya nanti kalau ada waktu luang main ke rumah, papa dan mama sering bertanya tentangmu."
"Pasti Nei, kalau begitu sudah dulu ya bye.." ucap Gavin.
Setelah berpamitan Gavin langsung mematikan telfonnya. Sedangkan Aneisha langsung menaruh kembali hpnya di saku celananya.
"Ehem!" Gavin berdehem untuk membuat Aneisha melihat ke arahnya.
"Eh, maaf kak Jody.. Tadi ada telfon hehe." ucap Aneisha.
"Pertama jangan panggil aku kakak karena aku bukan kakakmu! Panggil aku mas saja!
Kedua aku tidak perduli walaupun kamu sedang menelfon!" ucap Jody.
"Mas? Oke, mas Jody.." ucap Aneisha.
"Aku tadi Di telfon kak Gavin, dia orang yang baik, tampan, aku sangat menyukainya!" ucap Aneisha.
"Aku tidak perduli." ucap Jody.
"Tapi aku tidak bisa menyatakan cintaku padanya, karena aku takut kalau pertemanan kita sejak kecil akan hancur jika suatu hari nanti kita putus." Aneisha terus saja berbicara walaupun Jody sudah mengatakan tidak perduli.
"Aku juga.." Belum saja Aneisha melanjutkan pembicaraannya tiba-tiba Jody sudah memotong.
"Stop!! Aku bilang aku tidak perduli Anei!" tegas Jody.
Aneisha yang mendengar ucapan Jody hanya bisa terkejut sampai kedua matanya berkaca-kaca sangking terkejutnya.
__ADS_1