
Bab 7
Di kampus Aneisha sedang duduk sambil mengerjakan tugas yang di berikan oleh dosennya dengan serius. Dia tidak tau jika ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
“Nei, dari tadi kamu di liatin tuh sama Aji.” Ucap Dewi, teman Aneisha.
Aji adalah teman sekelas Aneisha dan juga mahasiswa populer di kampusnya karena ketampanan dan kekayaan keluarganya, selain tampan dan kaya aji juga termasuk ke dalam kapten tim basket kampus dan ketua organisasi yang ada di kampusnya, tidak heran jika banyak sekali wanita yang mengaguminya kecuali Aneisha.
Aji menyukai Aneisha karena kecantikan dan kebaikannya, namun Aneisha tidak pernah memperdulikan perasaan Aji kepada dirinya. Menurut Aneisha, Aji hanyalah laki-laki yang selalu mengandalkan uang dari orang tuanya untuk berfoya-foya dan menyombongkan diri.
“Biarkan saja, dia kan punya mata aku juga ga bisa ngelarang dia buat ngeliat siapapun.” Ucap Aneisha yang tetap fokus dengan tugasnya.
“Nei, kamu tau kan kalo dia menyukaimu? Terus kenapa kamu tidak pernah memperhatikannya? Dia itu kurang apa coba, udah ganteng, baik, orang kaya lagi.” Ucap Dewi.
Aneisha akhirnya menaruh alat tulisnya dan menoleh ke arah Dewi.
“Dew, dengerin ya. Pertama, aku tidak menyukainya karena bagiku dia hanyalah orang yang mengandalkan uang orang tuanya untuk berfoya-foya dan menyombongkan kekayaannya. Kedua, kenapa dia menyukaiku? Dia menyukaiku karena dia merasa penasaran terhadapku, dia merasa hanya akulah wanita yang sama sekali tidak tertarik kepadanya.” Jelas Aneska.
“Apa dia memang seperti itu Nei? Sepertinya tidak deh, denger-denger dia itu bekerja sampingan di perusahaan orang tuanya loh.”
“Benarkah? Baguslah jika dia mau bekerja, paling jelek dia bekerja sebagai asisten atau sekertaris di perusahaannya sendiri.” Ucap Aneisha.
“Kamu ini Nei, ga baik loh kalo kita asal nuduh orang tanpa tau apapun tentang orang itu.” Ucap Dewi yang hanya di dengarkan oleh Aneisha tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Aneisha kembali mengerjakan tugasnya, sedangkan dewi yang melihat jika Aneisha tidak meresponnya hanya berdecak kesal.
Perkuliahan sudah selesai, Aneisha segera mengambil hpnya yang berada di tasnya dan menghubungi Gavin untuk bertemu di café biasanya.
“Halo kak Gavin, gimana? Aku udah pulang nih, mau langsung ketemu di café aja apa gimana?” tanya Aneisha di telfon.
“Tunggu di depan kampus ya Nei, aku akan menjemputmu.” Ucap Gavin.
“Baiklah kak, aku akan menunggu di depan kampus ya..” ucap Aneisha yang langsung mematikan telfonnya.
Gavin adalah senior Aneisha dan berkuliah di kampus yang sama dengan Aneisha, Gavin juga salah satu mahasiswa terpopuler di kampusnya, ada banyak wanita yang menyukainya dan mencoba untuk mendekatinya, namun Gavin selalu menolak mereka.
Ada banyak wanita yang iri terhadap Aneisha yang bisa dekat dengan Gavin, tidak sedikit juga wanita yang sudah mengetahui jika Aneisha dan Gavin sudah seperti adik dan kakak akan menitip salam dan hadiah untuk Gavin kepada Aneisha.
Aneisha menunggu Gavin di depan kampus sendirian di bawah terik sinar matahari, tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi wajah Aneisha agar tidak terkena terik matahari.
“Kak Gav,,,” ucap Aneisha sambil menoleh ke belakang.
__ADS_1
Aneisha terkejut karena orang yang menghalangi cahaya matahari itu bukanlah Gavin melainkan Aji yang sedang menahan tasnya untuk tetap berada di atas kepala Aneisha.
Dengan cepat Aneisha memalingkan wajahnya dengan malas sambil menepis tas yang menghalangi cahaya matahari.
“Kamu mau pulang ya Nei? Sama aku aja yuk.” Ajak Aji.
“Ga usah.” Ketus Aneisha.
“Kenapa Nei? Kenapa kamu selalu ketus kepadaku, emang salah aku sama kamu apa sih?”
“Kamu kayak gini aja udah salah ji, kamu tau ga sih ada berapa banyak wanita yang menatapku dengan tatapan sinis hanya karena tau jika kamu menyukaiku, tanpa mereka tau kalau aku tidak menyukaimu.” Jelas Aneisha.
“Aku memang menyukaimu Nei.”
Aneisha tersenyum sinis dan menatap Aji dengan tajam.
“Kamu tidak menyukaiku Aji, kamu hanya penasaran karena hanya aku wanita yang tidak tertarik denganmu sama sekali.” ucap Aneisha.
“Engga Nei, aku bener-bener suka sama kamu aku ga perduli kalau kamu tidak menyukaiku tapi aku tetap akan selalu menyukaimu Nei.”
Tidak lama kemudian Gavin datang menggunakan mobil sportnya dan berhenti tepat di depan Aneisha yang sedang berbicara dengan Aji.
Gavin segera turun dari mobil dan menghampiri Aneisha.
Aneisha menoleh ke arah Gavin dan tersenyum senang.
“Kakak..” ucap Aneisha.
Gavin tersenyum ke arah Aneisha dan mengalihkan pandangan ke arah Aji.
“Apa dia temanmu?” tanya Gavin.
“Iya, dia teman sekelasku kak. Sudahlah ayo kita pergi.” Ajak Aneisha sambil menarik tangan Gavin.
“Kakak kembali memakai mobil ini lagi?” tanya Aneisha yang baru masuk ked ala mobil.
“Hm, kasian dia ga pernah aku pakai Nei.”
Gavin dan kakaknya Kanaya sebenarnya adalah anak dari seorang pengusaha yang cukup berpengaruh, namun karena masalah di dalam keluarganya Kanaya dan Gavin memutuskan untuk menjalani hidup sendiri tanpa campur tangan orang tuanya.
Gavin melajukan mobilnya ke café yang sudah di rencanakan oleh mereka sejak awal yang berada di dekat kampus.
__ADS_1
“Yakin kita di sini aja Nei?” tanya Gavin.
“Iya kak, di sini aja soalnya biar ga jauh dari kampus aku takut tiba-tiba ada kuliah dadakan kak.” Ucap Aneisha.
“Baiklah ayo kita turun.” Ajak Gavin.
Gavin dan Aneisha masuk ke dalam café dan memilih tempat duduk di dekat jendela.
“Kamu mau pesan apa Nei?”
“Aku pesan roti bakar sama jus alpukat aja deh kak, tadi pagi aku udah makan soalnya.”
“Oke, sebentar ya aku pesan dulu.”
Gavin meninggalkan Aneisha di meja untuk memesan makanan mereka. Tidak lama kemudian, Gavin kembali ke mejanya.
“Oh iya, jadi gimana nih Nei? Kamu akan tetap tinggal di rumah itu?” tanya Gavin.
“Hm, om Bagas berencana untuk mengangkatku dan kak Anes menjadi anaknya kak.”
“Apa? Kenapa begitu?”
“Dia mau membantu kakak untuk merebut kembali perusahaan kami, dan dia juga melakukan ini karena sudah menganggap almarhum orang tuaku sebagai sahabat dekatnya.” Jelas Aneisha.
“Baguslah jika ada orang hebat yang akan membantu kalian, aku yakin kalian akan kembali menemukan kebahagiaan yang sudah di ambil oleh orang-orang jahat itu.” Ucap Gavin.
“Hm, aku harap juga begitu. Oh iya kak, apa kakak memiliki teman yang mempunyai info pekerjaan?” tanya Aneisha.
“Ha? untuk apa Nei? Jangan bilang kamu ingin bekerja.”
“Iya kak, aku ingin membantu kakak untuk mengumpulkan uang dan membeli rumah/apartment. Soalnya kak Anes tetap ingin pindah dari rumah itu suatu saat nanti.” Jelas Aneisha.
“Apa kakakmu tau jika kamu ingin bekerja?” tanya Gavin yang dijawab gelengan kepala oleh Aneisha.
“Apa kamu yakin bisa membagi waktumu untuk kuliah, sekolah modelling dan bekerja?” tanya Gavin kembali.
Aneisha mengangkat kedua bahunya, ia juga tidak tau apakah dia mampu untuk membagi waktu antara sekolah dan pekerjaannya.
“Kamu yakinkan dirimu terlebih dahulu baru di bicarakan lagi, tapi saranku kamu tidak usah bekerja. Aku yakin dengan kamu menjadi model dan mewujudkan cita-citamu saja sudah menjadi bantuan besar bagi kak Anes.” Ucap Gavin yang membuat Aneisha berfikir.
“Apa benar begitu? Kalau begitu aku harus fokus untuk menggapai cita-citaku dan menjadi model professional dan akan membuat kak Anes bangga memiliki adik sepertiku.” Ucap Aneisha penuh dengan semangat.
__ADS_1
“Begitu baru seperti Aneisha yang aku kenal dulu.” Batin Gavin sambil tersenyum melihat tingkah Aneisha.